BERITAKALTIM.CO-SANGAT unik dan di luar nalar keberadaan onggokan “Meriam”, yang dikenal dengan sebutan “Meriam Markoni.” Nama meriam ini diambil sesuai kampung dan berada di puncak bukit, yaitu Markoni, Berada di ketinggian kurang lebih 200 meter dari atas permukaan laut.
Benda ini merupakan peninggalan Jepang (PD II), dan berada dalam wilayah administrasi Kelurahan Damai, Kecamatan Balikpapan Kota.
Perang Dunia II, menjadi latar belakang, adanya benda cagar budaya yang di awali degan penyerbuan pasukan Negeri Matahari (Jepang) ke Balikpapan. Masuk melalui jalur Utara Kalimantan Timur (Kaltim), yaitu Pulau Tarakan dan terus ke Balikpapan.
Penyerbuan tersebut dengan kemenangan Pasukan Sagaguchi (Jepang) di bawah Kekaisaran Hirohito, pada Tanggal 23 Januari 1942 atas Hindia Belanda di Balikpapan, yang menyebabkan pengalihan kekuasaan dari Belanda ke tangan Jepang.
Sejak Jepang menginjakkan kakinya di Balikpapan, menjadi tuan penguasa, dia mulai mendatangkan tenaga “Romusha” pekerja paksa, dari pulau Jawa. Pekerja tersebut datang secara bergelombang berjumlah belasan ribu, termasuk Jonggun Ianfhu” wanita penghibur” dan terbanyak dari Semarang.
Ternyata kekuasaan Jepang lebih sadis dari pemerintahan Kolonial Belanda, rakyat di paksa untuk bekerja dan tidak diberi makan hingga kelaparan.
Jepang mulai membangun yang diutamakan sarana pertanahan. Karena pertahanan sangat penting dengan mengerahkan seluruh tenaga Romusha, mulai menggali lubang, membuat terowongan, benteng pertahanan (Bungker), serta memasang sejumlah meriam, baik perbukitan maupun sepanjang pantai teluk Balikpapan.
Semua yang dibangun merupakan tempat perlindungan dan persembunyian serdadu Jepang.
Kala itu Jepang sedang menghadapi perang Asia Pasifik, di mana kebutuhan utama adalah bahan bakar. Oleh karena itulah Jepang ingin menguasai dan merebutnya secara militer, dari tangan penguasa Kolonial. Terutama ladang-ladang minyak di Kaltim, untuk memenuhi kebutuhan dalam Perang Asia Pasifik. Sehingga Ladang Minyak Balikpapan berhasil dikuasainya dari tangan Kolonial.
Dengan adanya Meriam Jepang, merupakan tanda bukti sejarah, bahkan menjadi benda cagar budaya, salah satunya diantaranya Meriam Markoni.
Meriam Markoni yang berada di lokasi perbukitan tersebut langsung menghadap ke arah Selat Makassar. Menurut masyarakat nelayan area perairan tersebut sebagai Zona Boy I, sebuah area lintasan kapal untuk melakukan manuver perputaran menuju arah Teluk Balikpapan.
Pendaratan Meriam biasanya menggunakan jenis kapal Landing Ship Tank, landing Chraft Tank dan Tank Amphibi. Fungsi meriam pantai adalah untuk menenggelamkan atau menghancurkan kapal pengangkut pasukan.
Termasuk menghanguskan tank amphibi sebelum mencapai pantai daratan. Meriam Markoni berlaras tunggal dengan diameter lubang di ujung meriam 15 centi meter, dan diameter ujung meriam 28 centi meter, panjang kurang lebih 7,25 Cm.
Juga terdapat pelindung meriam pada pangkalnya berukuran 2 meter, juga “Mount” sebagai penahan guncangan dari hentakan peluru, pada saat ditembakan dari laras meriam.
Ukuran laras panjang 2,3 meter dan lebar 2,1 meter serta terdapat tiang fondasi yang menjadi penahan dengan membujur ke utara-selatan, serta ada dua buah kayu ulin berukuran 50 Cm x 50 Cm x 6 meter, sebagai penahan dudukan plat pelindung meriam. Inilah sekilas tentang Meriam Markoni.#
Penulis: Muhammad Asran/pemerhati sejarah|Editor: Hoesin KH
Comments are closed.