BeritaKaltim.Co

Dinkes Kaltim Perkuat Langkah Tekan Kasus TBC, Target Turun 50 Persen pada 2030

BERITAKALTIM.CO — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat langkah konkret dalam menekan angka kasus dan kematian akibat penyakit tuberkulosis (TBC). Program ini menjadi perhatian serius tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional, seiring dengan arahan Presiden Joko Widodo agar Indonesia mampu menurunkan prevalensi TBC hingga 50 persen pada akhir tahun 2030.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa isu penanganan TBC kini menjadi salah satu prioritas utama sektor kesehatan daerah. Hal ini menyusul tingginya angka kematian akibat TBC yang masih terjadi di berbagai kabupaten dan kota di Kaltim.

“Ini sudah menjadi atensi dari Bapak Presiden terkait penurunan prevalensi sampai 50 persen di akhir tahun 2030. Karena ini menjadi quick win-nya Pak Presiden dan juga menjadi bagian dari grand strategy kita untuk penanganan tuberkulosis,” ujar Jaya di Samarinda, Rabu (5/11/2025).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kaltim, hingga Oktober 2025 tercatat hampir 300 orang meninggal akibat TBC, sedangkan pada tahun 2024 jumlahnya mencapai 454 kematian. Meski menunjukkan penurunan, angka ini dinilai masih cukup tinggi dan membutuhkan intervensi serius.

“Tahun lalu bahkan 454 orang meninggal. Ini luar biasa, dan kalau kita tidak melakukan upaya serius, penyakit TBC bisa menjadi masalah besar di Kaltim hingga beberapa tahun ke depan,” tegasnya.

Jaya menjelaskan, Pemprov Kaltim telah menyiapkan sejumlah regulasi pendukung, mulai dari Peraturan Gubernur tentang Penanggulangan TBC hingga Surat Keputusan Gubernur mengenai Tim Percepatan Penurunan Tuberkulosis.

Tim ini dibentuk untuk mempercepat koordinasi lintas sektor dan memastikan seluruh program berjalan efektif di lapangan.

“Peraturan gubernurnya sudah ada, begitu juga SK tentang tim percepatan penurunan TBC. Dalam tim ini, kita melibatkan seluruh stakeholder melalui pendekatan pentahelix — dari akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, media, hingga masyarakat,” papar Jaya.

Ia menambahkan, kerja sama lintas sektor sangat penting untuk mendorong penemuan kasus secara dini, memastikan pengobatan berjalan tuntas, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC. Upaya ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan masyarakat sehat dan produktif menjelang Indonesia Emas 2045.

“Sesuai dengan tema besar pembangunan nasional, kita ingin menuju generasi emas 2045. Tapi sebelum ke sana, tahun 2030 kita harus memastikan masyarakat sejahtera dan sehat dulu. Itu pondasinya,” katanya.

Melalui komitmen bersama seluruh pihak, Dinas Kesehatan Kaltim optimistis target penurunan prevalensi TBC sebesar 50 persen pada tahun 2030 dapat tercapai. Pemerintah daerah juga berkomitmen memperkuat edukasi masyarakat, memperluas layanan deteksi dini, serta memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan kasus agar penanganan lebih cepat dan akurat.

“Kuncinya adalah kolaborasi dan komitmen. Kalau semua pihak bergerak bersama, saya yakin target penurunan TBC bisa kita capai,” pungkasnya.

YANI | WONG

Comments are closed.