BERITAKALTIM.CO – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Sunggono menghadiri sekaligus menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Tenggarong dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kukar, Rabu (5/11/2025).
PKS ini berfokus pada Peningkatan Minat Baca dan Penyediaan Buku Bacaan bagi Warga Binaan, dan berlangsung di Aula Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong. Dalam kesempatan yang sama, Sekda Kukar juga meresmikan Perpustakaan “Sipena” (Sarana Informasi dan Peningkatan Literasi Narapidana) yang berada di lingkungan Lapas Perempuan Tenggarong.
Dalam sambutannya, Sekda Kukar Sunggono menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas terjalinnya kerja sama antara Lapas Perempuan Tenggarong dan Diarpus Kukar.
Ia menyebut, inisiatif ini merupakan langkah strategis dan mulia dalam upaya menumbuhkan budaya literasi sebagai bagian dari proses pembinaan kepribadian warga binaan.
“Ini adalah upaya kita bersama untuk memberikan bekal yang berharga bagi warga binaan. Melalui PKS ini, saya berharap hadir kegiatan yang positif, edukatif, dan relevan bagi mereka. Kita memberi akses terhadap ilmu pengetahuan yang dapat membantu saat kembali ke masyarakat,” ujar Sunggono.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut sejalan dengan program Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) yang tengah digalakkan oleh Diarpus Kukar. Dengan hadirnya perpustakaan di lingkungan Lapas, diharapkan warga binaan memiliki sarana untuk belajar, membaca, dan membuka jendela pengetahuan yang lebih luas.
Menurut Sunggono, peningkatan literasi akan berdampak nyata terhadap perubahan perilaku, peningkatan keterampilan, serta kesiapan warga binaan untuk berintegrasi kembali dengan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya ketersediaan koleksi buku yang mendukung program pembinaan dan rehabilitasi, terutama buku-buku keterampilan vokasional seperti tata boga, tata rias, menjahit, dan kerajinan tangan yang bisa menjadi bekal ekonomi setelah bebas.
Selain itu, koleksi perpustakaan juga diharapkan mencakup literatur pengembangan diri, psikologi populer, bacaan spiritual, serta buku-buku parenting, mengingat banyak warga binaan merupakan seorang ibu.
“Buku-buku tersebut diharapkan dapat membantu mereka tetap menjalankan peran sebagai ibu, mendidik anak dari balik jeruji, dan mempersiapkan diri untuk membangun keluarga kembali,” jelasnya.
Sekda juga menyoroti pentingnya literasi hukum dasar dan pelatihan literasi digital bagi warga binaan, seperti keterampilan mengetik, pengoperasian komputer, hingga penggunaan program Microsoft Office, agar mereka tidak tertinggal teknologi dan lebih siap bersaing di dunia kerja.
Sunggono juga mendorong agar warga binaan yang memiliki kemampuan literasi lebih baik dapat menjadi tutor sebaya bagi rekan-rekannya yang belum bisa membaca atau menulis dengan baik. Dengan begitu, warga binaan dapat berperan aktif dalam pengelolaan perpustakaan dan kegiatan pembinaan lainnya.
“Kehadiran perpustakaan di Lapas Perempuan dengan beraneka koleksi diharapkan mengubah fungsi perpustakaan dari sekadar pengisi waktu luang menjadi instrumen vital pemberdayaan,” ungkapnya.
Ia berharap perpustakaan “Sipena” dapat menjadi wadah pembinaan yang membekali warga binaan dengan keterampilan hidup, membangun kepercayaan diri, serta mempersiapkan mereka untuk kembali ke masyarakat sebagai individu yang lebih mandiri dan produktif.
“Saya tentu mendukung upaya ini agar segera direalisasikan dengan maksimal. Semoga usaha ini berbuah manis dengan hadirnya individu-individu yang produktif dan siap kembali ke tengah masyarakat,” pungkas Sunggono.
SANDI | WONG | ADV
Comments are closed.