Penganiaya Perawat di Palembang Viral, Polisi Langsung Menangkap

oleh -1.554 views
Aksi penganiayaan perawat oleh JS di RS Siloam Palembang.

BERITAKALTIM.CO- Pria berkaus merah yang viral saat menganiaya seorang perawat Rumah Sakit Siloam Palembang diketahui berinitial JS. Polisi sudah menjemput dari rumahnya di kawasan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dan membawanya ke kantor polisi.

Penangkapan terhadap JS dilakukan Ps Kasat Reskrim Polrestabes Palembang Kompol Tri Wahyudi ditemani beberapa petugas kepolisian lainnya, Jumat (16/4/2021) malam. JS tidak lagi terlihat mengamuk seperti dalam video yang viral saat menganiya perawat bernama Christina Remauli (27)

Saat dijemput polisi JS terlihat pasrah dan menurut. Dia hanya meminta masuk ke rumah sebentar untuk mengganti baju, lalu keluar kembali dan mengikuti petunjuk petugas kepolisian yang membawanya ke kantor polisi di Palembang.

“Iya tersangka penganiayaan terhadap perawat RS Siloam Sriwijaya sudah kita tangkap di OKI,” kata Kompol Tri Wahyudi, Ps Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, malam itu.

Video penangkapan JS juga beredar di media sosial. Dalam video terlihat pelaku tak berkutik ketika melihat polisi sudah mengepung rumahnya.

“Barengan saja,” kata pelaku setelah diamankan dan akan dibawa polisi ke Polrestabes Palembang.

Aksi penganiayaan JS mendapat kecamaan netizen. Di media sosial muncul tagar #SavePerawatIndonesia dan menjadi trending topic. Simbol pita hitam dengan logo Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) juga menyertakan tagar #StopKekerasanTenagaKesehatan.

Tidak hanya digaungkan oleh sesama perawat, antar tenaga kesehatan tampak saling memberikan dukungan melalui tagar tersebut. Mulai dari bidan, hingga mahasiswa kedokteran.

“Dear mba perawat, stay strong we’re with you!” tulis seorang netizen yang mengaku mahasiswa kedokteran.

Dewan Pengurus Pusat PPNI melalui pernyataan persnya mengutuk keras penganiayaan tersebut dan memerintahkan jejaringnya untuk melakukan langkah hukum.

“PPNI melakukan pengawalan dan pendampingan perawat pada kasus ini agar sesuai dengan koridor hukum dan pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku,” tulis Harif Fadhillah, Ketua Umum PPNI.

Sementara isu yang menyebutkan pelaku penganiayaan seorang polisi, dibantah oleh Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri. Kapolda menegaskan pelaku bukan anggota Polri.

“Tidak betul (pelaku anggota Polri),” kata Irjen Eko. Menurutnya, pelaku itu hanya ngaku-ngaku sebagai anggota Polri.

Dalam video yang viral terlihat seorang pria datang berusaha melerai. Pria itu mengaku seorang polisi, namun akhirnya kena bentak juga oleh JS. Menurut Kapolda, anggota Polri yang ada di area kejadian justru mencegah pelaku melakukan penganiayaan. Anggota Polri tersebut merupakan keluarga pasien lain yang juga dirawat.

“Anggota Polri yang melerai dan melarang untuk melakukan aniaya,” ujarnya.

Pihak Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang menyesalkan aksi penganiayaan itu. Menurut Direktur Keperawatan Rumah Sakit Siloam Sriwijaya, Tata, perawat yang menjadi korban penganiayaan mengalami memar di perut dan wajah akibat kejadian itu.

“Kejadian penganiayaan ini semestinya tidak perlu terjadi. Kami, manajemen RS Siloam sangat menyesali perbuatan pelaku, karena kami sudah berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk pasien yang dirawat,” kata Tata.

Peristiwa itu, cerita Tata, terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Awalnya saat anak pelaku dirawat di ruangan rumah sakit tersebut. Karena sudah diperbolehkan pulang, perawat Christina mencabut selang infus.

“Dikarenakan pasien merupakan anak pelaku dan masih berusia dua tahun, sedang aktif-aktifnya, kita berhati-hati untuk mencabut selang infus,” imbuhnya.

Namun, sambung Tata, hal yang tak diinginkan terjadi. Saat itu ibu pasien menggendong pasien hingga tangan pasien mengeluarkan darah.

“Melihat itu, perawat kami langsung mengganti plester yang berdarah, sembari menghentikan darah di tangan pasien. Saat kejadian JS tidak berada di lokasi,” bebernya.
Amarah JS terjadi setelah dia datang dan menerima laporan soal pencabutan infus yang membuat tangan anaknya berdarah.

Direktur Utama RS Siloam Sriwijaya Bona Fernando meminta penganiaya perawatnya diusut dan ditindak tegas oleh polisi. Dia menyerahkan proses hukum terhadap pelaku kepada polisi.

“Siloam Hospitals telah menyerahkan kasus ini kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian kekerasan yang menimpa perawat kami, serta menindak pelaku kekerasan kepada perawat kami dengan tegas sesuai hukum yang berlaku,” ujar Bona dalam konferensi pers.

Bona menyesalkan perbuatan ayah dari pasien yang secara arogan menganiaya perawatnya. Bona mengatakan tindakan keluarga pasien menganiaya perawat tak dapat ditolerir.

“Siloam Hospitals menyesali tindakan kekerasan yang ditujukan kepada perawat kami di Siloam Sriwijaya. Kekerasan terhadap tenaga kesehatan adalah tindakan yang tidak dapat ditolerir,” tegas dia.

Ditemui usai konferensi pers, Bona menuturkan kondisi perawatnya berangsur pulih baik secara fisik ataupun trauma psikis. #

Wartawan: le