Potensi Ekspor Cangkang Kaltim 1,7 Ton belum Termanfaatkan

oleh -1.768 views
Acara sosialisasi potensi Cangkang Kaltim untuk diekspor.

BERITAKALTIM.CO- Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor melaksanakan forum Sosialisasi Mendukung Ekspor Cangkang Kelapa Sawit ke Pasar Global di Hotel Mercure, Kota Samarinda.

Dalam kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh perwakilan Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, Marlop Nainggolan, Kepala Disperindakop Provinsi Kaltim, Yadi Robyan Noor, Ketua Asosiasi Cangkang Sawit Indonesia (Apcasi), Diki Akhmar, dan Perwakilan Pemerintah jepang selaku salah satu eksportir cangkang sawit serta sejumlah stakeholder.

Ketua Apcasi, Diki Akhmar mendorong pemerintah agar memaksimalkan salah satu potensi Kalimantan Timur yakni Cangkang Kelapa sawit karena menyentuh langsung perekonomian masyarakat.

Dalam pemaparanya, Diki menguraikan bahwa Provinsi Kalimantan Timur memiliki segudang potensi sumber daya alam yang tidak hanya dijadikan komoditas lokal namun juga memiliki daya saing untuk ekspor, salah satunya yakni cangkang kelapa sawit.

Pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur sekitar 80 perusahaan serta memungkinkan memproduksi sekitar 60 ribu ton per bulan, namun hingga saat ini masih tergarap hanya 31.310 ton per bulan.

Diki menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi oleh pengusaha cangkang di Kaltim sangat beragam, antara lain tidak ada lokasi penumpukan dan pelabuhan muat yang resmi dengan kapasitas muat yang terbatas.

Kemudian infrastruktur yang belum memadai sehingga menjadikan biaya angkut truk lebih mahal dan memakan waktu houling lebih lama.

Masalah lain, penanganan cangkang di pabrik kelapa sawit masih dianggap seperti limbah, sementara perusahaan juga menjual sebagai komoditi, tidak semua instansi mengerti akan komoditi cangkang kelapa sawit.

Dari tantangan tersebut Diki Akhmar mengajukan sejumlah solusi antara lain melakukan transhipment dan rekomendasi izin muat di pelabuhan terdekat sumber dari sumber cangkang, perlu penanganan manajemen houling, perlu adanya sosialisasi penanganan limbah cangkang kelapa sawit secara baik dan benar dengan melibatkan masyarakat lokas seperti melalui Bumdes dan koperasi.

“Sentral bisnis di Kaltim masih belum menyebar secara merata masih tersentral di Samarinda. Untuk mencapai angka 50 ribu ton perbulan dan 600 ribu ton per tahun masih bisa,” urai Diki Akhmar, Minggu (11/4/2021).

Terkait dengan hadirnya perwakilan dari pemerintah Jepang, Diki menjelaskan bahwa hingga saat ini Jepang masih sangat membutuhkan cangkang kelapa sawit namun kontradiksi dengan aturan yang mereka ajukan seperti adanya sertifikat yang dinilai memberatkan dari sisi pengusaha Indonesia.

“Dia butuh banyak, tapi dia bikin susah aturan ke kita, harus pakai sertifikasi itu kan ngaco ya,” jelasnya.

Oleh karena itu pihaknya mendorong pemerintah untuk menolak sertifikasi tersebut. Menurut Diki harusnya pemerintah Indonesia memiliki kebijakan lain untuk ekspor.

“Hingga saat ini jepang harus mengikuti eropa karena komoditi jepang dijual ke eropa. Kalau dia tidak ngikutin eropa union akhirnya produknya dia bisa tidak tersalurkan,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan UMKM Kaltim, Yadi Robyan Noor mengatakan sangat berterima kasih kepada Kementrian Perdagangan dan pertemuan tersebut merupakan kali ke-3.

“Ini sangat istimewa, karena pertemuan kali ini membahas hal penting yakni satu komoditi kita yang belum kita olah dengan baik,” ucap Yadi.

Oleh karena itu pihaknya sangat mendukung langkah asosiasi, salah satunya dengan memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat khususnya terkait pajak ekspor yang dinilai terlalu tinggi.

“Yang jelas kami akan lakukan pertemuan secara spesifik dalam membahas masalah ini,” bebernya.

Hal yang sama diuraikan oleh perwakilan Kementerian Perdagangan, Marlop Nainggolan dengan menegaskan bahwa Kaltim memilki potensi cangkang yang luar biasa.

Pihaknya melihat potensi ekspor cangkang kelapa sawit yang cukup besar. Salah satu negara yang jadi tujuannya yakni Jepang dan hingga saat ini sudah sekitar 9 juta ton yang bisa mereka serap.

“Kami kira Kaltim bisa memberikan kontribusi yang cukup besar untuk cangkang sawit,” ungkapnya.

Namun demikian Nainggolan menyebutkan salah satu masalah yang masih terjadi yakni minimnya kontribusi Kaltim dalam mengekspor cangkang sawit padahal memiliki potensi produksi yang besar yakni 1,7 ton pertahun.

“Acara hari ini ingin mencari solusi, bagaimana cangkang sawit supaya bisa dimanfaatkan. Kalau Kaltim bisa memanfaatkan nanti masyarakat sekitar perusahaan akan terbantu,” timpalnya.

Lebih lanjut, Nainggolan menyebutkan bahwa Kaltim masih memiliki masalah salah satunya yakni infrastruktur sehingga memperlambat distribusi cangkang.

“Infrastrukturnya kurang lengkap tapi masalah logistik akan terselesaikan ketika harga jualnya dibuat stabil, ada kepastian dari suplayer dari lokasi perkebunan menjual produknya dengan harga yang pasti, jadi kalau tidak ada kepastian harga ekspor maka dibawah pun tidak pasti,” pungkasnya. #

Wartawan: Heriman