Sidang Dugaan Korupsi Perusda AUJ Bontang, Ada Modus Proyek Fiktif?

oleh -297 views
Suasana persidangan Kasus dugaan Korupsi pada Perusda AUJ kota bontang.

SAMARINDA, beritakaltim.co- Perjalanan kasus dugaan korupsi pada Perusda Aneka Usaha Jasa (AUJ) Bontang menemui babak baru. Dari hasil persidangan di Pengadilan Tipikor Samarinda terungkap, ada modus operandi kegiatan fiktif oleh Perusda Aneka Usaha dan Jasa (AUJ).

Dalam persidangan terungkap, terdakwa Dandi Prio Anggono beserta Abu Mansyur yang ditetapkan sebagai saksi, meminjam legalitas perusahaan untuk mencairkan dana. Padahal, pekerjaan fisik belum dikerjakan oleh pihak ketiga.

Diketahui ada 4 kegiatan saat itu hendak dikerjakan Perusda AUJ, yakni proyek pengaspalan, pengadaan palang, instalasi CCTV beserta software ATM, hingga pembangunan galeri ATM.

Namun, dari 4 kegiatan tersebut hanya 2 saja yang terealisasi. yakni, instalasi CCTV beserta software ATM dan pembangunan galeri ATM saja. Tetapi dana yang sudah dicairkan meliputi 4 kegiatan tersebut.

Modus yang dilakukan terdakwa dengan meminjam 4 perusahaan untuk mengerjakan proyek ini. Para rekanan diminta menandatangani cek kosong lalu dana dicairkan.

“Masing-masing direktur yang perusahaannya dipakai memberikan cek kosong yang sudah ditandatangani oleh direktur masing-masing dan dana tersebut sudah dicairkan,” kata Kasi Pidana Khusus Kejari Bontang, Yudo Adiananto saat dikonfrimasi via whatsApp, Minggu (3/5/2020).

Adapun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andi Yaprizal dan Bayu Nurhadi menuturkan, dari keterangan salah satu saksi, Atim Prasojo di Persidangan bahwa dirinya meminjamkan perusahaan kepada Perusda AUJ

Atim juga mengakui, telah memberikan cek yang sudah ditandatangani saksi kepada Abu Mansyur dengan jumlah Rp 490 juta. Sedangkan saksi lainnya, Maulin Despian selaku kontraktor yang melaksanakan salah satu pekerjaan menuturkan, telah ditawari pengerjaan oleh terdakwa Dandi dan Abu Mansyur.

“Hanya software ATM  beserta instalasi CCTV dan pembangunan gallery ATM,” ucapnya.

Dia menggunakan perusahaan CV Abilindo. Yang disediakan oleh Abu Mansyur dengan nominal proyek Rp 250 juta, tetapi hanya dibayar 75 persen atau setara Rp 191 juta.
“Maksud menggunakan perusahaan ini kata terdakwa Dandi dan Abu Mansyur untuk mempermudah. Karena dana sudah dicairkan sementara pengerjaan belum ada,” ungkapnya. #

Wartawan: Heriman