SAMARINDA, beritakaltim.co- Ucapan dukacita mengalir deras dari kader-kader Partai Demokrat juga tokoh-tokoh masyarakat Kalimantan Timur, atas wafatnya Kristiani Herawati (67), ibu negara dari Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ibu Ani – begitu dia biasa dipanggil, meninggal dunia Sabtu (1/6/2019), pukul 11.50 di National University Hospital Singapura.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Insyaaloh khusnul khotimah. Dan tempat terbaik bagi Sang Ibu Negara Yang Sangat Dicintai Rakyatnya. Smg dalam Ridho AllohSwt AminYRA,” tulis anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Ihwan Datu Adam dalam WA Grup GPRKT (Gerakan Perjuangan Rakyat Kaltim), selang beberapa saat munculnya pemberitaan kematian Ibu Ani yang disiarkan televisi.
Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang yang juga Ketua Partai Demokrat Kalimantan Timur juga menyampaikan ucapan duka melalui akun pribadi facebooknya. Ucapan duka tersebut kemudian diikuti ucapan duka berjamaah dari pengikutnya di akun media sosial itu.
Tidak hanya kader Demokrat yang menyampaikan rasa belangsungkawa atas kepergian Ibu Ani. Tapi juga dari tokoh-tokoh politik lain, seperti Zuhdi Yahya, Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan Dapil Kaltim. Hampir semua grup WhatsApp diisi ucapan duka anggotanya.
Sekilas mengenai sejarah hidup Ibu Ani Yudhoyono. Dia lahir di Yogyakarta pada 6 Juli 1952. Ani merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, dari pasangan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dan Sunarti Sri Hadiyah.
Ani lahir di RS Bethesda Yogyakarta. Kala itu, Ani lahir prematur. Ia lahir di usia kandungan 7 bulan. Berat badannya hanya 2 kilogram.
Semasa kecil, Ani dikenal sebagai perempuan yang tomboi. Saat berusia 5 tahun, Ani kecil suka memanjat pohon cermai dan mangga yang tumbuh di depan rumahnya. Ani senang duduk berjam-jam di atas pohon. Ia baru turun setelah diteriaki ibunya.
“Saking gemarnya memanjat, aku bisa berjam-jam duduk di pohon. Biasanya baru turun setelah diteriaki ibu. Cara aku turun sangat lincah, persis Tarzan. Bangga rasanya jadi jagoan kecil pemanjat pohon,” kata Ani dalam buku biografinya, Kepak Sayap Putri Prajurit (2010), yang ditulis Alberthiene Endah.
Tidak hanya gemar memanjat pohon, Ani kecil juga sering berenang di sungai, berlari-larian di sawah, serta membuat aneka mobil-mobilan dari buah.
Beranjak dewasa, Ani memiliki ketertarikan untuk menjadi dokter. Begitu lulus SMA, ia pun mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sayangnya, ia tidak lulus.
Ani kemudian kembali mendaftar Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Di tahun ketiga, Ani terpaksa berhenti kuliah karena harus mengikuti ayahnya pindah ke Seoul, Korea Selatan. Saat itu, ayahnya ditunjuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan.
“Sebuah keputusan yang berat. Saya harus berhenti kuliah karena waktu itu di Seoul tidak ada satu kampus yang menggelar kuliah dalam bahasa Inggris. Semua bahasa Korea. Itu sesuatu yang sulit, karena satu kalimat saja aku enggak ngerti,” tuturnya.
Tanggal 30 Juli 1976, Ani menikah dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, SBY baru saja dilantik menjadi perwira TNI dan menjadi lulusan terbaik. Ia dikaruniai dua putra, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono.
Selama menjadi istri tentara, Ani cukup aktif berorganisasi di Persit (Persatuan Istri Tentara) Kartika Chandra Kirana. Ketika SBY menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada era pemerintahan Gus Dur dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri, ia juga aktif berorganisasi di Dharma Pertiwi dan Dharma Wanita.
Ani juga diketahui memiliki hobi yang terbilang unik untuk seorang istri tokoh nasional, yaitu fotografi. Dalam berbagai kesempatan, khususnya saat mengikuti kegiatan SBY, ia tidak pernah lepas dari kameranya. Hasil potretannya sering ia unggah di akun pribadinya.
