Opini: SUNARTO SASTROWARDOJO, Direktur Rusa Foundation Indonesia
ALFRED BERNHARD NOBEL, penemu dinamit asal Swedia ini lahir 21 Oktober 1833 dia adalah insinyur kimiawan, dan pebisnis. Dalam surat wasiatnya, dia meminta agar keluarganya mengadakan penganugerahan Nobel, sebuah penghargaan kelas dunia bagi enam bidang. Di antaranya Sastra. Dia wafat dalam usia 63 tahun pada 10 Desember 1896.
Sully Prudhomme, berkebangsaan Perancis peraih Nobel Sastra pertama di tahun 1901. Catatan menarik atas Sully adalah pro dan kontra ketika keluarga Alfred menganugerahkan Nobel kepadanya. Bahkan disebut sebut karyanya mulai dibaca orang setelah dia menyandang peraih Nobel sastra. Sully memberikan bukti idealisme tinggi dan kesempurnaan artistik atas karya dan bukti kualitas hati dan pikiran. Dialah, menurut Nobel, merupakan manusia konsisten sepanjang hidupnya.
Tiga tahun setelah Sully, Frederic Mistral juga orang Perancis, lahir 8 September 1830 meraih Nobel pula. Selain sastrawan, dia juga ahli filologi, ahli sejarah tertulis. Pada tahun 1915 Romain Rollad, juga sastrawan Perancis, meraih Nobel dengan karya utamanya Jean Cristhope.
Lagi pada tahun 1921 Anatole France (16 April 1844 – 12 Oktober 1924) penulis dan salah satu tokoh utama sastra Perancing akhir abad 19. Dia dikenal sebagai kritikus urban dan digelari sebagai perencana kota yang unik. Dia juga dikenal sebagai tokoh skeptitisme Perancis yang kemudian bermusuhan dengan kaum borju. Pada tahun 1920 tulisan tulisannya terdaftar di indeks buku terlarang Gereja Katolik Roma.
Henri Bergson, professor Universitas Paris, merupakan salah seorang tokoh aliran intuisionisme. Ia menjadikan intuisi sebagai salah satu ketrampilan berfikir tingkat tinggi bagi manusia. Menurut dia, indra dan akal sama-sama memiliki keterbatasan dan kekurangan, sehingga pengetahuan yang lengkap hanya dapat diperoleh dengan adanya intuisi.
Lalu pada tahun 1933, Ivan Bunin, sastrawan Perancis kelahiran Rusia. Karyanya berupa puisi, novel dan cerpen yang mengikuti tradisi Rusia klasik dalam penulisan prosa membuatnya sebagai peraih Nobel ke 6 untuk Perancis.
Andre Gide pada tahun 1947 meraih penghargaan Nobel ke tujuh berupa novel dan esai dianggap oleh panitia Nobel berperan sangat penting bagi kesenian Perancis. Lalu Farncois Mauriac, lima tahun kemudian juga memperoleh Nobel ke delapan kalinya untuk Perancis.
Delapan tahun kemudian Saint-John Perse, meraih Nobel ke sembilan untuk Perancis. Karyanya ini entah sengaja atau tidak merupakan karya evokatif bagi Nobel. Pada tahun 1964 Jean-Paul Sartre merupakan tokoh yang radikal dalam pemikiran-pemikiran eksistensialisme dan berkaitan dengan kebebasan manusia. Dia meyakini bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri dan tidak dibatasi oleh dunia mana pun, ialah eksistensialisme. Paul merupakan peraih Nobel ke sepuluh bagi Perancis, walaupun ditolaknya dan dia meninggal 15 April 1980 lalu. Pemakamannya, kabarnya dihadiri lebih dari 5.000 orang.
Jean-Marie Gustave Le Clézio adalah novelis Perancis. Ia telah menghasilkan lebih dari 30 karya sastra dan memperoleh Prix Renaudot pada 1963 serta penghargaan Nobel dalam karya sastra pada tahun 2008 bagi Perancis.
Pada tahun 2014, Patrick Modiano meraih penghargaan Nobel untuk Perancis, hasil karyanya dalam membangkitkan seni memori yang berkaitan dengan nasib dan kehidupan manusia yang dituangkan dalam bentuk novel.
