Oleh: Irma Ismail
SOSIALISASI Pendidikan Politik dengan tema “Pemuda Melek Politik, Indonesia Lebih Asyik” yang digelar oleh Badan Kesbangpol telah dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 2025 lalu. Tujuan dari acara tersebut adalah agar para pelajar bisa memahami bahwa politik bukan sekedar perebutan kekuasaan tapi juga tentang suara, partisipasi dan masa depan bangsa.
Acara serupa pernah juga dilaksanakan beberapa tahun lalu, dengan target pelajar. Hal ini menunjukkan keseriusan dari pemerintah mengingat dinamika politik yang terus berubah setiap waktu. Maka harapannya para pemuda ini paham apa itu politik.
Politik ala Demokrasi
Tidak bisa dihindari jika masyarakat apalagi pemuda melihat politik hanya di saat pemilu saja, dengan tujuan agar dapat kursi kekuasaan. Secara fakta, memang begitu yang ditangkap.
Sosialisasi oleh parpol yang ada menjelang pemilu lebih untuk mencari suara bagi calon yang akan di usung untuk menjadi anggota legislatif ataupun kepala daerah. Biasanya tak sedikit disuguhi dengan pentas rakyat atau panggung musik tak lupa janji-janji kampanye.
Masyarakat pun sudah hafal dengan janji-janji para kontestan pemilu karena setiap kampanye pasti ada. Perbaikan jalan, musholla, masjid, pendidikan gratis, kesehatan gratis dan lainnya.
Sayangnya ada cara-cara kotor menyertainya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa “suara” itu ada nilainya, di samping bagi-bagi kaos, sembako hingga serangan fajar berbau money politic. Masyarakat pun mafhum berapa dana yang akan dikeluarkan untuk bisa masuk di ajang pemilu.
Pemuda sekarang, lima tahun lalu masih belum tahu apa-apa kecuali adanya pesta rakyat dan hiburan di mana-mana, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang waktunya untuk mereka berpartisipasi pun sudah tiba. Dengan berpartisipasi diharapkan membawa kebaikan bagi bangsa dan negara. Akan tetapi rekaman jejak proses pemilu tidak bisa diabaikan.
Sistem kehidupan sekulerisme dan liberalisme telah mengukung para pemuda ini jauh dari makna politik sesungguhnya. Politik yang dibahas tak lepas dari suara kita yang bernilai saat pemilu, narasi menjaga demokrasi, janji-janji para kontestan, ricuh antar pendukung hingga debat tak berujung dari para kontestan. Setelah pemilu usai, maka ada dua kubu, koalisi dan oposisi yang seringnya menampilkan perdebatan panjang di ruang publik.
Semakin miris ketika para elit parpol merangkap jabatan menjadi pejabat atau ketika tersandung kasus korupsi yang merugikan negara dalam jumlah besar. Apalagi ketika suara anggota dewan tak sejalan dengan suara rakyat yang berteriak meminta keadilan. Inilah sederet PR besar bagi pemerintah untuk bisa membersihkan citra “politik” saat ini agar para pemuda tidak antipati pada politik.
Demikianlah jika standar dalam berpolitik hanya berbicara tentang kekuasaan saja. Berdasarkan KBBI, demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat atau yang dikenal dengan trias politica yang digagas oleh Mointesquieu seorang filsuf asal Perancis.
Gagasan ini muncul sebagai reaksi terhadap praktik kekuasaan absolut yang kerap memicu penindasan dan ketidakadilan. Terinspirasi oleh sistem pemerintahan Inggris pada zamannya, Montesquieu membagi kekuasaan negara menjadi tiga cabang utama: eksekutif (pelaksana undang-undang), legislatif (pembuat undang-undang), dan yudikatif atau kehakiman (pengawas pelaksanaan undang-undang).
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang menganut sistem pemerintahan demokrasi. Fakta tentang bagaimana sistem demokrasi sebenarnya cukup terpampang jelas karena hampir semua negara menganut sistem demokrasi, jika para pemudanya mau melihat untuk belajar dan mengamati.
Faktanya hal seperti ini ternyata tidak diminati kecuali hanya sedikit saja. Fakta lainnya lagi yang tidak bisa diabaikan bahwa berbagai permasalahan di dunia disebabkan oleh sistem sekuler kapitalis yang menjadi landasan berpikir dan berpijak sekarang ini. Landasan yang menjauhkan peran agama dalam memberikan solusi atas problematika yang ada. Agama dipakai ketika dibutuhkan saja.
Sistem yang bertumpu pada para kapital sehingga lebih dikenal dengan sistem kapitalisme. Sistem yang menjadikan materi mampu membuat berbagai kebijakan melalui wakil rakyat yang sudah disuport oleh para pemilik modal. Tak ayal penguasa dalam sistem ini hanya menjadi regulator bagi kepentingan para pemilik modal. Tercipta hubungan simbiosis mutualisme antara pemilik modal dan pemangku kebijakan.
Pemilik modal mendapat keuntungan kebijakan, dan penguasa mendapatkan dana kampanye serta dukungan. Meskipun hal itu berpotensi mengikis prinsip demokrasi yang mengutamakan kedaulatan rakyat dan kepentingan umum. Maka adanya sosialisasi tentang politik pada pemuda sesungguhnya adalah membajak potensi pemuda ke arah politik praktis yang jelas tidak membawa pada perubahan hakiki.
Saatnya Pemuda Paham Politik Sesungguhnya
Kondisi pemuda yang buta politik, acuh terhadap politik atau memahami politik yang salah harus segera diluruskan. Hal ini dikarenakan para pemuda adalah penerus keberlangsungan sebuah negara. Maka mendidik para pemuda dengan politik yang shahih harus segera diterapkan agar negara tidak kehilangan arah.
Dalam Islam, politik adalah mengatur dan mengurus kehidupan manusia (as-siyásah hiya ri’âyah asy-syu’un) dengan syariat Islam. Mengapa Islam? Karena hanya Islam, agama yang tidak hanya mengajarkan tentang ibadah tetap juga bagaimana memberikan berbagai solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Dari ekonomi, pergaulan, sosial, politik hingga bernegara.
Dari sini jelas bahwa definisi politik dalam Islam berbeda dari pandangan umum partai politik konvensional saat ini yang berfokus pada pemenangan pemilu atau partisipasi dalam sistem demokrasi liberal. Maka perlu adanya kesadaran pemuda atau penyadaran pemuda untuk memahami arti politik yang shahih, tidak terlepas dari ajaran Islam agar kelak mampu memahami berbagai realita persoalan dan solusinya dalam Islam.
Bukankah Allah Ta’ala berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110).
Umat terbaik, pemuda terbaik memahami politik dengan melihat siroh Rasulullah Saw, bukan sebatas kisah sejarah kehidupan pribadi Rasul saja akan tetapi bagaimana Islam disebarkan hingga ke seluruh dunia kalau tidak melalui aktivitas politik? Ya aktivitas yang dilakukan oleh negara saat itu yaitu Daulah Khilafah Islamiyah.
Maka menjadi jelas memahami politik dengan benar akan menghantarkan para pemuda ini menjadi pemuda penggerak peradaban, pemuda yang akan menjaga Islam dengan syariatnya. Pemuda yang senantiasa rindu akan diterapkannya Islam secara kaffah dan pemuda yang membangun peradaban Islam di muka bumi. #
*) Penulis : Irma Ismail, Aktivis Muslimah Peduli Generasi, tinggal di Balikpapan
Comments are closed.