BeritaKaltim.Co

Mahyudin Serius, Sudah 17 Provinsi ‘Digarapnya’

JAKARTA, BERITAKALTIM.com- Sejak mendeklarasikan diri sebagai Caketum (Calon Ketua Umum) Partai Golkar pada 13 Februari 2016 yang lalu, Mahyudin sudah melakukan safari politik ke 16 propinsi dan berjumpa dengan 270 pengurus DPD I dan DPD II sebagai pemilik suara sah di Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) nanti. Kunjungan ke Bali, Minggu (24/4/2016) lalu adalah propinsi ke-17 yang disambanginya.

“Menang kalah itu konsekuensi biasa dalam sebuah kontestasi. Saya tidak takut,” ungkap Mahyudin ketika bersama kader dan pengurus DPD I dan DPD II Golkar seprovinsi Bali dalam pers rilis yang diterima via email beritakaltim.com, Selasa (26/4/2016). Safari politik ke Bali dilakukan di sela tugasnya sebagai Wakil Ketua MPR RI, sekaligus memenuhi undangan DPD I Golkar Bali untuk menyampaikan misi-visi sebagai kandidat calon ketua umum Partai Golkar.

Kedatangan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar ini disambut oleh Sekretaris DPD I Golkar Bali; I Nyoman Sugawa dan Wakil Ketua Bidang OKK DPD I Golkar Bali; I Gusti Putu Wijaya. Mahyudin hadir didampingi istrinya yang juga legislator dari dapil Kalimantan Tengah; Agati Sulie.

Setidaknya ada 5 hal penting yang disampaikan mantan Bupati Kutai Timur tersebut dalam ramah tamah di Kantor DPD I Golkar Bali di Denpasar. Pertama, adalah siap menang dan siap kalah.

“Jika saya menang maka saya akan merangkul semua pihak agar soliditas Golkar dan solidaritas kader terjaga sehingga partai tetap akan menjadi besar,” kata Mahyudin. Sedangkan bila kalah, Mahyudin mengaku siap jika kapanpun harus dicopot dari jabatannya. Menurutnya dia takkan pindah partai atau buat partai baru bila ternyata kalah.

Hal kedua, Mahyudin mengaku ingin mengubah citra Golkar menjadi partai yang bersih dan santun. Upaya yang dilakukannya jika dipercaya oleh para pemegang sah suara, dia akan melakukan bersih-bersih. Jangan sampai partai jadi sarang koruptor.

Dengan konsep Rebranding, Ketua Umum HKTI ini berjanji mengubah citra partai demi kejayaan Partai Golkar. “Bersih dan santun itu dimulai dari Munaslub. Makanya saya menolak money politics yang merendahkan marwah partai dan menghancurkan moral kader. Saya juga menolak black campaign,” katanya.

Ketiga, Golkar harus kembali menjadi Nomor Satu. “Golkar di bawah pak Akbar Tandjung pernah menjadi nomor satu. Menang di 26 dari 33 propinsi. Saya yakin bisa melakukan apa yang pernah dilakukan beliau,” ungkap Mahyudin dengan yakin.

Menurutnya, potensi para kader Golkar sungguh luar biasa. Hanya perlu sebuah kepemimpinan yang tepat untuk mengelolanya. “Dengan sistem meritokrasi obyektif, saya optimis dapat menggali potensi tiap kader untuk diberdayakan sebesar-besarnya menjadikan Golkar kembali jaya,” kata pria dengan hobi berkebun ini.

Keempat, Presiden harus dari Partai Golkar. “Golkar harus merebut posisi presiden atau wakil presiden. Golkar harus jadi The Rulling Party,” kata Mahyudin. Menurutnya, kader-kader akar rumput sudah lama merindukan capres ataupun cawapres dari kader internal Partai Golkar. Bukan sekedar menjadi partai pengusung atau pendukung.

“Golkar tidak pernah kekurangan kader. Banyak kadernya yang berkualitas dan layak untuk dimajukan baik sebagai capres ataupun cawapres,” kata Insinyur lulusan Universitas Lambung Mangkurat ini.

Kelima, Menghapuskan mahar politik kepada para calon pilkada yang diusung dan didukung oleh Golkar. “Yang paling tahu kondisi di daerah adalah pengurus dan kader. Jangan sampai ketika kader ingin maju dalam pilkada justru dimintai mahar. Kalau saya terpilih jadi Ketua Umum, saya jamin tidak ada itu,” kata Mahyudin. Bahkan menurutnya kalau perlu DPP akan sekuat tenaga memenangkan kader internal yang diusung dalam Pilkada. #le

Comments are closed.