Sungai Sangatta Tercemar Limbah KPC

oleh -1.742 views

sungai sangatta webSAMARINDA, BERITAKALTIM.com – Sungai Sangatta yang terletak di Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim) tercemar limbah aktivitas pertambangan milik PT Kaltim Prima Coal (KPC). Akibatnya, Sungai Sangatta menjadi berwarna coklat gelap, persis seperti warna kopi susu.
Awalnya, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kutai Timur menemukan tingkat kekeruhan Sungai Sangatta yang sangat tinggi pada akhir November 2014 lalu. Mereka lalu melakukan penelusuran dan uji laboratorium kadar air sungai.

Hasilnya, tim penelusuran menemukan penyebab pencemaran setelah menelusuri Sungai Bendili, anak Sungai Sangatta. Sungai Bendili berhulu di aktivitas pertambangan batu bara milik KPC. Di sini merupakan kawasan Pit Pelikan SP, dan menjadi pintu air terakhir sebelum dilepas ke Sungai.
Bupati Kutai Timur Isran Noor membenarkan peristiwa pencemaran oleh perusahaan tambang milik Group Bakrie ini. Limbah yang keluar sebelum diolah disebabkan hujan lebat, sementara kolam penampungan terus meluber.

“Ada memang (pencemaran) itu. Jadi ada terjadi pencemaran akibat pengolahan limbahnya itu tidak sesuai kapasitas air. Jadikan hujan lebat ini, jadi melimpah dia. Jadi mestinya diolah dulu, belum sempat diproses, dia tumpah,” kata Isran kepada wartawan di Samarinda, Jumat (16/1/2015).

Dia menyebut, sebelum dilepas ke sungai, air limbah pertambangan disimpan di sed pon atau kolam pengendap untuk diolah. Jika sudah sesuai dengan baku mutu air yang ditetapkan, air limbah ini boleh dilepas ke sungai.

Sayangnya, hujan lebat yang terus mendera Kecamatan Sangatta, ibukota Kabupaten Kutai Timur, membuat kolam penampungan limbah meluber. Akibatnya, limbah ini langsung mengalir ke sungai.

“Jadi menurut saya ini tidak ada unsur kesengajaan. Ini memang belum sempat diolah dulu sudah keluar duluan,” kata Isran yang juga ketua APKASI.

Akibat pencemaran ini, PDAM Kutai Timur sempat mengurangi produksinya. Warga harus rela kekurangan air bersih karena PDAM menggilir aliran air.
“Sungai Sangatta adalah sumber air baku PDAM. Jadi, karena (pencemaran) ini, kapasitas produksi diturunkan sampai 60 persen,” katanya.#aw