BeritaKaltim.Co

Pansus RTRW Dibatasi Waktu Desember, Ini Kata Baharuddin Demmu

BERITAKALTIM.CO- Ketua Pansus RTRW (Panitia Khusus Rencana Tata Ruang Wilayah) Baharuddin Demmu mengakui tidak mudah menyelesaikan masalah pergeseran garis pantai di kawasan perairan Balikpapan. Apalagi Pansus dibatasi oleh waktu kerja selama 3 bulan.

Sesuai PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 21 tahun 2001, maka kerja Pansus RTRW dibatasi sampai sekitar bulan Desember 2022.

Dengan target waktu itu, Pansus bisa tercapai, namun masih ada beberapa yang harus dilakukan seperti mengundang kembali BIG (Badan Informasi Geofasial) untuk memberikan penjelasan secara utuh tentang pergeseran garis pantai.

Menurut Baharuddin Demmu dalam Rapat Koordinasi tahap pembahasan lintas sektor, Jumat (18/11/2022) di Hotel Gran Melia Jakarta, setelah mendapat penjelasan dari BIG mengenai pergeseran tersebut kemungkinan besar tim Pansus RTRW akan membuat catatan dalam draf Raperda RTRW tersebut.

“Bahwa kami tidak setuju. Karena kami melihat hanya ada segelintir kepentingan yang diakomodir. Sehingga target mudah-mudahan desember tidak ada kendala. Dan harapannya teman-teman di Kaltim baik itu akademisi maupun LSM jika memang masih ada hal yang ingin disampaikan segera disampaikan, karena ini juga dikejar waktu. Terburu-buru tidak juga karena masukan-masukan telah kita sampaikan semua,” papar Bahar.

Soal adanya pergeseran garis pantai di Balikpapan, menurut Wakil Ketua Pansus RTRW Kaltim Sapto Setyo Pramono yang ikut dalam rapat koordinasi lintas sektor tersebut, ditemukan juga adanya alih fungsi yang sangat luar biasa dari lahan pertanian menjadi pertambangan dan sebagainya.

“Kita minta peralihan menjadi HGU jangan diikutkan dalam RTRW, lebih baik mengajukan masing-masing Yang diutamakan adalah hutan rakyat, kebun rakyat serta pemukiman yang sudah berdomisili bertahun-tahun di wilayah tersebut ini yang harus dikeluarkan menjadi APL,” katanya.

Tak hanya itu Sapto juga meminta mekanisme pertambangan yang lebih ramah lingkungan, sebab yang ada saat ini baik open pit mining dan underground mining keduanya sama-sama merusak lingkungan. Selain itu menciptakan ketahanan pangan. #ADV

Comments are closed.