Banyak Rumah di Kelurahan Bukit Biru Belum Bernomor

oleh -25 Dilihat
Robiyandi, Kepa Seksi Pemerintahan Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Foto: le/beritakaltim.co

BERITAKALTIM.CO- Problem kependudukan juga dialami Pemerintahan Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Yakni menyangkut penomoran rumah-rumah warga. Karena pertambahan bangunan-bangunan rumah seiring bertambahnya jumlah penduduk, berdampak ada rumah yang tidak bernomor.

“Ya, ini problem kami di pemerintahan kelurahan bukit biru. Kita sedang mendata rumah-rumah yang belum punya nomor itu,” ucap Robiyandi, Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, kepada Wartawan Beritakaltim yang menemui di kantornya, pekan lalu.

Awalnya, usulan penomoran rumah itu muncul dari Forum RT. Di Kelurahan Bukit Biru dengan jumlah penduduk 4.946 jiwa atau 1.116 KK (Kepala Keluarga), ada 24 RT dengan luas kawasan 3,2 Kilometer persegi.

Forum RT itu yang menyampaikan bahwa banyak warga mengeluhkan soal penomoran rumah ini. Padahal, penomoran rumah merupakan hal vital dalam hal komunkasi, baik melalui surat maupun pengantaran barang. Termasuk dalam hal pembuatan kartu keluarga dan KTP.

“Usulannya berawal dari wilayah 3, RT 15, 16, 17, 19 dan 20. Tapi kemudian kami selaku pemerintahan kelurahan menjadikan soal penomoran rumah ini sebagai program secara keseluruhan,” kata Robiyandi.

Dari soal penomoran rumah itu, pihak kelurahan juga mengkaji kemungkinan adanya penambahan nama-nama jalan. “Bahkan ada wacana mengubah nama jalan-jalan yang ada. Ya, sekalian dibenahi begitu,” ucapnya.

Diskusi dengan Wartawan Beritakaltim mengalir seputar nama-nama jalan yang ada Kelurahan Bukit Biru. Jika memungkinkan memang perlu ada perubahan nama-nama jalan, dengan nama-nama tokoh lokal saja. Misalnya dengan nama mantan-mantan Lurah atau nama-nama tokoh terkemuka yang ada di kampung itu.

“Itu sekedar wacana saja. Nanti terserah Pak Lurah dan tokoh-tokoh masyarakat saja,” kata Robi.

Sebelumnya, Robiyandi mengungkapkan 3 problem infrasttur di daerah itu. Setidaknya ada tiga usulan yang muncul melalui Musrenbang kecamatan. Usulan pertama, terkait dengan perbaikan jalan kampung. Yakni di RT 20, jalan yang semula sudah cor di sana kondisi rusak dan tidak nyaman dilalui.

“Yang pertama usulan perbaikan jalan rt 20 itu. Memang kondisinya rusak,” kata Robiyandi.

Masalah yang lain dan menjadi usulan kedua, mengenai jalan menuju pemakaman umum yang letaknya berada di atas bukit. Jalan menuju pemakaman yang tajam itu menyulitkan warga ketika membawa mayat dari keranda ke atas.

“Ini pernah kejadian Pak. Pembawa mayat terpeleset,” cerita Robiyandi.

Perbaikan jalan mendaki yang diperlukan itu hanya sekitar 20-30 meter. Pihak pemerintahan kelurahan juga sudah mengusulkan dan kemungkinan baru tahun depan bisa terealisir.

Sementara usulan ketiga adalah masukan dari RT 13. Yaitu terjadinya abrasi atau pengikisan tanah di badan jalan, sehingga berpotensi membuat rusak jalan cor yang ada di situ.

“Kondisi jalan cor sudah bagus. Tapi kiri kanan badan jalan itu terkikis air. Lama-lama ini menipis dan membuat jalan ambruk,” ujarnya. #

Wartawan: charle

No More Posts Available.

No more pages to load.