BERITAKALTIM.CO-Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi keamanan di Iran sebelum memutuskan langkah evakuasi terhadap warga negara Indonesia (WNI), menyusul gelombang demonstrasi besar yang melanda negara tersebut.
Menurut Sugiono, mayoritas WNI di Iran merupakan pelajar yang bermukim di Kota Qom dan Isfahan, dua wilayah yang sejauh ini tidak termasuk titik utama unjuk rasa.
“Kalau dilihat dari situasinya, WNI berada di kota-kota yang bukan titik demonstrasi besar. Kami akan terus melihat perkembangan di lapangan,” kata Sugiono usai menyampaikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Jakarta, Rabu.
Sugiono mengakui sempat terjadi kendala komunikasi dengan sebagian WNI di Iran. Namun, berdasarkan laporan terbaru dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran, sebagian besar WNI tidak terdampak langsung oleh kerusuhan yang terjadi.
Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Menlu RI telah menginstruksikan Duta Besar RI di Teheran untuk mempersiapkan langkah-langkah evakuasi apabila situasi memburuk.
“Saya sudah meminta Dubes kita di Teheran untuk menyiapkan langkah-langkah jika sewaktu-waktu evakuasi perlu dilakukan,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri juga mengimbau seluruh WNI di Iran untuk selalu waspada, memantau perkembangan keamanan, dan menghindari lokasi-lokasi yang menjadi pusat demonstrasi.
Dalam keterangan tertulis Kemlu RI pada Senin (12/1), KBRI Teheran melaporkan bahwa kondisi keamanan WNI, khususnya di Qom dan Isfahan, relatif aman dan belum memerlukan langkah evakuasi.
Selain itu, WNI yang berencana melakukan perjalanan ke Iran diminta untuk menunda keberangkatan hingga situasi dinyatakan kondusif.
Iran sendiri tengah diguncang gelombang protes sejak 28 Desember yang bermula di Grand Bazaar Teheran dan menyebar ke berbagai kota. Aksi tersebut dipicu melemahnya nilai tukar rial serta memburuknya kondisi ekonomi.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai kerusuhan dan aksi terorisme. Sementara itu, lembaga pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat memperkirakan jumlah korban tewas telah melampaui 2.500 orang.
ANTARA|Wong|Ar
Comments are closed.