Kasus Ayah Perkosa Anak Kandung, Solidaritas Korban Bermunculan

oleh -1.957 views
Abraham Ingan dan kawan-kawan menemui Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman, Rabu (29/7/2020).

SAMARINDA, beritakaltim.co- Kasus pencabulan yang dialami seorang perempuan berusia 18 tahun oleh ayah kandungnya sendiri, “digiring” agar pelakunya diadili secara adat. Reaksi bermunculan, salah satunya dari Abrahan Ingan dan kawan-kawan. Mereka menghimpun sejumlah aktifis dan relawan menyuarakan Solidaritas untuk korban.

“Kami menolak adanya upaya pihak tertentu menggiring pelaku kasus pemerkosaan untuk diadili dengan hukum adat. Kami mensuport pihak kepolisian untuk mengadili seadil-adilnya kasus pencabulan seorang ayah terhadap anak kandungnya,” ucap Abraham Ingan kepada Wartawan, sesaat dia dan rombongan menemui Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman.

Abraham Ingan dan rekan-rekannya memberikan keterangan pers kasus pencabulan anak oleh ayah kandungnya.

Upaya penggiringan yang dimaksud Abrahan Ingan, yaitu adanya surat permohonan mirip petisi yang meminta Kapolresta Samarinda mempertemukan korban dengan ayahnya dan kemudian masalah tindak pidana itu diselesaikan secara hukum adat. Surat itu dengan kop Koalisi Ormas Daerah berisi tandatangan dari tokoh-tokoh organisasi kedaerahan di Kalimantan. Termasuk nama Syaharie Jaang sebagai Ketua PDKT (Persekutuan Dayak Kalimantan Timur). Namun Jaang yang juga Wali Kota Samarinda tidak membubuhkan tandatangannya.

Abrahan Ingan yang mengklaim mewakili keluarga korban perkosaan mendatangi ruang kerja Kapolres, Rabu (29/7/2020). Mereka juga menyerahkan surat dukungan agar pihak kepolisian menegakkan hukum dan menjerat pelaku dengan hukum yang berlaku. Surat dukungan mencantumkan setidaknya 23 nama yang mensuport ditegakkannya hukum dalam aksus pemerkosaan anak oleh ayah kandungnya.

Sementara Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman menerima surat petisi itu. Menurut Abraham Ingan, Kapolresta mengapresiasi suport dari masyarakat dalam penegakan hukum di Kota Samarinda.

Sebelumnya diberitakan, kasus pencabulan itu dilakukan tersangka Rud (44) terhadap anak kandungnya, sebanyak tiga kali. Perbuatan pertama sekitar dua minggu silam dan yang kedua serta ketiga pada hari Sabtu malam 25 Juli 2020.

Sebelum digarap sang ayah, seperti diakui oleh korban kepada polisi, dia dicekoki minuman keras sampai mabuk. Anak perempuan yang beranjak dewasa itu kemudian kabur dari pintu belakang rumah, hingga akhirnya diamankan oleh warga. Dari situ akhirnya terbongkar adanya kasus pencabulan tersebut.

Polisi sudah memiliki bukti-bukti dan juga keterangan saksi. Namun tersangka Rud yang merupakan tokoh organisasi kedaerahan itu tidak mengakuinya. Menurut Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Yuliansyah, polisi dengan bukti-bukti yang ada serta visum dokter terhadap korban, sudah cukup bukti sehingga menahan Rud yang memiliki gelar akademis doktor, sarjana hukum dan master hukum itu. #le