KRONOLOGI SAKIT IBU ANI
Sekitar 3 bulan lalu, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengabarkan kondisi Ani Yudhoyono yang dirawat di Singapura karena kanker darah melalui Youtube.
Saat itu sudah seminggu lebih Ani Yudhoyono dirawat di rumah sakit dan baru mengetahui kalau menderita kanker darah, tepatnya sejak 2 Februari 2019.
SBY mewakili Ani Yudhoyono dan keluarga besarnya pun meminta masyarakat Indonesia untuk mendoakan kesembuhan Ani Yudhoyono.
Akibat kanker darah tersebut Ani Yudhoyono pun harus menjalani perawatan intensif yang super ketat demi menjaga kondisi tubuhnya tetap stabil dan bebas virus.
SBY, Agus Yudhoyono, Edhie Baskoro, Annisa Pohan dan Aliya Rajasa secara bergantian menjaga serta mendampingi Ani Yudhoyono selama menjalani perawatan intensif di Singapura.
Bahkan sejumlah orang yang menjenguk Ani Yudhoyono tidak dapat menemuinya secara langsung. Selain itu, Ani Yudhoyono juga tidak boleh sembarang mengonsumsi makanan dan minuman selama menderita kanker darah.
Salah satunya, Ani Yudhoyono dilarang meminum air dari gelas yang sudah dibiarkan selama 2 jam. Hal tersebut demi melindungi tubuh Ani Yudhoyono dari serangan virus lainnya yang bisa memperburuk kondisinya.
Kondisi membaik
Setelah 1 bulan Ani Yudhoyono menjalani perawatan intensif dan kemoterapi, kondisinya berangsur terlihat lebih baik dan semangatnya masih belum padam.
Ani Yudhoyono pun sempat dikabarkan akan mendapat donor sumsum tulang belakang dari adiknya, Pramono Edie Wibowo.
Hal tersebut guna mengganti pabrik darahnya yang sudah rusak dan mengganti sel darah merah. Tetapi, proses donor sumsum tulang belakang itu belum sempat terlaksana karena kondisi Ani Yudhoyono yang belum sepenuhnya stabil.
Meski begitu, Ani Yudhoyono yang sudah lama hanya berdiam diri di kamar rumah sakit atau ruang ICU. Awal Maret 2019, Ani Yudhoyono sempat diizinkan keluar ruangan dan berjalan-jalan menghirup udara luar.
Saat itu Ani Yudhoyono sempat mengunggah fotonya berjalan-jalan di taman sambil mengucap rasa syukurnya bisa melihat hijaunya daun dan cerahnya langit secara langsung.
“Alhamdulillah setelah 3 bulan tidak menghirup udara segar, hari ini saya diperkenan dokter keluar ruangan untuk melihat hijaunya daun, birunya langit dan segarnya udara walau hanya 1-2 jam. Terima kasih Ya Allah…. Semoga kesehatanku semakin pulih. Mohon doa teman-teman semua,” tulis Ani Yudhoyono di instagram pribadinya.
Kondisi menurun hingga meninggal dunia
Namun, kondisi Ani Yudhoyono kembali menurun beberapa hari belakangan. Dua hari lalu, Kamis (30/5) Agus Yudhoyono pun menyampaikan bahwa Ani Yudhoyono kembali masuk ICU sejak Rabu (29/5).
Ia dan anggota keluarga yang lainnya pun sedang fokus pada upaya pemulihan kondisi kesehatan Ani Yudhoyono. Bahkan seluruh keluarga besar SBY, termasuk cucu-cucunya pun berkumpul mendampingi Ani Yudhoyono di Singapura.
Setelah 3 hari masuk ICU, kondisi Ani Yudhoyono justru dikabarkan kritis dan tidak sadarkan diri pagi tadi.
Tak lama dari munculnya kabar Ani Yudhoyono kritis dan sudah tidak sadarkan diri, Andi Arief selaku politikus Partai Demokrat pun mengabarkan istri SBY telah meninggal dunia melalui twitternya.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun, bu Ani telah meninggal dunia pada 11.50 waktu Singapura,” cuit Andi Arief. #
Comments are closed.