BERITAKALTIM.CO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang akan memperkuat pengawasan dan pembinaan di lingkungan sekolah setelah adanya temuan siswa yang terjaring razia dan diduga mengonsumsi minuman keras oplosan.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menyampaikan bahwa pihaknya memandang kasus tersebut sebagai persoalan serius karena menyangkut keselamatan remaja dan masa depan pendidikan siswa.
Ia menegaskan, minuman keras oplosan memiliki risiko tinggi bagi kesehatan, bahkan dalam sejumlah kasus di daerah lain diketahui menyebabkan korban jiwa.
“Minuman seperti ini sangat berbahaya bagi anak-anak. Kita tidak ingin kejadian yang lebih fatal terjadi di Bontang,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Sebagai tindak lanjut, Disdikbud akan melakukan intervensi langsung ke sekolah-sekolah terkait guna memperkuat pengawasan serta pembinaan terhadap siswa.
Menurut Safa Muha, langkah tersebut tidak hanya berfokus pada penanganan siswa yang terlibat, tetapi juga membangun sistem komunikasi yang lebih baik antara sekolah dan orang tua.
“Kami ingin sekolah dan orang tua bisa lebih aktif berkoordinasi, sehingga pengawasan terhadap anak tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan lingkungan sekitar dalam mencegah peredaran minuman berbahaya kepada anak di bawah umur. Menurutnya, penjual harus lebih bertanggung jawab dan tidak hanya mengejar keuntungan semata.
“Jangan sampai ada yang menjual barang berbahaya kepada anak-anak hanya karena alasan bisnis. Keselamatan generasi muda jauh lebih penting,” tegasnya.
Meski demikian, Disdikbud memastikan pendekatan yang dilakukan tetap mengedepankan pembinaan agar siswa yang terlibat tidak kehilangan hak untuk melanjutkan pendidikan.
“Yang terpenting, anak-anak ini tetap harus mendapatkan pendampingan dan jangan sampai putus sekolah,” tandasnya.
Lia Abdullah | Wong | ADV
Comments are closed.