BeritaKaltim.Co

Polisi Bacok Polisi di Gorontalo

BERITAKALTIM.CO  – Peristiwa memilukan kembali mencoreng wajah institusi kepolisian. Insiden polisi bacok polisi yang terjadi di sebuah tempat hiburan malam di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, bukan sekadar kasus penganiayaan biasa. Ia adalah cermin buram tentang bagaimana aparat yang seharusnya menjadi teladan justru terjerumus dalam perilaku yang bertolak belakang dengan kode etik profesinya.

Peristiwa itu terjadi Minggu dini hari. Dua anggota Polres Pohuwato, Aipda S dan Bripka I, diduga tengah mengonsumsi minuman beralkohol di sebuah tempat hiburan malam. Dalam suasana mabuk, adu mulut pun tak terhindarkan. Amarah yang tak terkendali membuat Aipda S mengambil sebilah parang dari mobilnya dan menyerang rekan seprofesinya. Bripka I bersimbah darah, hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Gorontalo.

Kini, kondisi Bripka I dikabarkan mulai membaik. Sementara Aipda S sudah diamankan di bagian Propam Polres Pohuwato untuk menjalani proses hukum. Kabid Propam Polda Gorontalo, Kombes Pol Afri Darmawan, menegaskan bahwa pihaknya akan menjatuhkan sanksi berat. Tidak hanya sanksi etik, tetapi juga pidana menanti pelaku.

Namun, sorotan publik tak berhenti pada siapa pelaku dan bagaimana hukuman dijatuhkan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana mungkin aparat yang dilatih untuk menjaga keamanan justru abai terhadap norma-norma dasar profesi mereka?

Menurut Afri Darmawan, kedua anggota tersebut telah melanggar kode etik Polri sejak awal, karena mengunjungi tempat hiburan malam dan mengonsumsi minuman beralkohol. “Keduanya tetap akan diberikan sanksi sesuai peraturan yang berlaku,” tegasnya.

Kasus ini sekaligus menjadi alarm peringatan bagi seluruh jajaran Polri di Gorontalo. Perilaku segelintir oknum bisa mencoreng citra lembaga secara keseluruhan. Publik tentu berharap, proses hukum berjalan transparan, tegas, dan tidak ada kompromi.

Di balik insiden ini, ada pesan yang tak kalah penting: integritas aparat penegak hukum tidak hanya diuji di ruang sidang atau di lapangan saat bertugas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Setiap langkah, sikap, dan pilihan pribadi seorang polisi akan selalu dipantau, karena mereka adalah wajah negara di mata rakyat.

Kasus “polisi bacok polisi” ini bisa jadi akan tercatat dalam sejarah panjang dinamika kepolisian Indonesia. Bukan untuk dikenang, melainkan sebagai pelajaran berharga bahwa reformasi mental dan pengawasan internal harus terus diperkuat.

ANTARA | Wong

Comments are closed.