BeritaKaltim.Co

Menkeu Purbaya: Penempatan Dana Rp200 Triliun di Bank Himbara Bisa Dongkrak Pertumbuhan Kredit Hingga Dua Digit

BERITAKALTIM.CO — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan menjadi stimulus kuat bagi sektor perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit hingga mencapai dua digit.

Optimisme itu disampaikan Purbaya menanggapi data Bank Indonesia (BI) yang mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada September 2025 mencapai 7,7 persen, naik tipis dari bulan sebelumnya yang tumbuh 7,56 persen.

“Mungkin September belum full impact dari uang itu (dana Rp200 triliun). Tapi kalau dari individual bank, kenaikannya sudah terlihat. Kalau dari 6 persen ke 7 persen itu sudah indikasi membaik. Kalau dampaknya sudah penuh, kreditnya bisa mendekati double digit nanti,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (21/10).

Menurut Purbaya, dana sebesar Rp200 triliun yang bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ditempatkan di bank Himbara dengan tujuan memperkuat likuiditas perbankan dan mempercepat penyaluran kredit ke sektor riil.

Ia menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional, terutama di tengah dinamika global dan ketidakpastian pasar.

“Harapan saya dengan uang Rp200 triliun tadi, pertumbuhannya makin kencang sehingga ekonominya juga makin kencang. Kita akan monitor terus, kalau kurang, kita bisa tambah lagi dana dari sistem,” kata Menkeu.

Distribusi Dana di Lima Bank Himbara

Pemerintah menyalurkan dana Rp200 triliun itu ke lima bank Himbara, yakni:

  • Bank Mandiri: Rp55 triliun

  • Bank BRI: Rp55 triliun

  • Bank BNI: Rp55 triliun

  • Bank BTN: Rp25 triliun

  • Bank Syariah Indonesia (BSI): Rp10 triliun

Penempatan dana tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat posisi likuiditas bank-bank pelat merah, tetapi juga mempercepat ekspansi kredit terutama ke sektor produktif seperti UMKM, infrastruktur, dan industri prioritas nasional.

Purbaya mengakui bahwa pertumbuhan kredit perbankan sepanjang kuartal ketiga tahun ini masih tergolong moderat. Salah satu penyebabnya adalah ketidakstabilan ekonomi akibat aksi demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Namun, ia optimistis kondisi akan membaik pada triwulan IV/2025 seiring meningkatnya kepercayaan bisnis dan membaiknya penyerapan kredit di berbagai sektor.

“Masih ada waktu di triwulan IV untuk melihat perkembangan. Dengan dukungan likuiditas yang kuat, kredit bisa meningkat signifikan, dan ekonomi akan tumbuh lebih cepat,” tegasnya.

ANTARA | WONG

Comments are closed.