Nah, tahun lalu, 2021 Abdulrazak Gurnah dari Tanzania memperoleh gelar tertinggi dari pekerja sastra itu. Tanzania di ujung Afrika sana, dan berdekatan dengan Uganda serta Kongo merupakan negara gabungan dari Tanganyika dan Zanzibar pada 26 April 1964.
Tanzania merupakan negara serikat. Negara yang memiliki danau terbesar di dunia dan masyarakatnya menganggap bahwa berpandangan mata secara langsung antara lawan jenis tidak sopan itu melahirkan sastrawan hebat dunia dan meraih penghargaan Nobel.
Jangan coba coba mencium makanan sebelum memakannya. Itu perbuatan tidak terpuji di sana. Penduduk Tanzania sebagian besar beragama Islam. Data tahun 2007 lebih dari 50 persen dari populasi daratan, Tanganyika adalah muslim. Bahkan 99 persen warga di Pulau Zanzibar muslim.
Entahlah apakah masud saya menuliskan ini dipahami oleh pembaca. Bahwa saya hanya ingin menyampaikan data terakhir tentang Tanzania mayoritas muslim, berpenduduk 59,73 juta pada tahun 2020 ini begitu istimewa di mata panitia Nobel sastra. Karya Abdurazak dinobatkan oleh Akademi Swedia sebagai penolakan kolonialisme di Afrika.
Sastrawan Pulau Zanzibar, Tanzania, ini dikenal sebagai penulis yang mengangkat isu identitas dan diskriminasi kaum imigran di Eropa. Hal ini tergambarkan dalam 10 novel yang ditulisnya sejak 1987 hingga 2020. Artinya Gurnah menyajikan konsistensi, istiqamah selama 33 tahun. Karya karya Gurnah menjadi panutan karena menampilkan realitas kehidupan yang digambarkan dalam tokoh fiksi. (Lestari Manggong, 2021).
Lalu, Denny Januar Ali, Ph.D Comparative Politics and Business dari Ohio University Amerika Serikat. Dia disejajarkan dengan Barrack Obama, masuk dalam 30 orang paling berpengaruh di dunia internet.
Sepuluh tahun terakhir saya mengenalnya, tapi dia tidak mengenal saya walaupun pernah membalas chating WhatsApp saya. Fenomena yang disajikan secara terstruktur dan bahkan terukur setidaknya pada kurun waktu satu dasawarsa ini membuat dunia bergetar, terutama di dunia sastra. Dia tercatat pula sebagai orang yang banyak membuat tradisi baru dan rekor di dunia akademik, politik, media sosial, sastra dan budaya di Indonesia.
Ini kutipan di Wikipedia. Puisi Esai. Puisi esai adalah perpaduan antara dua jenis pemikiran yaitu puisi dan esai gagasan mengenai puisi esai pertama kali dikemukakan oleh Denny Januar Ali dan secara kreatif diwujudkannya pada tahun 2012 melalui buku berjudul “Atas Nama Cinta” Sebuah karya tulis dapat disebut sebagai puisi esai apabila telah memenuhi empat kriteria, yaitu: sisi batin dan sisi kehidupan kemanusiaan tokoh utama tergambar dengan jelas, tata bahasanya indah dan mudah dipahami, pengalaman batin dan fakta sosial dikemukakan melalui catatan kaki dan menyajikan data dan fakta sosial yang mampu membuat pembaca memahami kondisi tokoh utama dalam cerita.
Perdebatan yang saya pahami adalah begini: Pertama puisi esai tidak menyembunyikan sesuatu dalam bait baitnya. Pembaca yang disodori diksi indah, harmoni kreatif dalam menulis puisi masih ditambah saksi ilmiah, yakni catatan kaki dan ini yang membuat pembaca nyaris satu persepsi ketika membaca Atas Nama Cinta.
Berbeda ketika membaca puisi. Mari kita namakan non esai. Puisi Non Esai. Kedua. Pembaca sesuai level pendidikannya bisa mempersepsikan Puisi Api Suci karya besar STA. Ada yang mempersepsikan Api Suci adalah semangat putra putri Indonesia yang tengah mencium aroma kemerdekaan di pertengahan tahun 1943.
