KALAU hari ini kita bisa menempuh perjalanan darat dari Balikpapan ke Samarinda hanya dalam hitungan jam, maka ada sejarah panjang yang melatarbelakangi hadirnya Jalan Poros Balikpapan – Samarinda. Jalan sepanjang 115 kilometer ini bukan sekadar infrastruktur, tapi juga menyimpan kisah geopolitik, kerja sama internasional, dan perubahan zaman.
Di awal 1960-an, jalan poros ini populer disebut Jalan Rusia. Bukan tanpa alasan: pembangunan jalan ini adalah bagian dari Proyek Jalan Kalimantan (Projakal) yang dikerjakan oleh para teknisi Uni Soviet, di era Presiden Soekarno.
Teknisi Rusia kala itu terkenal ahli mengatasi medan sulit, termasuk tanah gambut. Mereka membawa armada truk tangguh seperti ZIL tipe 154K, 157K, 164K, mesin 6 silinder bertenaga 5555 cc, dengan setir kiri dan sistem engkol. Direksi ket proyek dibangun di Km 18 Karang Joang, Balikpapan, sedangkan kantor induk berada di Km 1.
Kunjungan Jenderal Nasution
Sebelum proyek dimulai, pada tahun 1961 Jenderal A.H. Nasution, yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Darat, datang langsung ke Km 18 Balikpapan. Ia tidak hanya meninjau lokasi transmigran asal Pulau Jawa, tapi juga berjalan kaki menyusuri hutan hingga Km 48 bersama para insinyur Rusia, didampingi Panglima Kodam VI Mulawarman Brigjen Suhario Padmodirjo.
Sayangnya, proyek besar ini tidak berjalan mulus. Setelah meletusnya G30S/PKI tahun 1965, hubungan Indonesia–Uni Soviet memburuk. Para insinyur Rusia ditarik pulang, dan pembangunan jalan poros pun terhenti. Baru setelah Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto berkuasa, proyek ini dilanjutkan kembali dan tuntas pada 1975.
Peresmian Tahun 1977
Meski selesai 1975, jalan ini baru diresmikan pada 20 Juli 1977 oleh Presiden Soeharto. Peresmiannya ditandai dengan penekanan tombol dan tanda tangan di atas porselen hitam, yang kemudian menjadi dasar berdirinya Tugu Projakal di Km 4,8 Balikpapan Utara (dekat Pasar Buton saat ini).
Sejak itu, perjalanan Balikpapan – Samarinda tak lagi harus lewat Handil dan menyusuri Sungai Mahakam menggunakan klotok. Jalan darat telah resmi menjadi jalur utama.
Dari Hutan Belantara ke Bukit Soeharto
Peresmian jalan juga beriringan dengan perhatian Presiden Soeharto terhadap kawasan hutan di sepanjang jalur. Kawasan yang dulunya hutan belantara kini dikenal sebagai Hutan Raya Bukit Soeharto, salah satu kawasan konservasi penting di Kaltim.
Kini, jalan poros ini dikenal dengan nama Jalan Soekarno Hatta, menghubungkan dua kota penting di Kalimantan Timur. Bagi banyak orang, jalan ini hanyalah infrastruktur. Namun bagi sejarah, ia adalah jejak persahabatan Indonesia–Uni Soviet, saksi perubahan politik, dan bukti semangat pembangunan bangsa. #
Penulis: M Asran, Balikpapan
Comments are closed.