BeritaKaltim.Co

Hetifah Sjaifudian Dorong Suara Pelajar jadi Dasar Perumusan Kebijakan Pendidikan

BERITAKALTIM.CO- Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan untuk mengangkat peran penting pelajar dalam menentukan arah pendidikan. Hal ini mengemuka dalam workshop pendidikan yang digelar Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, di Hotel Novotel Balikpapan, Minggu (3/5/2026).

Kegiatan tersebut diikuti puluhan pelajar dan pemuda dari berbagai organisasi, mulai dari OSIS, forum anak, duta wisata, hingga duta genre. Berbeda dari forum pendidikan pada umumnya, workshop ini menempatkan siswa sebagai aktor utama dalam diskusi.

Hetifah menegaskan bahwa selama ini pembahasan pendidikan kerap didominasi oleh pembuat kebijakan dan tenaga pendidik, sementara suara siswa justru kurang mendapat ruang.

“Padahal mereka adalah pihak yang langsung merasakan sistem pendidikan. Mereka punya pengalaman, keluhan, bahkan ide-ide konkret yang bisa menjadi masukan penting,” ujarnya.

Menurutnya, tema “partisipasi semesta” bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, terutama pelajar sebagai penerima manfaat utama pendidikan.

Dalam forum tersebut, para peserta aktif menyampaikan gagasan, mulai dari kebutuhan fasilitas sekolah, metode pembelajaran di era digital, hingga isu kesehatan mental dan kekerasan di lingkungan pendidikan.

Hetifah menilai, kualitas gagasan yang disampaikan para pelajar cukup mengejutkan. “Artikulasi mereka luar biasa. Banyak ide yang konkret dan bisa langsung ditindaklanjuti,” katanya.

Ia berharap forum semacam ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi pintu masuk bagi keterlibatan berkelanjutan organisasi siswa dalam proses pengambilan kebijakan.

“Ke depan, organisasi siswa harus terus dilibatkan. Mereka bisa menjadi bagian dari solusi, bahkan menjadi sistem pendukung antar teman (peer support) di sekolah,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan saat ini, seperti disrupsi teknologi dan persoalan sosial di kalangan pelajar.

Dalam kesempatan yang sama, peserta dari kalangan pemuda turut menyuarakan pandangannya. Ahmad, perwakilan Duta Genre Kota Balikpapan, menilai bahwa kontribusi terhadap pendidikan tidak hanya datang dari pejabat, tetapi juga dari generasi muda sebagai pelaksana di lapangan.

“Kami juga punya tanggung jawab. Masalah pendidikan ini harus dihadapi bersama, bukan hanya berharap dari pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Anak Kota Balikpapan, Muhammad Kenny Kusuma, menyoroti masih terbatasnya ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi dan minat mereka.

Menurutnya, setiap anak memiliki bakat yang berbeda, namun belum semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Forum anak berupaya menjadi wadah agar semua anak bisa bersuara dan berkontribusi, tidak hanya di media sosial tetapi juga secara langsung di masyarakat,” katanya.

Workshop ini juga menghadirkan narasumber dari kalangan pemimpin muda, seperti Fidela Marwa dari Future Leaders Camp dan Muhammad Rohan Listyanto, Pemuda Berprestasi Kalimantan Timur.

Di akhir kegiatan, Hetifah menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama negara, sesuai amanat konstitusi yang mengalokasikan minimal 20 persen anggaran untuk sektor tersebut.

“Pendidikan adalah fondasi bangsa. Tidak boleh dikurangi, justru harus diperkuat dengan melibatkan semua pihak, termasuk generasi mudanya,” pungkasnya.

 

NIKEN | WONG

Comments are closed.