BeritaKaltim.Co

Nilai Jual Tinggi, Bappeda Dorong Peternak Udang Budidaya Organik Terbarukan

BERITAKALTIM.CO- Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kaltim mendorong peternak udang untuk melakukan budidaya pemanfaatan tambak yang terbarukan atau Silvo Fishery.

Metode Silvo Fishery ini juga diakui menghasilkan udang-udang organik berkualitas. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Provinsi Kaltim, Saur Parsaroan, udang hasil budi daya ternaknya organik memiliki nilai jual ekspor yang tinggi.

“Nilai jualnya tinggi, terutama ke negara-negara luar seperti jepang dan amerika. Ciri khas khususnya adalah tidak menggunakan pakan tambahan, jadi memang dikita sekarang sudah gak laku lagi yang namanya metode semi intensive (teknologi kelas menengah),” ucap Saur saat diwawancarai, Selasa (20/10/2020).

Berlabel “Organic Shrimp”, Saur menjelaskan bahwa udang yang metode budidayanya alami ini memiliki nilai jual tinggi. Menurut catatan, tahun 2014 saja, Udang ini bisa dijual seharga Rp200.000 per kilo-nya ke Jepang.

Selain itu, Saur mengatakan, bahwa metode ternak tersebut juga turut membantu mengurangi gas emisi karbon dengan tidak memotong pohon Mangrove yang saat ini mendominasi pesisir pantai Kalimantan. Sebab, melalui perhitungan yang dilakukan pihaknya dari tahun 2006-2016, tiap tahunnya sebanyak 100 Ribu hektar lahan hutan di Kaltim berkurang.

“Dan sekarang ada sekitar 8,5 Juta Hektar (total lahan hutan mangrove),” ungkapya.

Oleh sebab itu, Saur mengatakan, pihaknya terus mendorong aktivitas ekonomi yang terbaharukan seperti penggunaan lahan-lahan yang non degradatif. Ia menghimbau kepada para pengusaha atau peternak udang lokal yang ingin membuka lahan agar mengurangi aktivitas tebang pohon. Khususnya di daerah-daerah yang termasuk dalam kategori lahan kritis atau terbuka.

“Lahan itu bisa dirubah jadi areal yang memiliki nilai konservasi tinggi,” sambungnya.

Hal ini diakui awalnya terkesan rumit bagi sebagian orang. Namun, ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud untuk mempersulit mata pencaharian. Melainkan agar tingkat hutan yang sudah terdegradasi di Kaltim menurun setiap tahunnya.

“Jadi upaya-upaya seperti itulah yang kita lakukan agar masyarakat juga memiliki alternatif di dalam mencari penghidupan,” pungkas Saur. #

Wartawan: Sam

Comments are closed.