Ini Penampakan Tersangka Kasus Berdarah Palaran: “Saya Terpaksa”

oleh -5.301 views
Tersangka Ardianson saat dihadirkan dalam pers rilis Mapolresta Samarinda, Rabu (14/4/2021).

BERITAKALTIM.CO- Inilah penampakan Ardianson, 52 tahun, setelah ditangkap tim kepolisian Mapolresta Samarinda. Pria yang tergolong tidak muda lagi itu harus mempertanggujawabkan perbuatannya, dalam kasus “tanah berdarah” di Desa Handil Bhakti Palaran, Samarinda. Dalam kasus katagori pembunuhan itu seorang tewas bernama Burhanuddin dan 6 lainnya mengalami luka-luka.

Ardianson mengenakan seragam khas tersangka berwarna oranye. Dia mengakui punya rasa penyesalan telah menghabisi warga Handil Bhakti bernama Burhanuddin dan juga melukai warga lainnya. Namun dia dengan jentelmen mengakui siap menerima hukuman atas perbuatannya.

“Saya melakukan ini pasti ada sebab. Penyesalan secara manusia pasti ada, tapi karena sudah terjadi ya harus dijalani. Biarlah hukum yang menilainya. Saya juga tidak menginginkan hal seperti ini, semua saya lakukan dalam keadaan terpaksa,” ujar Ardianson kepada awak media.

Tersangka Ardianson nampak sudah agak tenang ketika ditampilkan oleh Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman dalam acara jumpa pers, Rabu (14/4/2021). Kepada awak media dia tidak berusaha menyembunyikan wajahnya dari jepretan kamera.

Cerita Ardianson kepada polisi penyidik, seperti disampaikan Kapolres, bermula dari persoalan lahan antara Kelompok Tani Empang Jaya Swadiri dengan masyarakat sekitar Desa Handil Bakti. Warga Handil Bhakti mengklaim tanah yang digarap Ardianson dan kelompok taninya adalah milik mereka.

Pada hari kejadian, Sabtu (10/4/2021), seperti diceritakan tersangka Ardianson, berawal saat dia menerima informasi kalau kelompok warga menuju lokasi sawah dan kebun yang sedang digarap kelompok tani Ardianson dan kawan-kawan. Tidak hanya mendatangi, warga membakar pondok yang mereka bangun di tanah itu.

Emosi Ardianson meledak mendapat informasi tersebut. Waktu itu dia sedang berada di Jalam PM Noor, segera dia pulang ke rumah dan mengambil senjata laras panjang rakitan dan pelurunya. Senjata jenis penabur itu dibelinya 5 tahun lalu seharga Rp5 juta.

Meski jenis senjata rakitan, tapi mampu menembakkan peluru-peluru besi bulat dan melukai orang yang terkena. Buktinya, saat peristiwa itu. Ardinson berhasil membubarkan warga yang berada di tanah garapan kelompok tani.

Dengan senjata penabur, Ardianson mendatangi warga. Dia berusaha membubarkan, sehingga terjadi keributan karena warga melancarkan perlawanan. Bukti warga menyerangnya ditunjukkan Ardianson di mana lengannya terkena sabetan senjata tajam.

Diakuinya, setelah dia menembakkan peluru dari senjata penabur yang dibawanya, warga berlarian kucar-kacir. Hingga tersisa beberapa orang di lokasi dan menantang dirinya. Di lokasi masih ada Burhanuddin, kembali dia menembakkan peluru hingga membuat 3 orang terjatuh. Saat itulah perhatiannya tertuju kepada Burhanuddin dan kemudian membunuh menggunakan parang.

Kepada Wartawan Ardianson mengatakan, kelompok tani Empang Jaya Swadiri hanya menggarap lahan di situ. Mereka mengaku tidak pernah menyerobot lahan warga. Dia mempertanyakan warga yang mana sebagai pemilik lahan di situ, karena dia juga adalah warga Handil Bhakti.

Kapolresta Samarinda mengakui masih memperdalam kasus tersebut apakah ada tersangka lainnya. Namun pastinya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Ardinson, dia dikenakan pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP dengan asing-masing ancamannya 20 dan 15 tahun penjara. #

Wartawan: le