BERITAKALTIM.CO – Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur menyiapkan kawasan di Kecamatan Bengalon sebagai lokasi proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol, yakni bahan pembuat resin, campuran LPG, serat sintetis, cat, plastik, pelarut pembuatan obat, campuran parfum, dan lainnya.
“Ada investor asal China yang siap menanamkan modal sekitar Rp40 triliun untuk proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol. Sedangkan untuk lokasi industrinya sudah lama kami siapkan,” ujar Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Minggu.
Ia mengatakan bahwa pemda terus mendorong investasi yang tidak hanya bertumpu pada pengerukan sumber daya alam, tapi juga yang berdampak ganda bagi masyarakat mulai dari pembukaan lapangan kerja, penguatan ekonomi daerah, hingga peningkatan nilai tambah komoditas.
Perubahan arah kebijakan pemerintah pusat menjadi faktor utama yang membuat investasi hilirisasi kembali menemukan momentumnya, sehingga batu bara tidak melulu dipasarkan dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan guna mendukung transisi energi nasional.
“Sedangkan salah satu bentuk hilirisasi yang berkembang saat ini adalah gasifikasi batu bara menjadi metanol, atau dikonversi lagi menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG,” katanya.
Gasifikasi batu bara menjadi DME belakangan memang kerap disebut sebagai salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan impor LPG nasional.
Bagi daerah seperti Kutim yang masih bergantung pada tambang, hilirisasi batu bara bukan hanya soal industri, tapi merupakan perubahan lanskap dalam pengembangan ekonomi.
Perubahan pola ini penting karena aktivitas industri turunan diperkirakan mampu menciptakan mata rantai ekonomi baru yang lebih panjang dibanding penjualan batu bara mentah, yakni selain mempercepat pertumbuhan ekonomi juga untuk mengurangi kemiskinan.
Hilirisasi ini diproyeksi mampu memproduksi 1,8 juta ton metanol per tahun, dengan kebutuhan pasokan kisaran 6,5–7 Juta ton batu bara per tahun (tipe kalori batu bara rendah 3.400 – 4.200 kcal/kg)
Saat melantik sejumlah pejabat pimpinan tinggi pratama dan pejabat fungsional ahli utama di Pemkab Kutim pada Senin, 18 Mei ini, Ardiansyah juga mengatakan bahwa meski kehadiran investor sangat dibutuhkan, namun investasi yang masuk harus tetap dikendalikan.
“Seluruh investasi yang masuk harus berjalan sesuai ketentuan, memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberi manfaat bagi masyarakat, dan harus tetap menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya.
ANTARA | WONG
Comments are closed.