Mengenang Birgaldo Sinaga dan Perjuangan Mengadvokasi Korban Bom di Gereja Samarinda

oleh -1.686 views
Birgaldo Sinaga dalam sebuah aktifitas sosial semasa hidupnya.

BERITAKALTIM.CO- Pegiat media sosial (medsos) Birgaldo Sinaga meninggal dunia setelah berjuang melawan virus Korona (COVID-19). Dia dimakamkan di Sei Temiang Batam, Sabtu (15/5/2021).

Birgaldo menghembuskan nafas terakhir pukul 06.00 WIB di RS Awal Bros Batam pada usia 46 tahun. Suasana duka terlihat saat pemakaman dengan protokol kesehatan. Jasad Birgaldo dimasukkan ke dalam peti yang dilapisi lagi plastik. Dalam video yang beredar terlihat istri Brigaldo Sinaga, Erni Sanusi, dan anak semata wayangnya, Katrine Sinaga, yang masih berusia 9 tahun.

Erni Sanusi tampak memeluk putrinya sembari menangis dan mengantarkan sampai ke liang lahat.

Sebelum meninggal dunia, Birgaldo Sinaga sempat membagikan cerita perjuangannya melawan COVID-19. Dia menyampaikan melalui akun Twitter dan Instagram pribadi Birgaldo sejak Rabu (12/5/2021).

Birgaldo mengatakan gejala yang dia alami saat dirawat karena COVID adalah demam tinggi selama 10 hari, lalu mual dan nyeri.

“Lama sy berpikir utk menulis ini. Hrskah sy beritahu keadaaan sy? Sdh 10 hari demam tinggi, mual, nyeri linu2, pusing & batuk parah dan akhirnya harus sy katakan sy positif kena Cov19,” tulis Brigaldo melalui akun Twitter-nya.

Dia meminta doa dari teman-teman agar dia mampu berjuang melawan virus COVID-19. Lalu, di akun Instagram-nya, Birgaldo Sinaga mengatakan kondisinya menurun serta mengaku merasa napasnya sesak dan batuk bercampur darah.

“Man teman seperjuangan.. Kondisi saya sedikit ngedrop. Nafas sesak. Batuk bercampur darah. Doakan yg terbaik ya.. Terimakasih. God bless you, Birgaldo Sinaga,” tulisnya lagi.

Birgaldo juga sempat meminta maaf kepada istri dan anaknya. Dia meminta maaf karena sering meninggalkan mereka. Tulisan ini adalah tulisan terakhir Birgaldo di Twitter dan Instagram.

I love you so much mami dan anakku Kathrine. Maafkan kalo papi selalu buat salah ya. Meninggalkan kalian selalu,” katanya. Birgaldo menambahkan emotion berupa hati dalam caption tersebut.

Birgaldo meninggal dunia pada hari ini. Selama hidupnya, Birgaldo dikenal sosok yang dekat dengan kegiatan kemanusiaan. Dia pernah mendampingi kasus bayi Tiara Debora Simanjorang (4 bulan), yang meninggal dunia karena diduga terlambat mendapatkan penanganan di RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat.

Dia juga berjuang mendampingi orangtua dan korban bom molotov di Gereja HKPB (Ouikumene) Sengkotek Loa Janan Ilir Samarinda. Peristiwa 13 November 2016 silam itu memakan korban Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (5), Trinity Hutahean (3), dan Anita Isabel Sihotang (2).

Intan dan Trinity mengalami luka bakar hampir di sekujur tubuh. Intan sendiri akhirnya meninggal dunia pada tanggal 14 Nopember 2016.

Birgaldo berjuang mengupayakan pengobatan bagi korban, terutama Triniti dan Alvaro yang memerlukan operasi penyembuhan dengan berobat sampai ke luar negeri. Perjuangan mengadvokasi pemerintah serta mengumpulkan donasi karena biaya operasi yang besar di dalam maupun di luar negeri.

Triniti bolak balik berobat ke negeri China, sedangkan Alvaro yang mengalami luka bakar 30 persen di area kepala, tangan, dan paha kanan, dibawa berobat ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Birgaldo adalah aktivis yang peduli terhadap penderitaan korban. Itu pula yang membuatnya begitu mendapat simpatik dari berbagai kalangan ketika meninggal. Denny Siregar salah seorang sahabatnya mencuit di twitter; Selamat jalan, bro Birgaldo Sinaga. Sakitmu sudah usai.. #

Wartawan: le