Saya Jadi Pengurus Pemuda Pancasila

oleh -47 Dilihat
Acara buka puasa bersama MPW Pemuda Pancasila kaltim, Rabu (13/4/2022). Foto: Daeng Sirua/PP

RABU kemarin, saya menghadiri acara buka puasa pengurus Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila (PP) Kaltim di Hotel Mesra, Samarinda. Sehari sebelumnya saya menerima undangan lewat WA. Saya kaget dalam kaitan apa saya diundang, meski pada acara pembukaan Musyawarah Wilayah VIII Ormas PP Kaltim di Samarinda, 25 Februari lalu saya juga diundang.

Ternyata dalam SK Majelis Pimpinan Nasional PP yang ditandatangani ketua umumnya,  KPH H Japto S Soerjosoemarno SH, 14 Maret 2022, saya dimasukkan dalam Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO)  PP Kaltim masa bakti 2022-2027 bersama 42 tokoh Kaltim lainnya. Sebagai ketuanya Wali Kota Samarinda Dr H Andi Harun dan salah satu wakilnya, H Andi Burhanuddin Solong, mantan ketua DPRD Balikpapan.

Sedang Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Kaltim tetap dipegang HM Said Amin, SH, kader PP yang sulit tergantikan seperti juga Japto. Said didampingi  ketua harian Zuhairie, SH, Sekretaris Ir H Awang Yacoub Luthman, dan Bendahara H Djarot Widyanto, SE, pengusaha muda dan sukses asal Balikpapan. Said juga dibantu 4 wakil ketua, yakni Ir Agus Suwandy, Robert Nababan, Aidil Fitri, dan Fauzi A Bahtar.

Bendahara Umum MPN Pemuda Pancasila H Popo Parulian dalam sebuah acara bersama Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila KPH Japto S Soerjosoemarno. Foto: Infokom PP Kaltim

Sesungguhnya saya sudah lama bergaul dengan PP. Bahkan saya juga berutang budi dengan tokoh-tokohnya seperti H Harbiansyah Hanafiah, Popo Parulian, Said, dan Ketua PP Balikpapan H Syahril HM Taher. Karena itu saya berusaha hadir jika ada undangan PP, baik secara organisasi maupun pribadi.

Berbagai acara keluarga Syahril di Kampung Baru saya selalu datang. Saat saya masih aktif sebagai wali kota, banyak kebijakan saya  mendapat dukungan dari Bunda Hajjah Fitriati, istri Syahril yang sekarang jadi anggota DPRD Balikpapan.

Ketika saya akan dipasangkan dengan Pak Imdaad Hamid pada pemilihan   wali kota dan wakil wali kota  Balikpapan tahun  2006, Syahril adalah salah seorang tokoh yang memberikan restu dan dukungan. Bahkan pada pemilihan wali kota tahun 2011, Syahril bersama Said mengantar saya dan Heru Bambang ke kediaman Japto di Jakarta untuk mendapat dukungan dari Partai Patriot, yang dimiliki PP saat itu.

Saya kaget ternyata sehari-harinya Japto sangat akrab dan ramah. Kami diajak makan dan saya sempat diambilkan nasi oleh Japto sendiri. Rumahnya luar biasa. Di halaman dan di beranda penuh dengan hewan liar hasil buruan Japto di Afrika dan di berbagai daerah di Indonesia. Ada hewan buas yang masih hidup dan terbanyak yang sudah diawetkan. Maklum Japto, adik kandung artis senior Marini itu memang punya hobi berburu.

Dalam pemilihan gubernur Kaltim tahun 2018, Said sempat ingin menduetkan  saya dengan Wali Kota Samarinda H Syaharie Jaang. Dalam pemilihan wali kota Balikpapan tahun 2019, Said dan Syahril juga sempat ingin memasangkan putra Syahril, Yaser Arafat dengan istri saya, Arita.

Saya juga sangat akrab dengan H Harbiansyah yang akrab dipanggil Harbian. Dia tokoh pengusaha dan mantan ketua Kadin Kaltim dan ketua Nasdem Kaltim yang sangat senior. Waktu saya masih wartawan aktif, saya sering meliput pertandingan klub sepakbola Putra Samarinda (Pusam) milik Harbian. Selain itu dia juga aktif memimpin gulat Kaltim.  Bersama Harbian, kami juga sempat menjadi anggota MPR Utusan Daerah tahun 1994-1999. “Harbian itu adalah Harapan Bangsa Indonesia,” kata Harbian ketika diminta baca puisi.

Ketika pembukaan Muswil PP Kaltim kemarin, saya sempat ketemu dengan Popo Parulian, yang sekarang menjadi Bendahara PP Pusat di Jakarta. Popo dulu di Samarinda sebagai pemilik perusahaan kayu PT Kelawit Wana Lestari di mana Said dulu bergabung.

Dia berkembang besar mulai manajer di perusahaan milik Prajogo Pangestu, Barito Pacific Samarinda sampai berdiri sendiri. Dan bahkan Popo sempat menjadi komisaris perusahaan batubara terbesar, PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang sempat jadi sorotan. Selain menjadi tokoh sentral di PP Kaltim, Popo juga ketua Kadin Kaltim.

