Hakim Pengadilan Tinggi Ubah Hukuman Mati 3 “Mafia” Sabu Samarinda

oleh -985 views
Empat pelaku penyelundupan sabu 41 Kilogram saat disidang secara virtual di Pengadilan Negeri Samarinda. Foto: detakkaltim.com

BERITAKALTIM.CO- Masih ingat kasus penyelundupan 41 Kilogram sabu ke Samarinda. Empat pelaku divonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Samarinda. Namun setelah mereka mengajukan banding, tiga pelaku diantaranya dikabulkan diubah hukuman menjadi seumur hidup.

Tiga pelaku yang lolos dari hukuman mati itu adalah Tajidillah, Firman Kurniawan, dan Rudiansyah. Sedangkan satu anggota lagi, Aryanto Safutro, oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi tetap dihukum mati.

Informasi sudah terbitnya vonis Pengadilan Tinggi Kaltim muncul di website Mahkamah Agung (MA), Minggu (16/8/2020).

“Mengubah Putusan Pengadilan Negeri Samarinda tanggal 2 Juni 2020, Nomor 136/Pid.Sus/2020/PN Smr sekedar mengenai pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa, sehingga amarnya berbunyi sebagai berikut. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup,” ujar majelis atas terdakwa Firman Kurniawan.

Duduk sebagai ketua majelis Sucipto dengan anggota Hari Murti dan Purnomo Amin Tjahjo. Hukuman penjara seumur hidup juga diberikan kepada Tanjidillah dan Rudiansyah.

Majelis tinggi menyatakan penjatuhan pidana mati terhadap ketiga terdakwa terlalu berat dan tidak sesuai dengan rasa keadilan dan kepatutan. Oleh karenanya, kata majelis, perlu diubah dengan penjatuhan pidana yang proporsional mengingat bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan terdakwa bukanlah sebagai aktor intelektual dader in casu.

“Terdakwa hanya disuruh untuk mengambil dan atau mengantarkan Narkotika jenis sabu oleh Saksi Tanjidillah alias Tanco (terdakwa dalam perkara terpisah) dengan imbalan sebesar Rp 15 juta,” ujar majelis pada 14 Agustus 2020.

Kasus sabu itu menarik perhatian karena barang terlarang itu termasuk menjadi rekor penyelundupan sabu. Disebutkan penyelundupan, karena diduga dipasok dari luar Indonesia. Barang tersebut diketahui masuk dari Tarakan, Kalimantan Utara. Sabu 41 kg itu dikemas dalam peti kayu dan diantar menggunakan mobil double cabin.

Narkotika itu dibawa secara estafet. Dari Tarakan, barang haram tersebut dibawa ke Berau oleh Tanjidillah alias Tanco. Kemudian, dari Berau, dibawa lagi menuju Samarinda oleh Firman Kurniawan.

Rencananya, barang tersebut akan diterima oleh Aryanto Safutro di Samarinda. Aryanto meminta rekannya, Rudiansyah, menjemput barang tersebut setelah tiba di Samarinda.

Namun BNN (Badan Narkotika Nasional) Kaltim mencium adanya aliran pasokan sabu dalam jumlah besar tersebut. Petugas BNN kemudian berhasil membekuk mereka di tengah perjalanan menuju Samarinda pada September 2019. Tepatnya di Bengalon, Kutai Timur. Dari situ petugas kemudian melakukan pengejaran terhadap pelaku hingga keempatnya diamankan.

Pada 2 Juni 2020, PN Samarinda menjatuhkan hukuman mati kepada keempatnya. Sampai akhirnya mereka mengajukan banding dan permohonan 3 pelaku diterima PT Kaltim.

Bagaimana dengan Aryanto yang tetap dihukum mati?

Majelis Hakim PT Kaltim tetap menjatuhkan hukuman mati dengan alasan sudah tepat dan telah memenuhi rasa keadilan serta cukup menumbuhkan efek jera bagi masyarakat lainnya yang mempunyai niatan/melakukan peredaran Narkotika di wilayah Indonesia pada umumnya dan wilayah Kalimantan Timur khususnya.

“Maka majelis Hakim Pengadilan Tinggi berpendapat Putusan Pengadilan Negeri Samarinda, tanggal 2 Juni 2020, Nomor 137/Pid.Sus/2020/PN Smr. dapat dipertahankan, karenanya hukum harus dikuatkan,” ujar majelis tinggi dalam sidang pada 13 Agustus 2020. #le