BeritaKaltim.Co

Ekonom: Perjanjian ART RI-AS segera berlaku, RI agar segera konfirmasi

BERITAKALTIM.CO – Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB University Sahara mendorong pemerintah segera memberikan konfirmasi tertulis terkait Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, mengingat waktu yang tersisa semakin terbatas sebelum perjanjian tersebut resmi berlaku.

Sahara menyampaikan perjanjian ART yang ditandatangani pada 19 Februari 2026 mulai berlaku efektif setelah 90 hari sejak kedua negara menyelesaikan seluruh prosedur hukum domestik. Dengan demikian, ruang waktu bagi Indonesia untuk merespons secara resmi kian menyempit.

“Waktu yang kita miliki untuk memberikan konfirmasi tertulis semakin sempit mengingat ART-nya juga mencakup aspek ekonomi, keamanan nasional, dan komitmen pembelian Indonesia terhadap sejumlah komoditas AS,” ujar Sahara dalam diskusi publik CORE Indonesia di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan konfirmasi resmi itu perlu dilakukan karena ART memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan perjanjian dagang konvensional seperti perjanjian perdagangan bebas (FTA) atau Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) karena mencakup aspek ekonomi hingga keamanan nasional, serta memuat komitmen pembelian sejumlah komoditas dari AS.

Sahara menjelaskan hasil pemodelan Global Trade Analysis Project (GTAP) terkait penerapan ART terhadap Indonesia melalui dua skenario simulasi.

Pada skenario pertama, ketika Indonesia dikenakan tarif resiprokal sebesar 19 persen dengan pengecualian 10 produk, pertumbuhan ekonomi diperkirakan terkontraksi sekitar 0,4 persen. Pelemahan ekspor ke AS akibat kenaikan harga relatif sebesar 19 persen serta peningkatan impor menjadi faktor utama.

Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia ke dunia diproyeksikan turun hingga 1,86 persen, sementara impor naik sekitar 1,5 persen, sehingga neraca perdagangan berpotensi menyusut 5,66 miliar dolar AS.

Adapun pada skenario kedua dengan tarif lebih rendah di kisaran 15 persen, dampak yang ditimbulkan relatif moderat. Pertumbuhan ekonomi terkontraksi sekitar 0,2 persen, dengan impor meningkat 0,4 persen.

Sahara juga menyoroti potensi risiko retaliasi atau tindakan balasan dari negara mitra dagang lain akibat komitmen pembelian dalam ART.

Salah satu contohnya adalah kewajiban impor daging sapi dari Amerika Serikat sekitar 50 ribu metrik ton per tahun, yang berpotensi menggeser impor dari Australia sebagai pemasok utama.

“Jika terjadi pengalihan pembelian, negara mitra seperti Australia bisa saja merespons dengan tindakan balasan,” katanya.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa harga sejumlah komoditas dari Amerika Serikat cenderung lebih tinggi dibandingkan negara pemasok utama lainnya, seperti China, Australia, dan Brasil, sehingga berpotensi menambah beban impor Indonesia.

Di tengah dinamika tersebut, Sahara menilai percepatan konfirmasi ART menjadi langkah awal yang penting, diikuti dengan strategi lanjutan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap perekonomian.

Ia menyarankan pemerintah untuk memperkuat diversifikasi pasar ekspor ke pasar non-tradisional, mendorong peningkatan nilai tambah produk, serta mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor melalui penguatan industri domestik.

Selain itu, efisiensi logistik dan energi serta stabilitas nilai tukar rupiah juga dinilai penting untuk menjaga daya saing di tengah tekanan global.

ANTARA | WONG

Comments are closed.