Konflik Warga Pembeliangan Nunukan dengan PT KHL Berbuntut Polisi Tahan 5 Orang

oleh -195 views
Konflik warga Pembeliangan Nunukan setelah memblokir jalan yang digunakan perusahaan. Warga mengklaim tanah itu miliknya.

BERITAKALTIM.CO- Pengacara Gusti Ardiansyah menyesalkan tindakan aparat kepolisian Nunukan menahan lima orang warga Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Usahanya untuk membebaskan kelima tersangka Jaya Budiono, Indra Lesnama, Ibrahim, Ridwansyah dan Alexander, tak membuahkan hasil.

Lima orang warga ditangkap Kepolisian Reskrim Resort Polres Nunukan, gara-gara kasus antara warga dengan perusahaan kelapa sawit PT KHL (Karangjoang Hijau Lestari) pada 21 Agustus 2020 lalu. Dimulai oleh warga melarang mobil pengangkut CPO (crude palm oil) perusahan PT. KHL melewati jalanan di depan kebun kelapa sawit yang diklaim milik seorang warga bernama Murba. Lokasinya terletak di Jalan Kalas RT01 Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Propinsi Kaltara.

Alasan Murba memblokir jalan yang diklaim berada di tanah miliknya, karena kecewa dengan perusahaan kelapa sawit PT KHL yang memberhentikan anak dan cucunya bekerja diperusahaan itu. Pemberhentian itu, menurut Murba, tidak melalui SP (Surat Peringatan).

Menurut cerita Murba, dia dan manajemen perusahaan awalnya punya kesepakatan. Karena perusahaan tidak ada akses jalan menuju gudang tempat penampungan CPO, maka perusahaan meminta kepada Murba untuk memberikan jalan itu. Dari perundingan itu muncul kesepakatan, Murba setuju asalkan anaknya bernama Jaya Budiono dan cucunya bernama Agung diterima kerja oleh PT KHL.

Dua orang keluarga Murba itu sudah 6 tahun bekerja, sementara jalan yang digunakan panjang 300 meter dan kebar 6 meter.

Masalah semakin kompleks, karena perusahaan mengadukan kepada pihak kepolisian. Hingga akhirnya petugas turun tangan dan menangkap 5 orang yang dianggap menutup jalan akses tersebut.

Video-video aksi yang dikirim kepada redaksi beritakaltim menunjukkan beberapa kejadian di lokasi pada 21 Agustus 2020 lalu. Keluarga Murba yang didukung warga setempat terlihat bernegosiasi dengan pihak kepolisian agar menjadi penengah dari konflik yang terjadi antara Murba dengan PT KHL.

“Kami sudah mengirim surat kepada Pak Kapolres agar bijak dalam kasus ini. Semestinya dilihat juga akar masalah penutupan jalan dan polisi menjadi penengah antara warga dan perusahaan yang berselisih paham,” ungkap Gusti.

Dia datang ke Mapolres Nunukan dan mengaku sudah berusaha menemui Kapolres Nunukan, tapi tidak berhasil. Pengacara menemui Wakapolres Kompol H Imam Muhadi, namun mendapat jawaban kalau keputusan ada di tangan Kapolres. #

Wartawan: Latif