Dua Legislator ini Tanggapi Lumpuhnya Jalan Trans Kalimantan Akibat Banjir

BERITAKALTIM.CO- Jalur Trans Kalimantan ruas simpang Kajuq-SP 3 Damai daerah Kajuq, Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, mengalami banjir luar biasa. Anggota DPRD Kaltim dari daerah tersebut, Ekti Imanuel menyebut itu bencana pertama kali, sementara Veridiana Huraq Wang menuding ada peranan operasi perusahaan tambang yang tidak ramah lingkungan.

Jalan yang terendam banjir merupakan akses utama masyarakat dua kabupaten berdampingan, Kutai Barat dan Mahakam Ulu (Mahulu) melalui jalur darat. Jalan itu vital sekali untuk mengangkut kebutuhan logisitik masyarakat, baik hasil produksi maupun konsumsi warga.

Akibat hujan terus menerus di kawasan hulu Sungai Mahakam, banjir di jalur Trans Kalimantan melumpuhkan arus distribusi barang. Jika terlalu lama, dikuatirkan berdampak besar pada inflasi karena barang-barang mengalami kelangkaan dan akibatnya harganya menjadi lebih mahal.

“Banjir itu baru pertama ya,” ucap Ekti Imanuel, anggota DPRD Kaltim dari fraksi Gerindra, Kamis (22/9/2022).

Sementara Veridiana Huraq Wang yang juga berasal dari daerah pemilihan Kutai barat dan Mahakam Ulu, mengakui banjir terjadi disebabkan curah hujan yang cukup tinggi.

Namun dia menegaskan, kondisi banjir menjadi parah karena aktivitas perusahaan yang beroperasi disekitar jalan trans Kalimantan. Setidaknya ada tiga perusahaan yang dicatat Veridiana yang juga Ketua Komisi 3 DPRD Kaltim itu, yakni PT TCM, PT FKP, dan PT TSA.

Dari fakta-fakta itu DPRD Kaltim langsung bergerak cepat, mengundang para pihak untuk mencari solusi agar banjar tertangani dan jalur darat Trans Kalimantan pulih kembali.

“Dalam jangka waktu satu minggu, kami akan ke lapangan untuk mengecek keadaan jalan dan gorong-gorong itu,” tandas Veridiana.

Rapat dengar pendapat (RDP) menghadirkan juga perwakilan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim serta Dinas ESDM Kaltim.

“Ada gorong-gorong yang belum berfungsi maksimal, akibatnya memang menjadi banjir,” tegas Veridiana kepada Wartawan.

Dilanjutkannya bahwa untuk solusi jangka pendek, pihaknya mendorong pihak perusahaan agar mempercepat pekerjaan gorong-gorong.

Diameter gorong-gorong yang awalnya 1,5 meter, kini diperbesar menjadi 2,4 meter agar membantu penyaluran air semakin baik dan ke depan tidak kembali terjadi banjir yang serupa. #

arus barang ke pedalamanBerita legislatifdprd kaltim