BERITAKALTIM.CO – Sejumlah showroom mobil di Kalimantan Timur mengungkapkan berbagai hambatan dalam penjualan kendaraan, khususnya untuk segmen mobil Eropa.
Salah satunya adalah showroom mobil di jalan Ahmad Yani, Kota Samarinda. Pemilik showroom dari perusahaan CV Satria Motor, Kurniawan, menjelaskan, minat konsumen terhadap mobil Eropa masih tergolong rendah dibandingkan mobil Jepang maupun Korea.
Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang sudah terbentuk di persepsi pasar.
“Kalau di Kaltim ini, konsumen masih lebih memilih mobil yang praktis, murah perawatan, dan gampang dijual lagi. Mobil Eropa itu masih dianggap ribet,” ujarnya saat ditemui, Jumat (10/4/2026)
Lebih lanjut, salah satu hambatan utama adalah biaya perawatan yang dianggap tinggi. Mobil Eropa identik dengan harga suku cadang dan servis yang lebih mahal, sehingga membuat calon pembeli berpikir dua kali.
Selain itu, ketersediaan spare part dan bengkel juga menjadi persoalan, terutama di luar kota besar. Di daerah seperti Kalimantan Timur, jaringan layanan mobil Eropa belum seluas mobil Jepang.
“Kalau mobil Jepang, hampir di semua daerah ada bengkel dan spare part. Kalau mobil Eropa, kadang harus pesan dulu, bahkan inden,” jelasnya.
Menurutnya, faktor lain adalah harga beli yang relatif tinggi. Mobil Eropa umumnya berada di segmen premium, sehingga tidak semua kalangan mampu menjangkaunya.
Tak hanya itu, konsumsi bahan bakar yang dianggap lebih boros juga menjadi pertimbangan masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi, mobil irit menjadi pilihan utama.
Dari sisi pasar bekas, mobil Eropa juga menghadapi tantangan berupa nilai jual kembali yang cepat turun. Hal ini dipengaruhi oleh persepsi biaya perawatan tinggi dan risiko perbaikan yang lebih besar.
“Orang di sini biasanya mikir jangka panjang. Kalau mau dijual lagi, mobil Eropa harganya jatuh, jadi banyak yang mundur,” tambahnya
Kendati demikian, mobil Eropa tetap memiliki segmen tersendiri, terutama bagi kalangan menengah atas yang mengutamakan kenyamanan, performa, dan prestise.
Namun secara umum, kondisi pasar di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa faktor efisiensi, kemudahan perawatan, dan nilai jual kembali masih menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam membeli kendaraan.
SANDI | WONG
Comments are closed.