VIDEO | Pengusaha Kasih THR Bupati Kutim Rp100 Juta

oleh -2.952 views

SAMARINDA: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka kasus dugaan korupsi yang diduga dilakukan para pejabat tinggi di Kutai Timur bersama para kontraktor. Selain ditemukan permainan fee proyek sebesar 10 persen yang diatur bagi pemenang proyek di Kutai Timur, Bupati juga kedapatan menerima THR (Tunjangan Hari Raya) sebesar Rp 100 juta.

“Pengusaha memberikan THR kepada bupati dan juga para pejabat di Kutai Timur masing-masing 100 juta,” kata Nawawi Pomolango, Wakil Ketua KPK, dalam acara jumpa pers dengan Wartawan di Gedung KPK, Jumat (3/7/2020) malam.

Pemberian THR dijadikan bukti oleh KPK di samping adanya pemeberian dan penerimaan fee proyek sebesar 10 persen dari pengusaha yang menang proyek.

Sebelumnya diberitakan, Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan 7 orang pejabat di Kutai Timur sebagai tersangka. Mereka adalah Bupati Ismunandar dan istrinya yang juga Ketua DPRD Kutim, Aswandini (Kepala Dinas PU Kutim), Musyaffa (Kepala Bapenda Kutim), Suriansyah (Kepala BPKAD Kutim, Aditya Maharani (Kontraktor) dan Deky Aryanto (rekanan pengusaha).

Para tersangka diklasifikasi oleh KPK sebagai para pihak yang menerima dan pemberi uang hadiah. KPK menyita uang tunai Rp170 juta dan beberapa buku tabungan dengan total saldo Rp4,8 miliar. Kemudian sertifikat deposito Rp1,2 M.

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango dalam acara jumpa pers di Gedung KPK Jakarta, Jumat (3/7/2020) malam, menjelaskan peran masing-masing dalam kasus penerimaan dan pemberian hadiah itu.

Tersangka Ismunandar, sebagai Bupati Kutai Timur menjamin anggaran yang dituju untuk proyek tidak terjadi pemotongan anggaran.

Encek Ur Firgasih, Ketua DPRD Kutai Timur, melakukan intervensi dalam penunjukan pemenang proyek di Pemkab Kutai Timur.

Musyaffa (Kepala Bapenda Kutim), menjadi orang kepercayaan Bupati melakukan intervensi dalam menentukan pemenang pekerjaan di Dinas Pendidikan dan Dinas Pekerjaan Umum Kutim.

Suriansyah (Kepala BPKAD Kutim), selaku orang kepercayaan yang mengatur dan menerima uang dari setiap rekanan yang melakukan pencairan per termin sebesar 10 persen dari setiap pencairan.

Aswandini (Kepala Dinas PU Kutim), mengatur jatah proyek bagi rekanan yang akan jadi pemenang proyek di Kutim.

Sementara dua pengusaha yang kini sudah ditahan sebagai tersangka KPK adalah pihak yang terlibat dalam praktik pemberian hadiah.

16 ORANG DIAMANKAN

Diberitakan sebelumnya, KPK berhasil mengamankan 16 orang dan menyita uang tunai Rp170 juta serta beberapa buku tabungan dengan saldo Rp4,8 miliar. Kemudian sertifikat deposito Rp1,2 M. Setelah dilakukan pendalaman dan gelar perkara, disimpulkan oleh KPK hanya 7 orang yang dinaikkan statusnya sebagai tersangka.

KPK menjelaskan, awalnya adalah laporan dari masyarakat. Adanya dugaan bakal terjadi transaksi penggunaan uang. KPK membentuk dua tim, yakni satu tim di Jakarta dan satu tim lagi di Sangatta Kutai Timur.

