Rita Widyasari Mengaku Menolak Azis Syamsudin Berikan Keterangan Palsu

oleh -503 views
Rita Widyasari, mantan Bupati Kutai Kartanegara.

BERITAKALTIM.CO- Pengadilan Tipikor mengadili mantan penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju dan seorang pengacara Maskur Husain dengan dakwaan menerima suap yang totalnya Rp 11 miliar dan USD 36 ribu atau setara Rp 11,538 miliar. Suap itu diperoleh dari 5 orang, diantaranya adalah Ketua DPR Azis Syamsuddin dan mantan Bupati Kukar Rita Widyasari.

Sidang lanjutan menghadirkan Rita Widyasari di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Senin (18/10/2021). Jaksa KPK bertanya hubungannya dengan kedua tersangka, Stepanus Robin dan Maskur.

Mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari mengungkapkan awal mula dia mengenal Robin karena dikenalkan mantan anggota DPR RI Azis Syamsuddin.

Rita menjelaskan sangat mengenal Azis karena satu partai dan berada di organisasi yang sama.

“Kenal (Azis Syamsuddin) beliau adalah teman saya, sahabat saya, suami kakak saya, yang saya kenal sejak di KNPI dan Golkar beliau. Beliau adalah teman saya di beberapa kegiatan Koesgoro, misalnya,” ucap Rita dalam sidang di Pengadilan Tipikor.

Rita mengaku Azis pernah mengunjunginya di Lapas Tangerang. Saat itu, Azis mengenalkan Robin yang merupakan penyidik KPK.

“Pernah (bertemu di Lapas) September 2020, waktu itu membahas Golkar karena mau ada pergantian Ketua Golkar, juga beliau mengatakan akan mengenalkan Pak Robin,” ucapnya.

Rita menyebut Azis mengatakan akan mengenalkan Robin sebagai orang yang mampu membantu Rita mengajukan peninjauan kembali (PK) atas kasusnya di KPK.

“Ya beliau bilang nanti (Robin) bantu-bantu terkait kasus PK di MA,” kata Rita.

Kemudian, lanjut Rita, Azis datang ke Lapas Tangerang bersama Robin. Dalam perkenalan itu, Rita mengatakan Robin menunjukkan ID card penyidik KPK.

Setelah Azis mengenalkan Robin, kata Rita, keesokan harinya Robin mendatangi Rita lagi. Dalam pertemuan itu, Robin berjanji akan membantu PK Rita di MA.

“Besok-besoknya dia (Robin) datang dengan Maskur, kemudian belaiu sampaikan bisa bantu saya tapi harus ada lawyer fee dan saya harus berhentikan pengacara lama, dan itu saya lakukan lewat surat menyurat,” jelasnya.

“Disampaikan juga beliau (Robin) bisa bantu PK, dan akan berikan 19 aset saya yang disita KPK,” lanjutnya.

Rita mengatakan, untuk menangani PK Rita, Robin dan Maskur meminta fee Rp 10 miliar. Permintaan itu disampaikan oleh Maskur Husain.

“(Fee) Rp 10 miliar, mintanya Rp 10 miliar, itu katanya juga sudah murah karena ada Pak Robin,” ucap Rita.

Rita sendiri mengaku tidak tahu kenapa Maskur ‘menjual nama’ Robin. “Saya nggak tahu, ada Pak Robin di sini, mungkin bisa menekan hakim atau gimana saya nggak tahu,” kata Rita.

Rita juga mengatakan untuk membayar fee Rp 10 miliar itu, dia menjaminkan 3 aset miliknya, yaitu sertifikat 2 rumah di Bandung dan aset apartemen di Sudirman Park. Dia mengaku tidak memiliki uang tunai untuk membayar fee.

“Saya sampaikan ke beliau uang tunai, saya nggak punya, saya nggak punya uang tunai sebanyak itu, tapi saya punya aset rumah 2 dan apartemen kalau Bapak berkenan silakan bapak pergunakan, saya akan berikan kuasa. Nanti kalau gimana-gimana tolong sampaikan ke saya,” ungkap Rita.

Rita menegaskan dia tahu aturan bahwa terpidana tidak diperkenankan ‘berhubungan’ dengan aparat hukum dalam hal ini AKP Robin yang saat itu sebagai penyidik KPK. Namun, dia mengaku percaya kepada Robin karena dikenalkan oleh Azis Syamsuddin.

