Tiga Masalah Ini Selalu Muncul di Desa Perjiwa Tenggarong Seberang

oleh -41 Dilihat
Kepala Desa (Kepdes) Perjiwa Erik Nurwahyudi.

BERITAKALTIM.CO- Setidaknya ada tiga masalah ini yang selalu muncul dalam setiap acara Musrenbangdes (Musyawarah Rencana Pembangunan tingkat Desa) Perjiwa yang masuk wilayah administratif Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Hal itu disampaikan Kepala Desa (Kepdes) Perjiwa Erik Nurwahyudi saat berdialog dengan Wartawan Beritakaltim di Kantor Desa Perjiwa Jalan Tanjung Gresik, Senin (16/5/2022).

“Ya, betul ada tiga yang selalu muncul dalam usulan warga kepĀ  ada pemerintah. Semuanya terkait fasilitas umum,” cerita Erik.

Tiga masalah dimaksud adalah listrik, pembangunan masjid dan pembangunan BPU (Balai Pertemuan Umum).

Dengan jumlah penduduk sekitar 1.700 jiwa, Desa Perjiwa yang luasnya sekitar 11.000 hektar, memiliki struktur pemerintahan level paling bawah, yakni 5 unit kelembagaan RT (Rukun Tetangga). Dari 5 lembaga RT itu belum semuanya teraliri listrik, yakni untuk desa di RT 04.

“Sejak dulu di RT 04 itu tidak pernah menikmati fasilitas listrik. Padahal desa itu termasuk pemukiman lama. Dulu, sebelum ada jalan Tenggarong-Samarinda yang dibangun pak Kaning (Syaukani-red), jalan yang dipakai adalah jalan di RT 5 itu,” cerita Erik.

Karena tidak teraliri listrik, dampaknya cukup fatal. Karena warga yang bermukim di kawasan itu pindah. “Sekarang tinggal 10 KK (kepala keluarga-red) di sana,” tutur Erik lagi.

Erik Nurwahyudi sudah menjabat Kepala Desa Perjiwa sejak tahun 2013. Tepatnya, dia memimpin desa itu pada periode pertama pada 2013-2019 dan kini dia menjalankan jabatannya untuk periode kedua 2019-2025.

“Kita sudah usulkan soal jaringan listrik ini Pak. Ke PLN, Distamben dan pemerintah kabupaten. Juga ke DPRD. Ya, tapi jawabannya belum bisa direalisasikan itu,” kata Erik.

Wartawan Beritakaltim mencoba naik ke bukit yang masuk wilayah RT 04 dan memang di sana kondisinya masih seperti hutan. Sudah ada jalan mobil, meski sempit. Tapi dari perbukitan di sana terlihat pemandangan kota Tenggarong dan Sungai Mahakam yang indah.

PEMBANGUNAN MASJID DAN BPU

Dua aspirasi lainnya adalah pembangunan masjid dan gedung BPU. Terkait pembangunan masjid, di Desa Perjiwa sudah ada satu-satunya masjid dengan nama Jami Nurul Iman. Letaknya di Jalan Gunung Kiyai, sejak tahun 1994 masjid itu berdiri tapi pembangunannya belum tuntas juga.

Warga Desa Perjiwa yang merintis pembangunan masjid tersebut. “Sudah pernah ada konsultan menghitung. Diperlukan anggaran Rp2,5 miliar untuk menuntaskan pembangunan masjid kami ini. Kita usulkan ke pemerintah,” kata Erik.

Sedangkan untuk pembangunan Gedung BPU (Balai Pertemuan Umum), diakui Erik, sebelumnya terkendala lantaran pemerintahan desa tidak memiliki lahan yang cukup. Tapi, saat ini, setelah era Bupati Kukar Edi Damansyah, bupati memberikan lahan hampir 1 hektar yang digunakan untuk membangun Kantor Desa dan fasilitas lainnya.

“Selain untuk membangun kantor desa, masih ada sisa tanahnya untuk membangun gedung BPU. Itu sudah dibuatkan pondasi tahun 2020 lalu. Tinggal cari anggaran bangun gedungnya,” cerita Erik lagi.

Ukuran bangunan BPU yang akan berdiri di komplek kantor desa itu seluas 20 X 30 meter. Menurut Kepala Desa Perjiwa, luasan itu sudah cukup untuk mengadakan acara-acara yang mengundang warga dalam jumlah besar. Termasuk bagi warga yang ingin mengadakan pesta pernikahan atau lainnya.

Di kawasan Kantor Desa itu sudah ada kantor BPD (Badan Pemusyawaratan Desa), Kantor LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) dan bangunan untuk sekolah TK Flamboyan.

“Ya, sebenarnya masih ada hal lain yang disampaikan warga. Misal jalan desa usaha tani. Karena covid-19 dalam dua tahun ini, kemampun desa membangun semenisasi jalan desa terhambat,” kata erik. #

Wartawan: Charle

No More Posts Available.

No more pages to load.