Ada yang menterjemahkan Api Suci adalah pernyataan penyesalan lelaki yang merenggut kesucian perawan desa. Ada yang menyebut Api Suci adalah sarkasme politik di awal kemerdekaan dan rasa tertindasnya kaum proletar. Menyelesaikan masalah?
Ternyata tidak. Khalayak tak lagi punya kewenangan menafsirkan atau melacak suasana hati STA, situasi sosial dan politik saat ia menciptakan puisi itu dan tidak pernah tau sampai kapanpun. Puisi esai sanggup menghapus persepsi pembacanya, membatasi pemahaman dan pengertian dari nafas puisi esai. Ini yang saya maskud dengan kejujuran.
Saya tidak sedang mengatakan Puisi Non Esai tidak ilmiah, karena rasa yang dilampirkan dalam bait bait puisinya memang agung, indah bermakna bagi yang memiliki kemampuan untuk memahami maknanya. Persis seperti ketika saya membaca draft proposal tesis mahasiswa saya yang saya sebut miskin sitasi.
Salah?. Ternyata juga tidak, karena membaca puisi memang butuh nalar, hati dan rasa yang tidak pernah ada silabus untuk mendeskripsikan “rasa” itu. Ini kelebihan puisi sebelum kelahiran Puisi Esai. Coba bayangkan dalam perjalanan puisi esai sepuluh tahun ini, Tiga puluh empat film, yang semua skenarionya berdasarkan puisi, tepatnya puisi esai akan dibuat. Lalu 150 buku puisi esai bahkan dapat diakses melalui internet. Sastra Cyber?
Mana yang dikatagorikan sebagai sastra cyber. Sastra yang tidak dimuat di koran yang ditulis tanpa editing (saya juga ragu apakah puisi pantas diedit) karena ada rasa di bait bait puisi. Editor sehebat apa yang mampu meng-edit rasa, perasaan penulisnya. Apalagi penulisnya sudah melebur dalam fenomena sosial. Misalnya rela disebut sebagai gelandangan, jorok, berpakaian aneh, berfikir beda dan rela mati terkena TBC karena melupakan kewajiban makan lantaran membiarkan nalarnya mencari sesuatu untuk ditulisnya.
Lalu ke saya sedikit, ya. Saya berhenti menulis cerpen sejak tahun 90 an karena merasa pekerjaan itu sedang belajar menjadi Tuhan. Entahlah darimana datangnya “rasa” waktu itu. Padahal tahun 90 an adalah tahun tahun kritis dimana saya memulai memasuki hidup baru sebagai ayah dari anak pertama saya. Praktis membutuhkan biaya hidup yang tinggi dan menulis fiksi di berbagai majalah dan koran Jakarta merupakan penghasilan utama terbesar saya.
Seingat saya, Tabloid Mutiara membayar honor tulisan saya enam puluh ribu rupiah, Manitor, Hai, Gadis, Femina seratus ribu rupiah lebih. Majalah kumpulan Cerpen Anita seingat saya yang paling besar memberikan honor, yakni 175 ribu rupiah setiap judul cerpen yang dimuat.
Sementara gaji saya di Harian Memorandum, Surabaya adalah 400 ribu rupiah, setelah tiga tahun berhenti menulis atau awal tahun 1994 dan berkenalan dengan dunia jurnalistik. Oiya saya berhenti total menulis pada tahun 1990. Saya memulai belajar menulis cerpen sejak tahun 1973 ketika duduk di bangku SMP dan sekarang saya benar benar paham kalau saya hamba Tuhan dan tidak sedang belajar menjadi DIA.
Perancis, Tanzania adalah dua negara yang sangat berbeda dalam menerima Nobel Sastra. Indonesia. Pramoedya Ananta Toer, Denny Januar Ali. Nama terakhir adalah salah satu orang dengan jutaan harapan agar Nobel Sastra tahun ini ke Indonesia. Bukan untuk kebesaran Namanya, tapi menjelaskan posisi Indonesia dalam negosiasi kebudayaan. #ssastrowardojo@uwgm.ac.id
Comments are closed.