BeritaKaltim.Co

Jejak Sejarah Makam Keramat di Balikpapan

Antara Mitos, Fakta, dan Wisata Religi

JIKA kita menelusuri jejak sejarah Balikpapan, kota minyak ini ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih tua dari sekadar kilang dan tambang. Di balik hiruk pikuk modernitas, ada kisah-kisah sakral yang hidup di tengah masyarakat, terutama lewat keberadaan makam-makam keramat yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Salah satunya berada di puncak Gunung Komendur, Kampung Pelayaran, Kelurahan Prapatan. Makam ini terletak tidak jauh dari Goa Jepang peninggalan masa pendudukan, seolah menyatukan dua lapisan sejarah: kolonial dan kerajaan. Di tempat ini, terdapat pusara Pangeran Aji Kemala, putra Sultan Muhammad Sulaiman, raja ke-20 Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Pangeran yang wafat pada 1933 ini diberi gelar Pangeran Aji Kerta Intan.

Menurut juru pelihara, makam ini ditemukan secara tak sengaja oleh warga pada tahun 2010. Setelah diberitakan media, pemerintah kota kemudian menetapkannya sebagai Cagar Budaya sesuai UU Nomor 11 Tahun 2010. Sejak itu, makam ini ramai diziarahi. Meski harus melewati jalan setapak menanjak yang cukup melelahkan, banyak orang rela datang demi merasakan nuansa sakral sekaligus menikmati panorama Balikpapan dari ketinggian—pemandangan kilang minyak dan laut biru yang membentang.

Namun Gunung Komendur bukan satu-satunya. Di lereng kakinya, tepat di tikungan menuju Pelabuhan Semayang, terdapat makam keramat lain yang dikenal sebagai Makam Pulau Tokong. Pusara ini diyakini milik seorang mufti keturunan Habib, yakni Syarifah Fatimah (Syarifah Banten), yang disebut masih bersaudara dengan tokoh makam keramat Tanjung Priok, Mbah Priok. Cerita-cerita mistis pun menyelimutinya. Konon, saat masa kolonial, makam ini sempat hendak dipindahkan ke Pulau Tokong untuk kepentingan pengembangan pelabuhan. Namun, secara misterius, pusara itu kembali ke tempat asalnya. Bahkan disebutkan ketika prajurit Belanda mencoba menghancurkannya dengan granat, senjata itu justru gagal meledak dan malah memakan korban sendiri. Sejak saat itu, makam ini kian disakralkan.

Selain dua makam utama tadi, Balikpapan juga memiliki makam tertua di kawasan Pantai Lamaru dan Hutan Lindung Sungai Wain. Sayangnya, tidak semua makam keramat bisa bertahan. Beberapa di antaranya hilang akibat abrasi laut atau dibiarkan tanpa perawatan.

Cerita-cerita tentang makam keramat ini memperlihatkan betapa sejarah, mitos, dan budaya saling terjalin erat dalam kehidupan masyarakat Balikpapan. Bagi sebagian orang, ia menjadi lokasi ziarah religi. Bagi lainnya, ia adalah sumber pengetahuan sejarah lokal. Dan bagi generasi muda, makam-makam ini seharusnya menjadi pengingat bahwa Balikpapan bukan hanya kota industri, tapi juga kota dengan warisan sejarah dan spiritual yang mendalam. #

*) penulis, pemerhati sejarah, tinggal di Balikpapan

Comments are closed.