BeritaKaltim.Co

Penyebar PKI Bangkit Lagi Terciduk, Polri Dipuji

SURABAYA, beritakaltim.co- Tak ada ampun bagi penyebar hoaks bangkitnya lagi PKI (Partai Komunis Indonesia). Di Jatim, 4 pelakunya dibekuk Tim Subdit V Siber Ditreskrimsus Kepolisian Daerah (Polda) setempat.

Mereka adalah Muhammad Faisal Arifin (MFA) alias Al Fadal bin Abdul Wahab alias Abu Wahab bin Suja`i; RG asal Ngawi; SFY, asal Probolinggo; dan MDR asal Sumenep Madura.

Tuduhan kepada keempatnya adalah penyebar informasi hoaks terkait ujaran kebencian berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kerja keras polisi mendapat pujian masyarakat. Khususnya netizen yang merasakan berkurangnya konten provokatif, fitnah dan hoaks di media sosial facebook, twitter dan instagram. Sebelumnya Polri meringkus kelompok Saracen dan MCA (Moeslim Cyber Army).

“Setelah polisi menangkap MCA, kita lumayan merdeka dari hoaks. Dan kita juga tahu aktor politik/partai yang membela MCA ini. Tolong diingat baik-baik dan dicatat ya tweeps,” tulis Zuhairy Misrawi, aktivis NU (Nahdlatul Ulama) di akun twitternya.

Dalam aksi 4 pelaku yang tertangkap di Jawa Timur, mwreka menyebar informasi bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) mulai masuk ke Pondok Pesantren di Jatim.

“Mereka ini berasal dari berbagai daerah di Jatim, ada yang dari Ngawi, Surabaya, Sumenep dan Probolinggo. Mereka menyebar informasi hoaks melalui akun media sosial (medsos) Facebook,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Frans Barung Mangera, didampingi Wadireskrimsus AKBP Arman Asmara, saat jumpa pers di Mapolda Jatim, Jumat, 2 Maret 2018.

“Jadi selama ini bahwa ada kabar keberadaan PKI adalah hoaks, tidak benar. Ternyata tersangka ini yang selama ini memprovokasi dan menyebar hoaks itu,” jelasnya.

“Kami harap teman-teman menginformasikan ke publik bahwa isu PKI di Jatim tidak benar, kalau ada sudah pasti kami tindaklanjuti karena keberadaan PKI jelas dilarang oleh UU,” tambah Barung.

Barung menjelaskan para pelaku mengunggah isu PKI di Jatim dibuat sedemikian rupa, tujuannya agar wilayah Jatim yang kondusif menjadi tak kondusif.

“Salah satu contohnya kasus di Tuban, ini tidak ada penyerangan terhadap masjid maupun kiai termasuk tersusupi PKI. Termasuk yang di Kediri dan Lamongan. Semua kasus itu kata para pelaku ini, dilakukan oleh PKI dan semua itu adalah hoaks, tidak benar adanya,” ujarnya.

Akibat perbuatannya, para pelaku dijerat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Pasal 14 dan 15 serta Undang-Undang ITE Nomor 19 Tahun 2016. #

-berita ini lebih dulu ditayangkan di metrotv.com

Comments are closed.