BeritaKaltim.Co

Obrolan Sastra di Pucuk Daun yang Gayeng

IMAJINASI dalam sebuah karya sastra yang penuh dengan makna sebenarnya mampu menyihir penikmat karya seni dalam menjalani hidup, serta menjadi salah satu topik bahasan beberapa pekerja seni dalam sebuah pertemuan di Kafe Pucuk Daun di Jalan AM Rifadin Samarinda Seberang, Jumat (18/7/2025).

Malam itu langit tampak cerah, meskipun demikian beberapa pekerja seni dari berbagai lapisan datang dan berkumpul bersama membahas perkembangan seni sastra yang ada di Kalimantan Timur, utamanya pekerja seni yang ada di Samarinda. Beberapa nama seperti Ketua Umum DKD (Dewan Kesenian Daerah) Kaltim, Syafril Teha Noor yang juga budayawan Kaltim, tokoh budaya dan teater Hamdani, serta beberapa nama lainnya yang intens berkecimpung dalam sastra hadir dengan antusias.

Pertemuan yang berlangsung gayeng dan penuh keakraban itu dipandu oleh Ketua Komite Sastra DKD Kaltim Amin Wangsitalaja, yang membuka dengan maksud pertemuan yang ada tidak lepas dari rasa prihatin atas perkembangan seni sastra di Kalimantan Timur. Amin mengupas secara dalam tentang perkembangan sastra di Kaltim sejak zaman Achmad Dahlan, Oemar Dahlan, Achmad Noor, Mugni Baharuddin, Ahim Hasibuan, Syafrudin Pernyata, Syafril Teha Noor, Dimas Hono, Adam A Chiefni, Syamsul Khaidir, Hamdani, M Syabir hingga periode tahun 2000 ke atas.

Bagi Amin perjalanan panjang sastra di Kaltim yang demikian penuh warna itu, sangat disayangkan kalau sampai tidak mengisi perkembangan sastra di Indonesia, sehingga saat pelaksaan Dialog Serantau Borneo Kaltim XVI di Samarinda yang diikuti oleh pekerja seni dari Sabah, Sarawak, Brunai Darussalam dan pekerja seni di seluruh Kalimantan, memunculkan sebuah keinginan besar bagi sebagian besar pekerja seni yang ada di Kaltim, agar perkembangan sastra di Kaltim bisa menjadi sebuah kegiatan yang mewarnai Khasanah sastra di Indonesia.

Ketua Umum DKD Kaltim Syafril Teha Noor yang sudah berkecimpung dalam dunia seni dari tahun 1976 di Yogyakarta, menyambut dan mendukung sepenuhnya kegiatan pekerja seni dalam mengembangkan kemampuan jiwa dalam berkarya. Bagi Syafril Teha Noor, pekerja seni adalah seseorang yang bekerja dalam senyap, tidak perlu banyak omong namun selalu bisa membawa pencerahan, mampu membawa perubahan dalam jiwa.

“Pertemuan ini jelas membawa berkah dan Insya Allah akan menambah perbendaharaan batin bagi kita semua, sebab dengan adanya pertemuan ini, maka perkembangan seni, utamanya sastra di Kaltim bisa meningkat dan akan muncul pekerja seni yang bisa membawa nama besar Kaltim,” kata Syafril Teha Noor.

Bahkan Syafril Teha Noor sangat antusias, saat salah satu peserta mempunyai ide untuk melaksanakan kemah sastra di Samboja.

“Kemah sastra yang akan dilaksanakan di Samboja, hendaknya dikemas dengan baik dan melibatkan hidup kehidupan masyarakat yang ada. Semua peserta diajak untuk menyelami kondisi dan situasi yang ada di Samboja, diajak berkeliling menyelami kehidupan nelayan dan lainnya. Sehingga peserta benar-benar terlibat dalam suasana yang penuh dengan nuansa seni,” lanjut Syafril Teha Noor.

Sementara itu Hamdani menyoroti soal kritik sastra yang ada di Kaltim, karena hampir dipastikan karya sastra yang lahir di ruang-ruang komunitas, tidak terdeteksi, hampir semuanya beredar dalam lingkungan komunitas sendiri, jarang sekali pekerja seni dan sastra yang ada di Kaltim dilibatkan atau memang sengaja tidak dilibatkan.

“Peranan kritik sastra bisa menjadi salah satu pemicu bagi pekerja seni untuk terus berkarya dan meningkatkan kemampuan dalam melihat, menilai dan merasakan akan arti hidup yang ada,” ujar Hamdani.

Yang jelas pertemuan sastra di Pucuk Daun milik M Huseni Labib, akan membawa imbas dalam perkembangan sastra di Kaltim dalam era selanjutnya, karena hampir sebagian peserta menginginkan kegiatan ini berlangsung secara berkesinambungan, minimal 2 minggu sekali.#

Reporter|Editor: Hoesin KH

Comments are closed.