Pandemi Membuat Ekonomi Warga Desa Perjiwa Tenggarong Seberang Lesu

oleh -29 Dilihat
Kantor Desa Perjiwa, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai kartanegara. Foto: ridho/beritakaltim.co

BERITAKALTIM.CO- Kepala Desa Perjiwa, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Erik Nurwahyudi, mengaku masa pandemi covid-19 belum berakhir. Walaupun dari sisi kesehatan angka waega tertular sudah kecil, bahkan dibeberapa kawasan sudah zona hijau, tapi dampak yang ditinggalkan selama dua tahun masih terasa oleh warga.

“Terutama dari sisi perekonomian. Warga harus dibantu dengan BLT (bantuan langsung tunai-red),” ujarnya kepada wartawan Beritakaltim yang menemuinya di Kantor Desa Perjiwa Jalan Tanjung Gresik, Senin (16/5/2022).

Tahun 2022, APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) Perjiwa Rp2,1 Miliar. Namun alokasi peruntukkan sudah diatur, terutama terkait pemulihan ekonomi membantu warga yang kurang kemampuan.

Erik mengatakan, dari APBDes itu sudah diplot BLT sebesar Rp300.000 per warga yang terdaftar sebagai penerima BLT. Tahun ini jumlahnya ada 109 penerima BLT. Masing-masing mereka akan mendapatkan Rp3.600.000 per tahun.

“Itu sumber dananya dari APBDes. Yang diperoleh dari Dana Desa dan Anggaran Dana Desa,” kata Erik.

Dampak lainnya, diakui terjadinya kelesuan sektor produksi pertanian dan juga tambak. Lesunya perekonomian warga, membuat usaha-usaha warga Desa Perjiwa juga terganggu.

Di Desa itu ada sekitar 50 hektar pertanian sawah yang dikerjakan oleh satu organisasi Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) beranggotakan 5 kelompok tani. Satu kelompok tani ada sekitar 20 orang petani.

“Ya, ada seratusan petani di Desa Perjiwa ini. Selebihnya ada yang berkebun juga dan keramba,” ujarnya.

Dulu, hasil produksi sawah warga Perjiwa berupa gabah padi diolah ke tempat pengolahan RPU (rice processing unit) milik Perusda di daerah itu. Tapi, sekarang produksi pertanian dijual masing-masing warga ke tempat lainnya.

Khusus untuk bisnis keramba, produksi dari desa itu cukup besar karena ada sebanyak 250 kotak keramba yang memanfaatkan air Sungai Mahakam. Para petani keramba ini membuat keramba di tepi Sungai Mahakam dengan jenis-jenis ikan air tawar, seperti Nila dan ikan Mas.

“Untuk keramba ini pemodalnya dari warga luar Perjiwa. Mereka berusaha di sini,” ujarnya.

Dalam masa pemulihan ekonomi, pemerintahan desa yang dipimpin Erik mengaku berusaha agar sektor-sektor UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) bangkit kembali. Di desa itu ada usaha yang cukup menonjol, yakni produksi tempe dan tahu. Bahkan unit-unit usaha pembuatan penganan dari bahan kedele ini ada di tiga RT, yakni 1, 2 dan 5.

Desa Perjiwa luasnya sekitar 11.000 hektar dengan jumlah penduduk sekitar 1.700 jiwa. Di sana memiliki struktur pemerintahan level paling bawah, yakni 5 unit kelembagaan RT (Rukun Tetangga).

Selain produksi tempe dan tahu, ada juga warganya yang serius menggarap produksi roti, bolu dan kue-kue tradisional. Sementara anak-anak muda yang bergabung dalam Karang Taruna juga aktif berbisnis dengan menerima orderan sablon.

“Kami pemerintahan desa inginnya membantu sektor-sektor UMKM ini. Tapi APBDes sudah terplot ke keperluan lainnya. Mudah-mudahan tahun depan sudah tidak ada lagi covid dan ekonomi desa bergairah kembali,” ujarnya. #

Wartawan: Charle

No More Posts Available.

No more pages to load.