Delta Plus Masuk Indonesia, COVID Apa Lagi itu?

oleh -191 views

BERITAKALTIM.CO – Tingkatkan lagi kewaspadaan. Setelah delta, carian corona ganas lainnya sudah masuk Indonesia; delta plus. Dengan keganasan yang sama seperti delta, varian ini dalam banyak kasus terkini, tak menunjukkan gejala seperti layaknya penderita corona lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan beberapa varian Corona ‘ganas’ yang menyebar di seluruh dunia. Dari sekian jenis varian Corona yang ditemukan, WHO menggolongkan beberapa di antaranya sebagai variant of concern (VoC).

Varian dengan kategori ini artinya mendapat pengawasan yang ketat karena memiliki indikasi mutasi yang memengaruhi sifat penularan, kepekaan alat tes, keparahan gejala, hingga kemampuan virus menghindari sistem imunitas.

Dalam laman resmi WHO, varian yang digolongkan sebagai VoC adalah Alpha (B.117), Beta (B.1351), Gamma (P.1), dan Delta (B.1617.2).

Untuk varian Delta sendiri memiliki mutasi yang juga termasuk dalam kategori VoC yakni Delta Plus (AY.1). Varian Delta Plus yang memiliki kode B1617.2.1 atau AY.1 ditandai dengan adanya mutasi K417N. Mutasi itu ada pada protein spike virus Corona yang membantu virus masuk dan menginfeksi sel manusia.

Dilansir detikcom, Menurut Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Soumya Swaminathan, tanbahan istilah ‘Plus’ pada varian Delta Plus menandakan bahwa varian tersebut telah mengalami mutasi lebih lanjut. Mutasi yang ada pada varian Delta Plus ini juga ditemukan pada varian Beta (B.1351) dari Afrika Selatan dan Gamma (P.1) dari Brazil.

Di antara VoC yang diklasifikan WHO, tiga di antaranya sudah masuk ke Indonesia. Dikutip dari laman Balitbangkes RI, daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali adalah wilayah yang sudah melaporkan ketiga varian Corona berbahaya seperti varian Alpha, varian Delta, hingga varian Beta.

DKI Jakarta menjadi penyumbang kasus VoC terbanyak, didominasi varian Delta yaitu 296 kasus.

Ada total 966 kasus variant of concern (VoC) yang menyebar luas di Indonesia, dari Sumatera hingga Papua.

Untuk varian Delta Plus, mutasi dari varian Delta, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio mengatakan sudah ada tiga kasus varian yang tersebar di dua wilayah Indonesia.

“Sudah ada di Mamuju (Sulawesi Barat) dan Jambi,” demikian jelas Prof Amin.

Varian Delta Plus memiliki mutasi yang berbeda dibanding Varian Delta atau B1617.2, yakni pada protein K417N. Mutasi yang sama juga ditemukan dalam varian Beta (B1351) dan varian Gamma (P1).

Apakah lebih berbahaya? Professor imunologi dan virologi dari Institute of Medical Sciences, Banaras Hindu University, Sunit K Singh menyebut ada kemungkinan mutasi pada varian Delta Plus tersebut, yang juga ditemukan pada beberapa varian lain, membuat vaksin kurang memberikan perlindungan.

“Varian Beta dengan mutasi ini telah menunjukkan kemampuan untuk lolos dari antibodi yang diberikan oleh vaksinasi COVID, setidaknya sampai batas tertentu,” jelasnya.

Tidak ada gejala yang berbeda pada varian Delta Plus, umumnya mencakup gejala sebagai berikut Batuk, Diare, Demam, Sakit kepala, Ruam kulit, Perubahan warna pada jari tangan dan kaki, Nyeri dada dan Sesak napas. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.