BERITAKALTIM.CO — Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyoroti masih rendahnya angka deteksi dini HIV di wilayah tersebut. Padahal, sosialisasi dan layanan pemeriksaan telah dilakukan secara rutin di berbagai fasilitas kesehatan. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius dalam upaya memutus rantai penularan HIV/AIDS.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus HIV baru diketahui ketika pasien sudah berada pada tahap infeksi lanjut. Hal ini menyebabkan tren kasus sulit ditekan.
“Kasus HIV ini ibarat gunung es, yang terlihat hanya sebagian kecil. Banyak yang belum terdeteksi,” ujar Sumarno.
Untuk memperkuat pencegahan, Dinkes Kutim menyiapkan program pre-exposure prophylaxis (PrEP)—metode perlindungan bagi masyarakat berisiko tinggi namun belum terinfeksi HIV. Tahun 2025 difokuskan untuk pelatihan tenaga pelaksana, sementara program PrEP akan mulai dijalankan pada tahun berikutnya.
“Tahun ini kami fokus pada pelatihan tenaga pelaksana. Tahun depan PrEP baru bisa dijalankan,” jelas Sumarno.
Obat PrEP diperuntukkan bagi individu dengan risiko tinggi, seperti pasangan dari orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pekerja seks, serta kelompok dengan perilaku seksual berisiko. Namun penggunaannya harus disertai edukasi ketat dan pemeriksaan berkala.
“Tidak mudah meminta orang sehat minum obat setiap hari. Jadi edukasi dan pemahaman itu mutlak,” tegasnya.
Edukasi Sekolah dan Penguatan Layanan Lapangan
Selain menyiapkan PrEP, Dinkes Kutim memperluas jangkauan edukasi ke berbagai sekolah menengah. Hampir seluruh SMP dan SMA di Kutim telah menjadi sasaran penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS.
Hingga Oktober 2025, tercatat sekitar 100 orang menjalani pengobatan HIV. Data tersebut didominasi pasien lama, sementara potensi kasus baru diperkirakan lebih besar dari jumlah yang tercatat secara resmi.
Dinas Kesehatan juga menggandeng KPAD, komunitas pendamping, serta penyintas HIV untuk memperkuat pendampingan dan memastikan pasien rutin berobat.
Sumarno menegaskan bahwa penanganan HIV tidak hanya bergantung pada fasilitas medis, tetapi juga pada lingkungan sosial yang mendukung.
“Dukungan sosial sangat menentukan. Kalau pencegahannya kuat, penularannya bisa ditekan lebih awal,” ujarnya.
Pemkab Kutim berharap upaya edukasi, pendampingan, serta persiapan implementasi PrEP dapat menekan angka kasus baru dan meningkatkan deteksi dini secara signifikan.
IMAMIR | WONG | ADV
Comments are closed.