BeritaKaltim.Co

Perkuat Literasi Ekonomi Lewat Capacity Building 2025

BERITAKALTIM.CO- Bank Indonesia (BI) Balikpapan menegaskan pentingnya kemitraan dengan media dalam mendukung literasi ekonomi masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, dalam kegiatan Capacity Building Wartawan 2025 yang berlangsung di Solo, pada hari Selasa, 9 September 2025.

Kegiatan ini mengusung tema; “Menulis Ekonomi Berbasis Data dari Statistik ke Cerita Publik yang Bermanfaat”.

Menurut Robi, peran media sangat krusial untuk menyampaikan informasi yang valid, jelas, dan bermanfaat kepada publik. “Tugas pokok kami di daerah ada tiga, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga inflasi, dan menjadi advisor bagi pemerintah daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, BI secara rutin memberikan masukan kepada pemerintah daerah, khususnya terkait pengendalian inflasi pangan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selain itu, BI juga mendorong digitalisasi transaksi sebagai upaya memperbaiki tata kelola keuangan daerah.

“Semua aktivitas ekonomi daerah sebaiknya berbasis non-tunai, mulai dari retribusi pasar hingga parkir. Dengan non-tunai, penerimaan lebih transparan, tercatat, dan tepat waktu. Contohnya di Pasar Gede Solo, transaksi meningkat lima kali lipat setelah menggunakan QRIS,” jelas Robi.

Upaya digitalisasi tersebut, lanjutnya, juga tengah didorong di Balikpapan, Kabupaten Paser, dan Penajam Paser Utara agar bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dalam rangkaian kegiatan Capacity Building, BI menghadirkan dua narasumber untuk memperkuat kapasitas wartawan dalam menyajikan informasi ekonomi. Andi Muhyiddin membawakan materi Jurnalisme Visual dengan penekanan pada kekuatan visual storytelling untuk menyederhanakan informasi kompleks agar lebih mudah diakses audiens.

“Visual yang sederhana, data yang kuat, dan narasi yang kontekstual akan lebih menarik bagi pembaca yang kini terbiasa scrolling di media digital,” jelas Andi.

Ia menegaskan bahwa video dan konten visual kini menjadi kunci utama dalam menarik perhatian publik di era digital.

Sementara itu, Fahmi Achmad dari Bisnis Indonesia membawakan materi Critical Writing. Ia menekankan bahwa jurnalisme kritis bukan sekadar mengkritik, melainkan menyajikan informasi dengan analisis tajam, perspektif kuat, dan data akurat.

“Wartawan harus mampu memberikan nilai tambah, bukan hanya sekadar menyalin informasi. Tulisan yang reflektif dan analitis akan meningkatkan literasi publik, khususnya soal kebijakan ekonomi,” ujar Fahmi.

Melalui kegiatan ini, BI berharap sinergi dengan media semakin kuat sehingga wartawan dapat menjadi jembatan cerdas antara kebijakan dan masyarakat. #

Reporter: Niken | Editor: Wong

Comments are closed.