BeritaKaltim.Co

17 Lokasi jadi Fokus Penanganan Stunting di Balikpapan

BERITAKALTIM.CO-Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan terus menunjukkan komitmennya dalam menekan angka stunting sebagai bagian dari prioritas pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Sejalan dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Pemkot Balikpapan meluncurkan program Gempur Stunting sebagai langkah kolaboratif dan menyentuh langsung ke masyarakat.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kota Balikpapan, dr. Andi Sri Juliarty, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 17 lokasi yang menjadi fokus penanganan stunting di Balikpapan. Berbagai program telah dilakukan di wilayah tersebut, termasuk edukasi kepada remaja putri untuk mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) sebagai upaya pencegahan jangka panjang.

“Penanganan stunting telah menjadi prioritas utama kami. Hari ini kita meluncurkan gerakan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, karena upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu gotong royong semua pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga masyarakat di tingkat paling dasar,” ungkap dr. Andi Sri Juliarty sapaan karib dr. Dio, saat peluncuran Gempur Stunting, di Taman Bekapai Balikpapan, pad hari Minggu, 25 Mei 2025.

Berdasarkan data, angka prevalensi stunting di Balikpapan sejak 2023 mencapai 21,6%. Meski lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi dan nasional, angka tersebut masih menjadi perhatian. Pada Oktober 2024, tercatat angka stunting naik menjadi 14,68% dari sebelumnya 13,8% di bulan September.

dr. Dio menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan pertumbuhan fisik, melainkan ancaman terhadap kualitas generasi masa depan. “Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dan berkurangnya daya saing di masa depan. Ini akan berdampak besar pada produktivitas bangsa,” ujarnya.

Dalam peluncuran Gempur Stunting, terdapat tiga langkah konkret yang dilakukan yakni penandatanganan MoU antara TP PKK dan Dinas Kesehatan, sebagai bentuk sinergi lintas sektor untuk memastikan program berjalan terarah dan berkelanjutan.

Kemudian, penetapan Ketua RT sebagai orang tua asuh balita stunting, sebagai bentuk kepedulian sosial di tingkat lingkungan dan pemberian paket sembako kepada ibu hamil dan balita, sebagai langkah awal pemenuhan gizi seimbang dalam 1.000 hari pertama kehidupan anak.

“Upaya menurunkan stunting harus didukung oleh data yang konsisten dan kerja lapangan yang berkelanjutan. Mari kita pastikan gerakan ini tidak hanya menjadi seremonial, tapi menjadi budaya baru—budaya peduli tumbuh kembang anak,” pungkasnya.

dr. Dio menyampaikan optimisme bahwa jika seluruh elemen bersatu, Balikpapan bisa menjadi kota bebas stunting, dengan anak-anak yang sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan. #

Reporter: Niken | Editor: Wong

Comments are closed.