BERITAKALTIM.CO – Pemerintah China menyambut baik bila Amerika Serikat benar-benar akan melanjutkan perundingan damai dengan Iran untuk menghentikan ketegangan di Timur Tengah.
“China menyambut baik semua upaya yang kondusif untuk mengakhiri konflik, dan memuji Pakistan karena telah menengahi gencatan senjata sementara AS-Iran dan peran mediasi yang adil dan seimbang,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (15/4).
Guo Jiakun menyebut prioritas utama untuk menghentikan perang adalah mencegah dengan segala cara terjadinya kembali pertempuran, mempertahankan momentum gencatan senjata yang tidak mudah dicapai, dan tetap berkomitmen pada cara-cara politik dan diplomatik dalam menyelesaikan perselisihan.
Saat bertemu dengan Putra Mahkota Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab pada Selasa (14/4), Guo Jiakun menyebut Presiden Xi Jinping menyampaikan empat poin usulan tentang menjaga dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
“Yaitu, tetap berkomitmen pada prinsip hidup berdampingan secara damai, prinsip kedaulatan nasional, prinsip supremasi hukum internasional, dan pendekatan yang seimbang terhadap pembangunan dan keamanan,” tambah Guo Jiakun.
Usulan tersebut, kata dia, mencerminkan posisi konsisten dan upaya aktif China dalam mempromosikan gencatan senjata dan perdamaian, serta menganjurkan dialog dalam menyelesaikan perbedaan.
“China siap untuk terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk berkontribusi pada pemulihan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah dan kawasan Teluk secepatnya,” tambah Guo Jiakun.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Pada Sabtu (11/4), Iran dan Amerika Serikat memulai pembicaraan di Islamabad setelah Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Teheran terkait gencatan senjata selama dua pekan.
Namun pada Minggu (12/4) pagi, Wapres Vance menyatakan bahwa Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan tersebut dan delegasi AS kembali tanpa hasil.
Menyusul gagalnya dialog, Trump menyampaikan bahwa AS akan mulai memblokade Selat Hormuz dan meminta Angkatan Laut AS mengejar dan mencegat kapal-kapal yang membayar untuk melewati selat tersebut.
Trump mengkonfirmasi bahwa blokade tersebut mulai berlaku pada Senin (13/4) pukul 14:00 GMT (21:00 WIB).
Namun kemudian pada Selasa (14/4), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa putaran berikutnya dari negosiasi antara Washington dan Teheran dapat berlangsung dalam dua hari ke depan di Pakistan.
Wakil Presiden AS JD Vance kemungkinan akan memimpin lagi delegasi AS dalam putaran kedua negosiasi dengan Iran apabila dilaksanakan nantinya.
Vance sendiri mengatakan Trump tidak ingin membuat “kesepakatan kecil”.
“Dia (Trump) ingin membuat kesepakatan besar dan pada dasarnya apa yang dia tawarkan kepada Iran sangat sederhana. Dia mengatakan bahwa ‘jika Iran bersedia bertindak seperti negara normal, maka kami bersedia memperlakukan Iran secara ekonomi seperti negara normal’. Trump tidak menginginkan kesepakatan kecil,” jelasnya.
ANTARA | WONG
Comments are closed.