Tatang Koswara Sniper Legendaris Indonesia

oleh -133 views
Tatang Koswara (Alm). Foto: ist

Selasa (3/3/2015), Tatang Koswara meninggal dunia usai syuting acara TV “Hitam Putih” bersama Deddy Corbuzier. Ia meninggal dalam usia 68 tahun lantaran sakit jantung yang dideritanya. “Beliau meninggal setelah menceritakan semua perjuangannya pada kita di Hitam Putih hari ini,” kata Deddy.Yang mengharukan, Deddy sempat mendengar ucapan tatang. “Sebelum meninggal, beliau berkata pada saya: Darahku di Merah Putih!”. Sejenak setelah itu, ia terkena serangan jantung dan wafat.

Dia adalah Tatang Koswara. Kelahiran 12 Desember 1946. Ia adalah seorang prajurit Pusenif TNI AD Peltu (Purn). Dia adalah sniper legendaris milik Indonesia. Dia masuk dalam daftar sniper terbaik dunia, seperti tercantum dalam buku Sniper Training: Techniques and Weapons. Peter Brookesmith menulis dalam buku itu bahwa Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia.

Di daerah konflik di Timor Timur dulu, ia sering disisipkan dalam pasukan Kopassus, dan mempunyai confirmed kills sebanyak 41, walaupun kemungkinan besar lebih dari jumlah yang di klaim itu, tetapi beliau tidak pernah mencatat sendiri jumlah musuh yang berhasil ditembak.

Seperti dikisahkan Tatang sendiri, sebenarnya menjadi prajurit, apalagi sniper, bukanlah cita-citanya. Dulu ia tak sengaja nyemplung di dunia militer. “Ayah saya memang seorang tentara. Tapi, saya (awalnya) tidak berniat untuk menjadi tentara,” ucap Tatang di kediamannya di lingkungan kompleks TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015), pada Kompas.

Namun, tepatnya pada tahun 1967, Tatang disuruh ibunya mengantar sang adik untuk mendaftar menjadi anggota TNI. Saat melakukan tes, dia bertemu dengan sejumlah perwira Dandim di Banten yang mengenalnya. Tatang ‘pun ditanya kenapa tak ikut daftar. “Saya kenal dengan perwira Dandim karena sebelumnya juara sepak bola. Karena juara sepak bola itu juga dan beberapa prestasi lainnya, saya diminta para perwira Dandim untuk daftar jadi anggota TNI,” ujar Tatang.

Setelah pulang ke rumah, Tatang remaja sempat bingung. Hingga keesokan harinya, dia menyiapkan semua persyaratan dan mendaftarkan diri lewat jalur tamtama. Sesuai dugaan, Tatang lulus, sedangkan adiknya justru harus mencoba tahun depan untuk bergabung ke TNI AD.

Tatang Koswara (Alm). Foto: Ist.

Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membuat pelajaran militer menjadi hal yang tak sulit baginya, baik dalam hal fisik, berenang, maupun menembak.

Hingga tahun 1974-1975, Tatang bersama tujuh rekannya terpilih masuk program Mobile Training Teams (MTT) yang dipimpin pelatih dari Green Berets Amerika Serikat, Kapten Conway. “Tahun itu, Indonesia belum memiliki antiteror dan sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), dan Brimob (Polri). Namun, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD,” imbuhnya.

Dalam praktiknya, Kopassus ‘pun kesulitan memenuhi kuota yang ada. Setelah seleksi fisik dan kemampuan, dari kebutuhan 60 orang, Kopassus hanya mampu memenuhi 50 kursi.

Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang dan tujuh temannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang dan 59 anggota TNI AD dilatih Kapten Conway sekitar dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, dan 900 meter. Tak hanya itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, dan menghilangkannya.

Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus dan mendapat senjata Winchester model 70. Seperti dikutip Majalah Angkasa dan Shooting Times, Winchester 70 yang disebut “Bolt-action Rifle of the Century” ini juga digunakan sniper legendaris Marinir AS, Carlos Hathcock, saat perang Vietnam. Senjata ini memiliki keakuratan sasaran hingga 900 meter.

Rupanya senjata dan ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini membantu Tatang dalam pertempuran. Sebab, setelah itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) Cimahi, menjadi pengawal pribadi sekaligus sniper saat terjun ke medan perang di Timor Timur (1977-1978).

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh. Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.

Karena prestasinya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

Pangkat terakhir Tatang adalah Pembantu Letnan Satu (Peltu). Sejak Tatang pensiun pada tahun 1996, ia bersama istrinya (Tati Hayati) menggantungkan hidupnya dengan membuka warung makan di Kodiklat TNI AD, di Jalan Aceh Bandung. Modal warung didapatnya dari uang pensiun suaminya. Membuka warung adalah pilihan terakhirnya untuk mendapat uang tambahan bagi kehidupannya, dan sesekali melatih juniornya di TNI AD.

Selasa (3/3/2015), Tatang meninggal dunia usai syuting acara TV “Hitam Putih” bersama Deddy Corbuzier. Ia meninggal dalam usia 68 tahun lantaran sakit jantung yang dideritanya.

“Beliau meninggal setelah menceritakan semua perjuangannya pada kita di Hitam Putih hari ini,” kata Deddy.Yang mengharukan, Deddy sempat mendengar ucapan tatang.

“Sebelum meninggal, beliau berkata pada saya: Darahku di Merah Putih!”. Sejenak setelah itu, ia terkena serangan jantung dan wafat.

Ia meninggal setelah menceritakan pada Indonesia tentang perjuangannya dan keikhlasannya bagi negeri ini. Tentu, semua itu tak lain agar kita semua mendapat inspirasi dari sosok besar kebanggaan Indonesia itu. Agar sebaimana pesan terakhirnya, kita ‘pun memiliki darah yang Merah Putih.

Akhirnya, sebagaimana peluru, inspirasi, semangat dan kenangan darinya akan menembus relung dada siapa saja yang mengenalnya, namun bukan untuk membunuh, tapi justru untuk menghidupkan semangat dan nasionalisme kita sebagai rakyat Indonesia. #Diolah dari berbagai sumber/sejarah.com

 

Sumber: Majalah Bongkar | Maret 2015

No More Posts Available.

No more pages to load.