Saya sering mewawancarai Popo di kantornya, di Kawasan Pelabuhan Samarinda. Bahkan Popo pernah mengawal tim wartawan Kaltim pada Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Bandung.

Saya sempat bareng naik haji bersama Popo, Sekprov Kaltim Syaiful Teteng, dan Gubernur Kaltim H Suwarna AF masing-masing bersama istri. Karena itu saya ingat nama lengkap Popo adalah  H Abdullah Popo Parulian, SH.

Ikut juga di rombongan istri Said Amin, Hajjah  Firjani. Said sangat kehilangan wanita kelahiran Manado 10 Februari 1969 yang memberinya 4 buah hati ini karena Hj Firjani binti Abu Bakar Minabari meninggal dunia sebelum genap usianya 51 tahun pada hari Rabu tanggal 1 Januari 2020.

Di kantornya di gedung Bakrie Tower Lantai 9, Popo lulusan Fakultas Hukum Untag Samarinda  bersama istrinya, Aliyah Sianne Salim mengembangkan berbagai usaha di bawah banyak bendera, di antaranya PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) yang bergerak di jasa pengangkutan

TOKOH LUAR BIASA

Siapa yang tidak mengenal Said Amin saat ini. Dengan kebesaran usahanya di ladang batubara, Said bergerak di lintas medan. Ya pengusaha, tokoh agama, tokoh sosial, tokoh olahraga, serta tokoh ormas dan  politik. Dia banyak mendorong kader-kadernya menjadi pemimpin politik termasuk kepala daerah seperti Drs H Herlan Agussalim,  Alphad  Syarif, dan Andi Harun (wali kota Samarinda), tapi Said sendiri tidak pernah terdengar ingin terjun lebih jauh ke sana, walau dia pernah duduk di  kursi wakil ketua Golkar Kaltim.

Ketua MPW Pemuda Pancasila Kaltim HM Said Amin SH (kiri) bersama Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila KPH Japto S Soerjosoemarno. Foto: infokom PP Kaltim

Japto sendiri melihat Said sebagai kader PP yang luar biasa. Ketika menghadiri Muswil PP Kaltim, Japto membawa rombongan PP cukup banyak di antaranya Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), anggota MPO Yorrys Raweyai, Sekjen MPN Arief Rahman, bendahara Popo serta  anggota DPR dan juga wakil ketua umum DPP Nasdem Ahmad Ali.

“ Saya melihat Saudara Said ini luar biasa. Seperti saudara sendiri dan saya pernah dibantunya ketika dalam kesulitan tanpa pamrih,” kata Japto dengan mata berkaca-kaca.

Kalau kita ke kawasan Rapak Indah Loa Bakung, tak jauh dari Gedung DPRD Kaltim, kita akan melihat Kawasan Islami yang luar biasa indahnya. Itu kompleks Pesantren Nabil Husein, yang dibangun Said seluas 13 hektare dengan mengambil nama putra sulungnya.

Pesantren termegah di Kaltim ini berdiri sejak 2001 dengan identitas pesantren modern yang menggabungkan pendidikan formal dengan pendidikan diniyyah secara dinamis serta tidak melepaskan sunnah. Beberapa aspek pengelolaan dan sistem pendidikannya sebagian mirip dengan Pesantren Gontor Ponorogo. Karena itu banyak sekali  santri dan siswa yang belajar di sini. Menurut laporan terakhir  lebih seribu orang.

Di hari ulang tahunnya ke-53 tahun tahun 2012, Said meresmikan panti asuhan dan panti wreda yang dibangunnya berseberangan dengan Ponpes Nabil Husein di atas lahan 5 hektare. Tersedia 300 kamar untuk menampung seribu orang baik untuk anak-anak maupun warga lanjut usia. “Kewajiban kita untuk memperhatikan anak-anak yatim dan para orang tua,” kata Said.

Bukan itu saja, Said juga membangun masjid megah Al Amin, yang berarsitektur Maroko dengan kapasitas 800 jamaah di Jl Rajawali Dalam 3.

Di bidang olahraga, Said membina gulat dan putranya Nabil Husein, lulusan pendidikan tinggi  Kuala Lumpur ini gigih membangun  Borneo FC (BFC). Beberapa kader PP, di antaranya H Rusdiansyah Aras jadi ketua KONI Kaltim sekarang, Aidil Fitri KONI Samarinda dan Yunus Yusi yang sekarang jadi sekretaris jenderal PSSI.

Saya sendiri mengenal Said sejak muda. Kami sempat bertetangga di Jl Aminah Syukur ketika saya tinggal di tempat “saudara angkat” saya, Zairin Fauzi, putra  Bupati Kutai Drs Ahmad Dahlan.

Ketika saya menjadi pemimpin redaksi Kaltim Post, ada berita yang sempat menjadi urusan dengan PP. Saya bersama Zaenal Muttaqin (Zam), CEO Kaltim Post bertemu Said dan pengurus PP di Hotel Benakutai Balikpapan. “Wah jangan-jangan kita digebukin,” kata saya kepada Zam.

Tapi ternyata kekhawatiran itu jauh panggang dari api. Said sangat bijaksana menyelesaikannya. Malah kita diundang makan di “istana” Said, yang megah di Jl Pahlawan, kawasan bukit depan Pasar Segiri. #

Penulis: Rizal Effendi

 

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.