Pada 2 Juli 2020, sekitar jam 12.00 Wib, Encik Ur Firgasih, istri Bupati Ismunandar yang juga Ketua DPRD Kutim, ditemani oleh Kepala Bapenda Musyafa dan stafnya berinitial DF datang ke Jakarta untuk mengikuti acara sosialisasi pencalonan Ismunandar sebagai incumbent yang akan mengikuti Pemilihan Bupati Kutai Timur periode 2021-2026. Sekitar pukul 16.30, kemudian Ismunandar bersama dengan ajudannya (AW) datang menyusul ke Jakarta.

Tim KPK yang sudah mengintai dengan penyadapan menemukan kepastian sudah adanya penggunaan uang yang diduga dikumpulkan dari pengusaha yang menjadi rekanan Pemkab Kutim. Atas dasar itu kemudian tim KPK di Jakarta sekitar pukul 18.45, menangkap Ismunandar di sebuah restoran di kawasan Senayan Jakarta. Berita sebelumnya dari KPK menyebutkan penangkapan disebuah hotel di Jakarta.

Menurut Wakil Ketua KPK Nawawi, pengusaha bernama Aditya Maharani menjadi rekanan proyek-proyek di Dinas PU (Pekerjaan Umum) Kutim. Diantaranya pembangunan Embung di Desa Maloy Kecamatan Sangkulirang sebesar Rp8,3 Miliar dengan nama perusahaan CV Permata Grup, pembangunan rutan Polres Kutai Timur Rp1,7 M oleh CV Bebika Borneo, proyek peningkatan jalan Poros Kecamatan Rantau Pulung Rp9,6 miliar oleh CV Bulanda, pembangunan kantor Polsek Teluk Pandan senilai Rp1,8 M oleh CV Bulanda, proyek optimalisasi pipa air bersih PT GAM senilai Rp5,1 M oleh CV Cahaya Bintang, pengadaan dan pemasangan LPJU Jalan AP Pranoto Sangatta oleh PT Pesona Citra Gemilang senilai Rp1,9 M.

Kemudian pengusaha lainnya yang menjadi tersangka juga bernama Deky Aryanto menjadi rekanan Dinas Pendidikan Kutim dengan nilai proyek Rp40 Miliar. Pada 11 Juni diketahui KPK menduga terjadi penerimaan hadiah dari Aditya Maharani kepada Ismunandar sebesar Rp550 juta dan dari Deky Aryanto sebesar Rp 2,1 Miliar. Pemberian hadiah itu melalui Kepala Bapenda Kutim, Musyafa dan Kepala BPKAD Kutim Suriansyah, serta Encik Ur Firgasih selaku Ketua DPRD Kutim.

Besok harinya Musyafa menyimpan uang itu ke beberapa rekening bank atas namanya. Masing-masing ke Bank Syariah Mandiri Rp400 Juta, Bank Mandiri Rp900 Juta dan Bank Mega Rp800 juta.

KPK mendapati jejak pemakaian uang tersebut oleh Musyafa untuk kepentingan Ismunandar, diantaranya 23-30 Juni 2020, membayar Izuzu membeli mobil Elf sebesar Rp550 Juta, beli tiket ke Jakarta Rp33 juta, bayar hotel di Jakarta Rp15,2 juta. #le

16 Orang Diamankan KPK

JADI TERSANGKA
1. Ismunandar, Bupati Kutai Timur
2. Encek Unguria Riarinda Firgasih, Ketua DPRD Kutai Timur
3. Aswandini, Kepala Dinas PU Kutim
4. Musyaffa, Kepala Bapenda Kutim
5. Suriansyah, Kepala BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah) Kutim
6. Aditya Maharani, Kontraktor Dinas Pekerjaan Umum Kutim.
7. Deky Aryanto, rekanan Dinas Pendidikan Kutim.

MENJADI SAKSI

8. Lila Mei Puspita, Staf dari AM
9. Arif Wibisono, AJudan Bupati
10. Edy Surya, Sales Izisu samarinda
11. Muhammad Nassar, staf Dinas PU
12. Asran, staf Dinas PU
13. Hafaruddin, ajudan Bupati
14. Herianto staf CV Bulanta
15. Sesthy, staf CV Bulanta
16. Dedy Febriansara, Staf Bapenda Kutim