BERITAKALTIM.CO – Memasuki periode musim kemarau, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian utama berbagai pihak terutama bagi PT Itci Hutani Manunggal (IHM), kondisi ini tidak sekadar soal kesiapan menghadapi risiko, tetapi juga bagaimana mencegahnya sejak dini melalui sistem yang terintegrasi.
Fuazi sebagai fire mandor menjelaskan bahwa upaya ini dijalankan secara menyeluruh di lapangan, mulai dari sosialisasi, patroli rutin, hingga penyiagaan tim dan peralatan salah satu yang terlibat langsung dalam implementasi ini adalah Fauzi, Fire Mandor yang telah mengabdi lebih dari satu dekade.
“Sudah kurang lebih 12 tahun saya di sini,” ujarnya pada Senin (20/4/2026).
Menurutnya, yang menjadi sorotan bukan hanya pengalaman individu, melainkan bagaimana perusahaan membangun sistem pencegahan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, sosialisasi Jadi Garda Terdepan IHM menempatkan sosialisasi sebagai langkah utama dalam upaya pencegahan karhutla. Edukasi tidak hanya menyasar karyawan internal, tetapi juga masyarakat sekitar hingga pengguna jalan yang melintas di area operasional.
“Sosialisasi terus dilakukan, baik ke karyawan, masyarakat, maupun pengguna jalan, apalagi saat musim kemarau,” katanya
Kendati demikian program ini dilakukan secara berkala melalui agenda tahunan, serta interaksi langsung di lapangan. Setiap pertemuan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran kolektif terhadap bahaya kebakaran, pendekatan yang dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan tim internal.
Siaga Penuh di Tengah Cuaca Kering
Selain edukasi, kesiapsiagaan tim fire juga ditingkatkan seiring menurunnya curah hujan. Pemantauan kondisi lingkungan dilakukan menggunakan indikator seperti Fire Danger Rating (FDR).
”Ketika cuaca menunjukkan tren kering dalam beberapa hari, status siaga langsung dinaikkan,” ungkapnya
“Kalau sudah beberapa hari tidak hujan, tim langsung siaga. Patroli dilakukan setiap hari, bahkan malam juga standby,” tambahnya
Patroli difokuskan pada wilayah rawan, termasuk area perbatasan dengan lahan masyarakat. Tujuannya, mendeteksi potensi kebakaran sejak dini sebelum meluas.
Peralatan Diperkuat, Respons Dipercepat
Untuk mendukung kesiapan operasional, perusahaan memastikan seluruh peralatan dalam kondisi optimal. Tim lapangan dilengkapi kendaraan patroli seperti sepeda motor, kendaraan operasional, mobil pemadam, hingga baby tank untuk suplai air.
Selain itu, tersedia peralatan manual dan semi-mekanis, mesin pompa air, serta perangkat pemadam portabel seperti mini striker untuk penanganan awal titik api kecil.
“Pengecekan rutin dilakukan setiap minggu, dan untuk mesin dilakukan uji fungsi setiap bulan,” ucapnya
Ia mengatakan bahwa langkah ini dinilai krusial untuk memastikan respons cepat saat potensi kebakaran mulai terdeteksi.
Libatkan Masyarakat Sekitar
Upaya pencegahan juga diperkuat melalui komunikasi aktif dengan masyarakat. Aktivitas seperti pembukaan lahan dinilai memiliki potensi risiko jika tidak diawasi dengan baik.
“Sekarang masyarakat biasanya sudah memberi informasi jika ada aktivitas di lahannya, jadi kita bisa antisipasi,” pesannya
Meski demikian, perusahaan menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik pembakaran. Pendekatan yang dilakukan lebih menekankan pada pengawasan dan pencegahan agar api tidak menyebar.
Beralih ke Pendekatan Preventif
Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bagi perusahaan untuk bertransformasi dari pendekatan reaktif ke preventif. Jika sebelumnya fokus pada pemadaman, kini pencegahan menjadi prioritas utama.
Sosialisasi yang konsisten, patroli intensif, serta kesiapan tim dan peralatan menjadi pilar utama dalam strategi tersebut. Menghadapi musim kemarau, IHM menegaskan bahwa pencegahan karhutla adalah tanggung jawab bersama.
”Keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, tetapi dari seberapa efektif potensi kebakaran dapat dicegah sejak awal,” pungkasnya.
SANDI | WONG
Comments are closed.