BeritaKaltim.Co

Kakak Beradik Berhaji untuk Orang Tua yang Telah Tiada

BERITAKALTIM.CO – Di aula lantai lima Kantor Bupati Nunukan, Kamis pagi itu, suasana tidak sepenuhnya khidmat. Ia bercampur dengan haru—dan sesekali, tangis yang tak lagi bisa ditahan.

Di antara deretan calon jemaah haji yang dilepas oleh Irwan Sabri, ada dua sosok yang berdiri lebih tenang, namun menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar perjalanan ibadah.

Mereka adalah kakak beradik: Andi Yakub dan Andi Nur Syafariyanti.

Ke Tanah Suci, mereka tidak hanya membawa koper dan perlengkapan ihram. Mereka membawa sesuatu yang lebih berat—amanah.

Ibadah haji sering disebut sebagai puncak perjalanan spiritual. Tapi bagi Andi Yakub dan adiknya, ini juga perjalanan untuk menyelesaikan sesuatu yang tertunda.

Ibunya telah lebih dulu tiada. Ayah mereka, kini, perlahan kehilangan ingatan akibat demensia dini. Namun satu hal yang tak pernah hilang dari keluarga itu adalah keinginan sederhana: berhaji.

Kini, mimpi itu tak lagi berada di tangan orang tua mereka. Ia berpindah—diam-diam, tapi pasti—ke pundak anak-anaknya.

Doa yang Tak Sempat Diucapkan

Di sela prosesi pelepasan, Andi Nur Syafariyanti mencoba berbicara. Suaranya pelan. Matanya basah.

Ia tahu, kata-kata itu bukan sekadar ucapan.

“Sesampainya di Tanah Suci nanti, kami ingin mendoakan ibu… dan memohon kesembuhan untuk ayah,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Tapi di dalamnya, ada kehilangan, harapan, dan cinta yang belum selesai.

Di usianya yang masih muda—ia menjadi salah satu jemaah termuda dari Nunukan—beban yang dibawanya terasa jauh lebih tua dari angka di kartu identitasnya.

Bagi banyak orang, haji adalah kewajiban. Bagi sebagian lainnya, ia adalah pencapaian.

Namun bagi dua bersaudara ini, haji adalah bentuk bakti.

Setiap langkah yang akan mereka tempuh di Mekkah nanti, bukan hanya tentang memenuhi rukun Islam. Ia adalah cara mereka berbicara kepada orang tua—yang satu sudah tak lagi mendengar, dan yang satu mulai lupa bagaimana mengingat.

Di bagian akhir acara, suasana pecah.

Tangis keluarga mengalir tanpa bisa ditahan. Pelukan terasa lebih lama dari biasanya. Seolah semua orang tahu, perjalanan ini bukan sekadar pergi dan pulang.

Di momen seperti ini, semua menjadi sama: pejabat, warga, keluarga. Semua hanya manusia yang sedang melepas orang terkasih menuju perjalanan yang tidak sepenuhnya bisa mereka jangkau.

 

Dalam sambutannya, Bupati Nunukan menyebut keberangkatan ini sebagai bentuk bakti yang luar biasa.

Tapi mungkin, ada sesuatu yang lebih dari itu.

Perjalanan haji memang melintasi ribuan kilometer. Tapi bagi Andi Yakub dan adiknya, jarak yang ditempuh jauh lebih dalam—melintasi kehilangan, keteguhan, dan cinta yang tak pernah selesai.

Dan mungkin, di antara jutaan doa yang akan dipanjatkan di Tanah Suci nanti, ada satu yang paling sunyi, tapi paling tulus:

doa dari anak-anak yang sedang menunaikan mimpi orang tuanya.

WONG

Comments are closed.