BERITAKALTIM.CO – Di beranda kecil Masjid Al-Mukarram, Samarinda, suara laki-laki itu terdengar pelan, hampir seperti berbisik. Namun getarannya jelas. Burhansyah, atau yang lebih akrab disapa Ahmad Bukhary, tengah mencoba mengulang kembali peristiwa yang mengubah hidupnya sebuah kabar yang menurutnya datang “begitu saja, seperti angin dari langit”, ketika ia diberitahu terpilih sebagai peserta Umrah Gratis Program Gratispol Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
“Ya Allah, merinding saya waktu itu, Orang seperti kami ini mana terpikir bisa ke sana. Secara logika tidak mungkin.” ucapnya sambil memejamkan mata sebentar, seolah sensasi itu masih tersisa di kulitnya.
Bagi Bukhary, seorang marbot yang lebih sering dikenal karena kerja-kerja senyapnya membersihkan rumah ibadah, keberangkatan umrah bukanlah sesuatu yang berani ia masukkan dalam mimpi.
Saban hari, hidupnya dipenuhi rutinitas yang sederhana: membuka pintu masjid sebelum subuh, menyapu lantai yang dingin, memastikan karpet tidak berdebu, mengecek suara pengeras, lalu menutup kembali pintu masjid ketika malam benar-benar runtuh.
“Bertahun-tahun begitu, Tapi saya jalani karena ibadah.”katanya
Angin yang Mengabarkan Kabar Mustahil
Semuanya berawal dari percakapan para marbot di lingkungan Kelurahan Jawa. Ada kabar beredar bahwa pemerintah provinsi akan memberikan kuota umrah khusus untuk penjaga masjid sebagai bentuk penghargaan. Awalnya, kabar itu terdengar seperti rumor yang kerap mampir lalu kehilangan arah.
“Teman-teman bilang ada program umrah gratis. Saya jawab, sudahlah, itu paling cuma omongan,” kenangnya sambil tersenyum.
Namun suatu hari, ia membaca pemberitaan tentang program unggulan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Di situ tertulis jelas adanya kuota keberangkatan umrah bagi para marbot. Dari sanalah hati kecilnya mulai digelitik oleh harapan kecil sebuah harapan yang ia sendiri tak berani sebutkan dengan lantang.
Tidak lama berselang, pengurus masjid meminta data dirinya. Menyusul kemudian permintaan KTP dan KK dari pihak kelurahan.
“Kata mereka, siapa tahu masuk program umrah gratis, Saya waktu itu masih belum berani percaya.”ujarnya
Hari berganti, dan kabar yang ia kira hanya akan berlalu mulai mengambil wujud. Hingga suatu sore, pengurus masjid mengetuk pintu rumahnya, membawa selembar kertas.
Itu adalah Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur. Namanya tercantum di dalamnya.
Bukhary terdiam lama. “Merinding betul saya. Sampai kayak tidak bisa ngomong.”kenangnga
Perjalanan 10 Hari yang Mengubah Arah Hidup
Pada 10 September 2025, rombongan hampir seratus marbot dari Samarinda diberangkatkan menuju Tanah Suci. Sebagian dari mereka memang sudah lanjut usia, sebagian lagi adalah marbot yang baru beberapa tahun mengabdi.
Namun bagi semua, perjalanan ini adalah peristiwa yang seolah memecahkan batas antara kehidupan harian yang sederhana dan sebuah peluang spiritual yang nyaris tak terjangkau.
“Kami cuma bayar biaya suntik dan jahit baju, itu saja. Dari Samarinda sampai pulang lagi, semuanya gratis,” kata Bukhary.
Sesampainya di Madinah, ia mengaku tak berhenti menahan air mata. Ia menggambarkan momen ketika pertama kali melihat Masjid Nabawi sebagai sesuatu yang tidak bisa diukur dengan kata.
Namun yang paling kuat membekas baginya adalah malam ketika ia melihat Ka’bah untuk pertama kali.
“Begitu masuk, kaki saya bergetar, Saya bilang dalam hati, ‘Benarkah ini saya, marbot kecil dari Samarinda, bisa lihat ini dengan mata sendiri?’”ucapnya pelan
Selama sepuluh hari, ia menjalani ibadah yang selama ini hanya ia lihat melalui televisi di ruang imam. Pada 20 September dini hari, ia kembali pulang. Tetapi pengalaman itu tinggal bersamanya melekat seperti cahaya yang terus menyala di ingatan.
Dua Belas Tahun Menjaga Pintu Masjid
Sudah 11 tahun lebih Bukhary menjadi marbot. Ia tidak pernah menghitung upah yang ia terima, tidak pernah mempersoalkan panjangnya waktu, atau banyaknya hal kecil yang harus ia tangani. Baginya, masjid adalah amanah.
“Saya pikir tugas marbot itu dunia paling sepi, Tapi dari situ saya belajar banyak hal. Bahwa membersihkan masjid juga membersihkan hati.”katanya.
Karena itu, ketika ia menerima hadiah umrah, ia menganggapnya bukan hanya keberuntungan. Ini adalah sebuah bentuk penghargaan yang selama ini tak pernah ia bayangkan datang dari mana pun.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Gubernur Rudy Mas’ud, Pak Wakil Gubernur Seno Aji, dan Pemerintah Kalimantan Timur. Semoga Allah mudahkan urusan mereka, Program ini luar biasa untuk kami para marbot.”kata Bukhary
Harapan untuk Para Penjaga Rumah Allah
Selama bertahun-tahun, kata Bukhary, banyak marbot bekerja dalam diam mengurusi atap bocor tanpa diminta, membersihkan air tumpah di sajadah tanpa diberi tahu, menjaga masjid tetap hidup setiap hari tanpa saksi.
“Banyak marbot lain yang hidupnya pas-pasan, tapi ibadahnya luar biasa, Saya berharap program seperti ini terus berlanjut.”ujarnya
Ia percaya bahwa kesempatan seperti ini bukan hanya perjalanan ibadah, tetapi bentuk penghargaan bagi perjuangan yang tidak terlihat.
Sejenak, ia menatap halaman masjid yang mulai senyap. Di sela-sela suara angin sore, wajahnya tampak mengeras menahan emosi.
“Kalau bukan dari program ini, mungkin sampai mati saya tidak pernah lihat Ka’bah,” katanya.
Hadiah yang Mengubah Arah Cerita Hidup
Bukhary kini kembali menjalani rutinitasnya membuka pintu masjid sebelum azan subuh, menyapu lantai, menata sandal jamaah. Tapi ada yang berbeda. Setiap kali ia mengunci pintu masjid di malam hari, ada rasa syukur yang lebih tebal dari biasanya.
“Program ini betul-betul luar biasa, Tidak ada kata lain,” ujarnya sambil tersenyum.
Di akhir percakapan, ia menundukkan kepala sebentar, seolah mencari kembali momen ketika ia menatap Ka’bah.
“Saya akan cerita kisah ini ke cucu saya nanti. Supaya mereka tahu, Allah bisa panggil siapa saja, lewat jalan yang tidak kita duga.”pungkasnya.
Sore itu, di teras masjid yang telah ia rawat lebih dari satu dekade, Bukhary menutup kisahnya. Seorang marbot sederhana dari Samarinda yang akhirnya melihat Ka’bah untuk pertama kalinya bukan karena uang, bukan karena kedudukan, tetapi karena sebuah program yang mengulurkan tangan ke mereka yang selama ini bekerja dalam senyap.
YANI | WONG | ADV Diskominfo Kaltim
Comments are closed.