Raut wajah anak-anak Sekolah Dasar Swasta Muara Pegah terlihat ceria ketika sejumlah Wartawan datang melihat-lihat kondisi sekolah mereka yang berada di sebuah pulau kampung nelayan dengan sebutan Muara Pegah, Kelurahan Muara Kembang, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Ada 6 ruang kelas untuk belajar siswa-siswi mulai kelas 1 sampai kelas 6. Masing-masing ruang kelas begitu sederhana dengan ukuran 3 x 5 meter. Dinding dari kayu triplek di antaranya ada yang rusak, jebol, sehingga siswa bisa terhubung ke ruangan kelas yang satu dengan yang lainnya. Tiap kelas hanya ada 6-7 bangku belajar ditambah meja guru.
“Satu kelas kami cuma ada 5 orang,” ujar seorang siswa perempuan berseragam batik dengan rok merah di depan kelasnya, Kamis (3/10/2019).
Siswa yang bersekolah di situ, tak hanya berasal dan tinggal di pulau itu. Sebagian lainnya, datang dari Muara Ulu Besar dan Muara Ulu Kecil. Siswa-siswa itu harus menumpang perahu bermesin, menyebrang laut, untuk tiba di sekolahnya.

Warga bersyukur karena ada perusahaan membantu mengadakan ruang kelas Sekolah Dasar Swasta untuk pendidikan dasar anak-anak mereka. Perusahaan yang akrab mereka sebut namanya adalah; PT Total E&P Indonesie. Warga lebih suka menyebutnya hanya dengan kata ‘Total’ saja.
“Di sini semua dibantu Total, Pak,” kata Sudirman, Ketua RT 11 ketika menyampaikan profile desa kepada para Wartawan.
Total E&P Indonesie adalah pemegang konsesi minyak dan gas di Blok Mahakam. Perusahaan itu pertama kali menandatangani kontrak bagi hasil pada 6 Oktober 1966 dan baru berakhir pada 31 Desember 2017 atau setelah 50 tahun beroperasi menyedot minyak dan gas di kawasan itu.
Perkampungan nelayan Muara Pegah, berada di areal konsesi pertambangan perusahaan itu. Jika dilihat dari atas, perkampungan ini terletak di antara pulau-pulau yang menyerupai kipas di kawasan Muara Sungai Mahakam. Para akademisi lebih suka menyebutnya “Delta Mahakam”.
Pak Sudirman menjelaskan, dia tidak tahu persis kapan dimulainya kehidupan perkampungan nelayan di Muara Pegah itu. Namun dia bisa memastikan, kehidupan sosial di kampungnya sudah ada sejak 30 tahun silam. Dia sendiri yang mengalami, karena masa kanak-kanak Pak Sudirman dihabiskan di tanah itu.

Rumah-rumah nelayan di Muara Pegah tak langsung menapak ke tanah. Mereka membangun rumah panggung. Begitu juga dengan jalan yang terhubung dari rumah satu ke rumah lainnya, semua jalan didirikan menjadi jembatan kayu mangrove yang banyak tersedia di situ.
Bulan Desember 2018 lalu, Total Indonesie yang sekarang sudah diambilalih Pertamina dan menjadi PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mengucurkan bantuan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) kepada masyarakat Muara Pegah. Seluruh rumah warga, yakni 49 unit dibantu listrik dengan menggunakan tenaga surya. Namanya Solar Home System atau disingkat SHS. Dengan terpasangnya panel penerima tenaga surya, warga sekarang bisa nonton televisi kalau malam hari.
”Sekarang saya bisa belajar malam Om. Karena sudah punya listrik,” ujar seorang siswa lainnya ketika berbincang dengan beritakaltim.
Mereka mengaku senang bisa nonton acara televisi. Hanya saja sering kali para siswa harus mengalah, karena remote televisi dikuasai orangtua mereka yang juga punya channel kesukaan yang berbeda dengan selera dan kebutuhan anak seperti filem kartun.
Dari alat SHS yang dibantu oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), warga bisa menyimpan stok listrik pada malam hari hingga 960 WH (Watt Hour). Kalau dipakai menghidupkan televisi dan lampu, diakui warga, paling-paling mereka hanya bisa menonton acara kesukaan di televisi pada malam hari selama 2 jam. Itu sebabnya, prioritas listrik yang terbatas itu mereka manfaatkan sungguh-sungguh untuk penerangan agar anak-anak bisa belajar.
“Alhamdulilah, yang terpenting warga di sini sudah punya listrik. Gak gelap gulita lagi,” ucap Sudirman. Sebelumnya, ada sumber listrik dari genset, tapi harus membayar iuran sehingga tak semua warga yang jumlah 203 jiwa di situ bisa menikmatinya.
Untuk sampai ke pekampungan nelayan Muara Pegah, bisa mencarter speedboat dari Pelabuhan Pasar Pagi Samarinda dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jarak paling dekat adalah dari Handil, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dari kawasan Handil yang sebagian kawasannya adalah areal konsesi Blok Mahakam dan sekarang disebut Wilayah Kerja (WK) Mahakam, hanya perlu waktu sekitar 20 menit untuk tiba di perkampungan nelayan Muara Pegah.
Tak hanya listrik dan bangunan sekolah dasar yang menjadi perhatian PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Perusahaan juga membantu membangun jembatan dan mendirikan bangunan fasilitas pelayanan kesehatan berupa Polindes atau Poliklinik Desa. Dengan adanya Polindes, warga bisa melakukan cek kesehatan seperti kolestrol, asam urat, darah tinggi dan lainnya.
Menurut Halimah Sadiah, Sekretaris RT 11, yang juga kader Posyandu di situ, kini soal kesehatan warga bisa ke Polindes dan juga ke Posmat (Pos Pengamat) Angkatan Laut. Pemkab Kutai Kartanegara mengirim tenaga kesehatan pada waktu tertentu. #
Penulis: les@beritakaltim.co
Comments are closed.