BERITAKALTIM.CO- Siang itu matahari begitu terik. Tapi Abdul Rasyid terlihat antusias menunjukkan buah karyanya menyediakan air bersih bagi warga Dusun Karya Makmur, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Tiba di gang yang tanahnya menurun, Abdul Rasyid mengajak jalan kaki menyelinap lorong rumah-rumah warga. Bukan jalan umum, tapi menjadi jalan pintas menuju tempat pengolah air bersih Pansimas (penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat).
Abdul Rasyid adalah Kepala Desa Batuah. Sejak mendapat kepercayaan masyarakat melalui pemilihan langsung warga desa itu tahun 2019 silam, dia langsung bikin program penyediaan air bersih. Sebagai warga asli yang menghabiskan masa kecil, remaja hingga dewasa di kampung itu, Rasyid – begitu dia disapa- sudah bulat tekadnya; Air bersih harus ada.
Ini adalah masalah jabatan pertama sebagai kepala desa. Masa jabatannya akan berakhir 2025, namun dia sudah membangun 4 Pansimas untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakatnya.
“Idealnya ada 10 pansimas. Karena di sini ada 10 dusun. Jadi tiap dusun sudah tersedia layanan air bersih,” kata Rasyid kepada Wartawan Beritakaltim yang menemuinya di lokasi Pansimas Dusun Karya Makmur.
Cerita Rasyid, begitu dilantik menjadi kepala desa, dia langsung belajar soal pengelolaan air bersih di beberapa daerah. Dia dan rekannya, Nasrullah, juga beberapa warga yang konsen soal air bersih melakukan studi banding ke daerah yang dianggap sudah lebih maju dalam hal pengelolaan Pansimas.
Banyak yang didapat dari kunjungan ke Pansimas daerah lain itu. Dari yang dikelola secara sederhana, sampai yang sudah maju. Dengan bekal itu, didukung pula oleh warganya yang memang merindukan kehadiran air bersih dia bergerak secara mandiri.
“Kami di sini kan ada juga perusahaan-perusahaan yang beroperasi. Termasuk pertambangan batu bara. Kita urunan lah untuk membangun Pansimas ini,” ceritanya.
Di tangan sang kepala desa, saat ini sudah 30 persen dari 10 dusun di Desa Batuah yang terlayani air bersih.
“Kita menerapkan strategi bertahap, melihat kemampuan kapasitas persediaan air galian. Kita sudah hitung dengan matang. Kalau kita pasang instalasi air kesemua tempat, biayanya terlalu besar dan belum tentu langsung terlayani, karena kapasitas sumber airnya terbatas,” kata dia.
Kawasan Desa Batuah memang berbukit-bukit. Banyak kontur yang membuat sulit mendapatkan air bersih. Di sana tidak memiliki sungai, sehingga alternatif sumber air bersih berasal dari tanah.
Instalasi air Pansimas bersumber dari air tanah, yang dibor dan kemudian disedot ke tempat pengolahan. Setelah melalui proses penjernihan, melalui beberapa tahapan, baru air bisa dialirkan lewat pipa ke rumah-rumah warga.
Praktik distribusi air sama dengan dilakukan PDAM. Setiap rumah memasang meteran air, sehingga setiap bulan terhitung berapa banyak air yang dialirkan ke rumah itu.
“Pengelolaan air bersih pansimas ini oleh BUMDes,” ujarnya lagi didamping oleh pengelola Pansimas, Nasrullah.
BUMDes adalah Badan Usaha Milik Desa. BUMDes bernama Batuah Prima Mandiri inilah yang menagih warga pelanggan air bersih dengan harga Rp8 ribu per meter kubik. Tiap bulan, seperti cerita Nasrul, pengelola Pansimas Dusun Karya Makmur, airnya laku sekitar 10 ribu meter kubik.
“Dari sisi bisnis. Tidak bisa dikatakan 100 persen bisnis. Karena di sini ada aspek pemenuhan kebutuhan masyarakat. Ada aspek sosial. Walaupun ada keuntungannya, digunakan lagi untuk perawatan dan pengembangan usaha. Karena kebutuhan pengadaan air bersih masih sangat tinggi untuk dikembangkan”.
“Ini butuh perjuangan. Tapi kalau tidak dimulai dari sekarang. Sampai kapan lagi, ya tetap begini,” ujarnya. #
Wartawan: Charle
Comments are closed.