BeritaKaltim.Co

Empat Calon Jemaah Haji Balikpapan Tunda Berangkat, Kesehatan Jadi Prioritas Utama

BERITAKALTIM.CO-Menjelang keberangkatan musim haji 2026, persiapan calon jemaah haji asal Kota Balikpapan telah memasuki tahap akhir. Namun di tengah pemantapan data dan kesiapan keberangkatan, sebanyak empat calon jemaah dipastikan menunda perjalanan ke Tanah Suci akibat kondisi kesehatan.

Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Balikpapan, Suharto Baijuri, menjelaskan bahwa keempat calon jemaah tersebut terdiri dari dua pria dan dua wanita. Mereka dinyatakan belum memenuhi kriteria istito’ah atau kemampuan fisik untuk menjalankan ibadah haji.

“Mereka tidak bisa diberangkatkan berdasarkan rekomendasi dokter dan keluarga. Pemerintah Arab Saudi sangat ketat terkait kondisi kesehatan jemaah. Jika dipaksakan, justru berisiko bagi jemaah itu sendiri,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Meski demikian, Suharto memastikan tidak ada kursi kosong dalam kelompok terbang (kloter) pertama. Posisi empat jemaah tersebut langsung diisi oleh jemaah cadangan dari Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, sehingga kuota tetap terpenuhi.

Tahun ini, total jemaah haji asal Balikpapan mencapai 675 orang, terdiri dari 293 pria dan 382 wanita. Mereka terbagi dalam empat kloter, yakni kloter 2, 13, 15, dan 17, yang akan diberangkatkan melalui Embarkasi Balikpapan.

Embarkasi Balikpapan sendiri menjadi salah satu pusat keberangkatan penting di kawasan timur Indonesia, dengan total 17 kloter yang juga melayani jemaah dari berbagai provinsi seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Utara.

Menariknya, musim haji tahun ini juga mencerminkan keberagaman usia jemaah. Jemaah tertua dari Balikpapan tercatat berusia 80 tahun (wanita) dan 79 tahun (pria), sementara jemaah termuda berusia 18 tahun yang berangkat sebagai ahli waris menggantikan orang tuanya yang telah meninggal dunia.

Suharto mengingatkan seluruh calon jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan menjelang keberangkatan, mengingat akan ada pemeriksaan lanjutan di embarkasi sebelum masuk asrama haji.

Selain itu, jemaah juga dibekali berbagai perlengkapan penting, termasuk gelang identitas, biaya hidup (living cost), serta Kartu Nusuk yang menjadi syarat utama untuk mengakses layanan ibadah di Arab Saudi.

“Kami mengimbau jemaah agar melek teknologi. Kartu Nusuk sangat penting, sebaiknya juga disimpan di ponsel. Bagi jemaah lansia, diharapkan ada pendampingan dari jemaah yang lebih muda,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar jemaah tidak membawa barang berlebihan maupun barang terlarang, demi kelancaran proses keberangkatan.

Menutup keterangannya, Suharto menegaskan bahwa kesiapan haji tidak hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut kesiapan fisik, finansial, dan spiritual.

“Kemampuan finansial, kesehatan, dan kesiapan ibadah menjadi fokus utama, agar jemaah dapat menjalankan haji secara mandiri dan khusyuk,” tutupnya.

NIKEN | WONG

Comments are closed.