BERITAKALTIM.CO – Sejumlah akademisi dan pakar ekonomi energi di Bandung menilai proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau pengembangan kilang minyak nasional, merupakan strategi krusial menghentikan penguapan devisa, sekaligus memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dalam diskusi terkait swasembada energi di Bandung, Selasa, para pakar tersebut sepakat bahwa peningkatan kapasitas kilang dalam negeri, akan menciptakan efisiensi struktural yang berdampak langsung, pada keuangan masyarakat melalui stabilitas harga energi.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menjelaskan, selama ini Indonesia terjebak dalam sensitivitas harga pasar global karena keterbatasan cadangan penyangga dan kapasitas kilang, yang membuat harga BBM domestik sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
“Kalau dari sisi substitusi impor, tentu ini akan memperbesar ruang fiskal dan mengurangi ketergantungan kita pada impor. Itu jelas hal yang positif,” kata Yayan.
Ia menekankan bahwa RDMP yang tengah digarap Pertamina di Balikpapan, merupakan langkah awal untuk memperkecil celah fiskal tersebut. Namun, Yayan mengingatkan agar pengembangan ini tidak hanya terpusat pada satu titik.
“RDMP ini langkah awal yang baik menuju swasembada energi, tapi harus dipikirkan jangka panjangnya. Jangan berhenti di satu kilang saja, tapi harus mencakup seluruh Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, ekonom Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi menyebut proyek RDMP berpotensi menjadi warisan ekonomi penting dalam pemerintahan Prabowo Subianto saat ini.
Menurutnya, impor BBM adalah komponen utama yang sering kali “menguras” cadangan devisa nasional. Jika kebutuhan solar dapat dipenuhi sepenuhnya dari kilang domestik, maka permintaan valuta asing (valas) akan menurun secara signifikan.
“Impor BBM itu salah satu komponen yang sangat menguras devisa. Kalau impor bisa dikurangi, permintaan valas, khususnya dolar, akan turun dan itu berdampak besar pada stabilitas nilai tukar Rupiah,” ucap Acuviarta.
Dari perspektif keamanan, pengamat kebijakan publik Unpad Bonti Wiradinata menilai penguatan infrastruktur energi ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025.
Ia memperingatkan bahwa di tengah memanasnya geopolitik global, energi adalah fondasi pertahanan negara yang tidak boleh terfragmentasi.
“Energi itu salah satu pintu masuk kelemahan negara. Kalau energi terganggu, daya tahan negara juga ikut melemah,” kata Bonti.
Proyek RDMP di Balikpapan, saat ini telah berhasil memacu kapasitas pengolahan dari 260.000 barel menjadi 360.000 barel per hari. Peningkatan kapasitas sebesar 100.000 barel per hari ini menjadi kunci bagi target ambisius pemerintah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa keberadaan kilang ini merupakan tulang punggung untuk menghentikan ketergantungan pada solar luar negeri dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan beroperasinya kilang-kilang modern ini secara optimal, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meraih swasembada energi, tetapi juga memiliki fondasi ekonomi yang lebih tangguh terhadap guncangan eksternal.
ANTARA | WONG
Comments are closed.