“Saya tahu (aturan soal terpidana dilarang berhubungan dengan aparar hukum), saya aja kaget dia ada di Tangerang, tapi karena yang bawa orang tepercaya (Azis Syamsuddin) jadi saya percaya,” tegas Rita.

DIMINTA BERIKAN KETERANGAN PALSU

Di bagian lain pemeriksaan keterangan saksi di persidangan itu, Rita mengaku pernah diminta mantan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin memberikan keterangan palsu terkait pemberian uang ke mantan penyidik KPK AKP Stepanhs Robin Pattuju alias Robin.

Ungkapan itu muncul ketika jaksa KPK bertanya apakah setelah penangkapan Robin dan Maskur, Azis menghubungi Rita atau tidak. Rita mengaku pernah dihubungi Azis melalui teman Azis bernama Kris.

“Pernah (dihubungi Azis). Seingat saya temannya datang ke saya, namanya lupa,” kata Rita.

“Apa namanya Kris?” tanya jaksa KPK dan diamini Rita.

Rita mengatakan Kris menyampaikan arahan Azis. Dia diminta tidak menyebut nama Azis Syamsuddin saat diperiksa KPK.

“Ya pada intinya bahwa jangan… bahwa intinya beliau sampaikan jangan bawa-bawa Bang Azis, saya bilang niatnya Bang Azis kan bantu saya, terus beliau bilang jangan bawa-bawa, terus bilang ada beberapa angka yang harus saya akui,” katanya.

“Angka apa?” tanya jaksa.

“Uang,” jawab Rita singkat.

Rita mengaku diminta mengakui sejumlah pemberian Azis ke Robin. Padahal, menurut Rita, dia tidak pernah memberikan uang tunai berjumlah besar ke Robin.

“Seperti ada uang yang disampaikan ke Pak Robin itu dari saya, padahal saya nggak pernah (berikan uang), (jumlahnya) yang bapak jaksa sampaikan tadi, dolar, dan sebagainya saya bilang nggak bisa karena bukan saya yang minta,” kata Rita.

“Pak Kris sampaikan ke Saudara atas suruhan Azis Syamsuddin intinya jangan bawa-bawa nama Azis kalau diperiksa KPK, terkait uang Rp 200 juta serta uang dalam bentuk dolar agar diakui itu uang Saudara, benar ada disampaikan?” cecar jaksa dan dijawab ‘yes’ oleh Rita.

“Tujuannya apa kok Saudara disuruh ngakuin apa?” cecar jaksa lagi.

“Karena kan saya ada lawyer fee (ke Maskur Husain), kan itu belum, jadi kalau saya mengakui legal,” jawab Rita.

Jaksa KPK kemudian membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Rita. Berikut isi BAP-nya:

“Apa Azis sampaikan seperti ini ‘Bunda tolong kalau diperiksa KPK akui saja dolar yang dikirimkan ke Robin dari money changer itu adalah milik bunda’. Terus Saudara tanyakan ke Pak Azis Syamsuddin ‘berapa Bang?’, Pak Azis sampaikan ‘sekitar Rp 8 miliar iya itu uang dolar dari saya’,” ungkap jaksa.

“Ya. Saya kaget (angka) Rp 8 miliar,” kata Rita.

Meski begitu, Rita mengatakan dia tidak berani menuruti permintaan itu karena dia takut terancam pidana karena memberikan keterangan palsu. Selain itu, Azis juga disebut tidak jadi meminta Rita bersaksi palsu karena ada skenario lain. Namun tidak jelas skenario lain itu seperti apa.

“Apakah Azis Syamsuddin bilang sudah sampaikan saja apa adanya karena ada skenario lain?” tanya jaksa KPK.

“Ya betul. Saya sampaikan saya nggak bisa mengakui itu, karena teman saya bilang kesaksian palsu 5 tahun penjara. Saya bilang ‘saya tahu abang baik niatnya bantu tapi untuk akui Rp 8 miliar saya nggak bisa,” kata Rita.

Rita Widyasari saat ini sedang menjalani hukuman penjara setelah divonis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi atau Tipikor terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp 110.720.440.000 dari rekanan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Rita dihukum 10 tahun penjara dan denda Rp 600 juta. #

Wartawan: Charle | berbagai sumber

No More Posts Available.

No more pages to load.